Terdapat Banyak Varian Kata untuk Kegiatan “Makan” dan “Minum”

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(1)
Ternyata banyak varian kata untuk menyebut salah satu kegiatan memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar, yaitu makan dan minum. Terdapat sejumlah penyebutan tergantung pada makanan atau minuman yang sedang dikonsumsi. Atau, bisa juga dari cara melakukannya.
Misalnya kalau kita makan kuaci. Kudapan yang berupa pengeringan atau pengasinan biji semangka, atau biji waluh, atau biji bunga matahari. Ada proses penyangraian dengan penambahan aroma penyedap dan pemberian rasa gurih.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (KBBI VI Daring) terdapat lema “sisil”. Merupakan kata serapan dari bahasa Jawa. Artinya, “cara makan makanan dengan mengupas kulitnya menggunakan gigi seri atas dan bawah”. Dan, makanan yang dicontohkan untuk cara makan ini adalah kuaci.
Dari lema “sisil” bisa diturunkan sublema “menyisil” dengan distribusi peran sebagai verba atau kata kerja. Dalam tindakan ini ada proses pembukaan kulit kuaci dengan cara digigit dengan gigi seri atas dan bawah, sehingga terbuka dan bijinya pun bisa dimakan.
(2)
Lalu, kalau kita tengah menikmati kuah sup, seperti sup sayuran, sup jagung, sup buntut atau iga sapi, dengan ramuan bumbu pala, lada, bawang merah dan putih. Makan sup berarti mencakup kuah beserta isiannya.
Dalam budaya Jepang dengan sup miso, kuah merupakan bagian penting dari proses pengalaman menikmati kelezatan masakan dari Negeri Matahari Terbit yang terbuat dari fermentasi kedelai dengan campuran kaldu dashi.
Dashi ini merupakan rebusan rumput laut kering (kombu) dan serutan ikan cakalang kering (katsuobushi). Ada juga yang menggunakan jamur shiitake kering atau ikan teri kecil kering (niboshi).
Menikmati sup, apa pun jenisnya, dalam bahasa Indonesia ada kata yang merepresentasikan kegiatan tersebut. Kata “menyeruput” bisa berarti menyendok kuah dan isian sup dan kemudian mengisapnya (menarik masuk ke dalam mulut) dari sendok seraya mengunyahnya.
Kata “menyeruput” juga untuk menyebut orang yang sedang minum teh atau kopi dalam kondisi masih panas. Tindakan ini bisa dilakukan dengan bantuan sendok. Atau, yang lebih sering dengan mendekatkan bibir gelas atau cangkir ke mulut. Atau lagi, bisa pula dituangkan ke lepek (piring kecil alas cangkir atau gelas) untuk kemudian diseruput.
(3)
Keripik kentang, singkong, pisang biasanya dimakan dengan cara dikerikiti, dimakan sedikit demi sedikit. Begitu pula dengan daging kambing atau sapi yang masih menempel pada tulang saat menjadi gulai, cara makannya adalah dengan mengerikiti, memakan sedikit demi sedikit.
Hampir sama dengan “mengerikiti” adalah “menggerogoti”. Suatu tindakan memakan sesuatu secara sedikit demi sedikit secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Biasanya secara harfiah, subjek pelakunya bukan manusia, melainkan binatang.
Misalnya tikus yang menggerogoti beras di gudang penyimpanan. Tidak saja menimbulkan kerugian secara ekonomi. Akan tetapi, dengan cara menggerogoti itu juga mencemari persediaan beras dengan urine, feses, dan rambutnya.
Kata “menggerogoti” untuk subjek pelaku manusia lebih lazim terkait dengan makna kiasan. Tindakan atau perkataan seorang bawahan yang tidak jujur, sedikit demi sedikit dapat “menggerogoti kepercayaan” atasan terhadap dirinya.
Gaya hidup seseorang yang boros dapat “menggerogoti keuangan” hasil warisan deposito dan tabungan milik orang tuanya. Kebiasaan buruknya mengonsumsi minuman keras dapat “menggerogoti kesehatannya”. Intrik politik penguasa yang menimbulkan ketidakpuasan rakyat dapat “menggerogoti kekuasaannya”.
Masih terkait dengan tindakan makan dalam jumlah sedikit. Ada kata “mengecap”, menurut KBBI VI Daring, salah satu artinya mencoba rasa masakan apakah sudah enak atau belum. Masih kurang garam atau bumbu lainnya. Bisa pula berarti “mencicipi”.
(4)
Berbeda jika saat memakannya dengan suapan yang sebanyak mungkin. Biasanya ini dilakukan oleh orang yang sedang lapar. Terdapat lema “lahap” dalam KBBI VI Daring. Setelah menjadi sublema “melahap”, salah satu artinya “makan banyak-banyak”.
Satu frekuensi dengan “melahap” adalah “mengganyang”. Arti yang disampaikan KBBI VI Daring, untuk sublema ini, yaitu “makan mentah-mentah; makan apa adanya”. Ada yang menafsiri sebagai deskripsi tentang cara makan yang sangat bernafsu. Dan, tentunya tiap suapan berjumlah banyak.
Kegiatan makan yang tidak menyisakan sedikit pun makanan, orang lazim menyebutnya “menyikat”. Acapkali dipadukan dengan kata “habis” untuk penegasan arti. Dalam kelas verba yang mengusung arti kiasan, KBBI VI Daring, salah satunya menandai dengan keterangan “menghabiskan sama sekali”. Alias menghabiskan dengan tanpa sisa.
(5)
Masih ada lagi verba yang pada substansinya terkait dengan tindakan makan. Ada kata “menelan” makanan tanpa mengunyahnya terlebih dahulu. Pilihan makanan yang bisa langsung ditelan, seperti bubur, kentang tumbuk, buah-buahan yang dihaluskan.
Lalu ada kata “mengenyam” yang bertalian dengan tindakan merasai kelezatan suatu masakan. Seorang penggemar sayur tumpang misalnya, merantau di suatu negara yang tidak mengenal masakan itu. Lalu saat berpuluh tahun kemudian, pulang ke daerah asalnya. Dan, akhirnya ketemu sayur tumpang. Dia pun bisa berkata, “Sudah lama sekali aku tidak mengenyam sayur tumpang.”
Ada lagi kata “mencaplok”. Kalau yang ini binatanglah yang biasa melakukannya. Menurut KBBI VI Daring, yang berarti “menangkap dengan mulut dan kemudian menelannya bulat-bulat”. Seperti buaya mencaplok ikan, burung, dan reptil kecil. Atau, seperti ular mencaplok tikus, burung, katak, kadal. ***
