Ternyata Alat Kerokan Itu Bervariasi

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kerokan. Ada oranya yang menyebutnya dengan varian kata kerikan. Sebutan untuk cara pengobatan tradisional dengan menggunakan mata uang logam untuk menggosok ke sejumlah bagian tubuh, seperti tengkuk leher, dada, punggung, lengan tangan, juga kaki. Untuk mengurangi rasa sakit, biasanya terlebih dahulu ada pengolesan dengan balsam atau minyak goreng secukupnya tiap kali mengawali proses pengerokan.
Dahulu, semasih persediaan minyak tanah berlimpah, ada juga orang yang memanfaatkannya. Kata mereka, kira-kira efek rasanya lebih garang meradang. Di samping itu, ada pula yang menggunakan minyak kayu putih, minyak telon, minyak tawon, minyak zaitun, dan losion. Tergantung pada kebiasaan.
Dengan olesan balsam di tubuh sentuhan kehangatan pun segera terasakan. Adapun pengolesan dengan minyak goreng, lebih berfungsi untuk sekadar mengurangi rasa sakit saat sisi mata uang logam mengenai tubuh saat proses pengerokan berlangsung. Mata uang logam, sejauh yang saya cermati sejak masih kecil hingga kini sudah mencapai adiyuswa, memang merupakan alat yang paling sering menjadi bagian dari proses pengobatan tradisional ini.
Kalau ada variasi alat, dahulu sebatas yang saya ketahui, paling hanya berupa bawang merah yang dikupas dan dipotong ujungnya. Itu diperuntukkan bagi anak-anak yang masih kecil, di bawah usia tiga atau lima tahun. Kulit mereka masih terlalu lembut untuk dikeroki dengan mata uang logam. Bawang merah itulah yang menjadi pengganti mata uang logam untuk keperluan kerokan. Dan, biasanya minyak telon yang dioleskan sebelum proses pengerokan dengan bawang merah dilakukan. Ini pernah saya lakukan saat si sulung masuk angin. Kala itu usianya belum genap tiga tahun.
Potongan Jahe
Pada kemudian hari, saya mendengar dari obrolan ringan sehari-hari dengan sejumlah rekan, ternyata potongan jahe juga bisa untuk kerokan. Tentu saja potongan jahe itu telah dibersihkan dari kotoran dan kuman sehingga dapat dihindari iritasi kulit. Minyak telon atau kayu putih bisa dioleskan di bagian tubuh yang hendak dikeroki atau digosok dengan potongan jahe itu. Dan, sensasi kehangatannya dapat segera terasakan.
Proses pengerokan, seperti halnya dengan alat mata uang logam dan potongan bawang merah, gerakannya searah dengan tekanan yang tidak terlalu keras. Soal penekanan ini memang tergantung pada kebiasaan tiap individu. Ada yang nyaman saja saat dikeroki dengan penekanan yang relatif kuat. Bahkan kalau terlalu lemah, justru yang bersangkutan tidak merasa maksimal. Namun, saya setuju jika tekanannya hingga timbul iritasi, tentu harus dihentikan.
Perlu dihindari pengerokan di atas tulang. Ada tiga alasan. Pertama, kulit di atas tulang lebih tipis sehingga rentan iritasi dan luka karena gesekan (terutama dengan sisi pinggir mata uang logam). Kedua, pembuluh darah area di atas tulang lebih dekat dengan permukaan kulit. Oleh karena itu, kerokan di area ini dapat menyebabkan pembuluh darah kecil pecah. Bisa juga memicu memar atau bahkan pendarahan.
Ketiga, kerokan di atas area tulang, terlebih lagi tulang belakang, bisa menimbulkan rasa sakit yang lebih intens. Keadaan bisa lebih memburuk manakala terdapat masalah pada tulang atau jaringan di sekitarnya. Hal yang terjadi akibat kerokan di sekitar tulang belakang, teristimewa di dekat saraf, berisiko mencederakan serabut saraf.
Tanduk Kerbau
Dalam perjalanan waktu, saya pun kemudian mengetahui, alat untuk kerokan dapat menggunakan tanduk kerbau. Biasanya telah mengalami proses penghalusan dan pembentukan yang menyamankan saat pemakaian. Ketika terkena kulit tidak menimbulkan hal-hal yang berada di luar keinginan. Modifikasi bentuk bisa oval, menyerupai koin. Bisa pula dibiarkan dalam bentuk aslinya.
Tanduk kerbau sebagai alat kerokan dapat menghadirkan khasiat pijatan dan sekaligus gosokan pada kulit yang mengasyikkan bagi pencinta cara pengobatan tradisional itu. Tentu saja dengan iming-iming bisa mengondisikan peredaran darah yang lancar dan serangan nyeri pada otot pun dapat mereda.
Penggunaan tanduk kerbau sebagai alat kerokan sudah bermula sejak cara pengobatan tradisional ini pertama kali muncul sebagai temuan di Tiongkok pada abad ke-5 Masehi. Di sana, nama cara pengobatan tradisional kerokan adalah gua sha. Istilah ini dipertahankan, saat cara pengobatan tradisional ini pengaruhnya menghampiri Jepang dan Korea. Ketika masuk Vietnam, istilah setempatnya adalah cao gio. Manakala mampir ke Kamboja, dikenal dengan goh kyol.
Batu Giok
Batu giok sebagai alat kerokan memiliki kelebihan pada teksturnya yang halus dan dingin. Potensi dasar ini lebih mampu menyumbangkan sentuhan efek yang meredakan dan menyamankan ketegangan otot. Pendek kata, ia menghadiahkan sensasi relaksasi. Bisa jadi, ini merupakan bagian dari efek plasebo. Perasaan nyaman dan lega yang mendapat dukungan kepercayaan pada khasiat batu giok.
Tidak sedikit orang yang menggantungkan kepercayaannya, selain bisa menjadi alat kerokan, batu giok juga memiliki beberapa manfaat bagi kesehatan. Di sinilah, efek plasebo itu memainkan perannya dalam perspektif mitos. Adapun manfaatnya, konon menurut orang yang memercayainya, batu giok dapat memperlancar peredaran darah, mencegah serangan jantung, menghilangkan racun, meningkatkan kekebalan tubuh, dan meningkatkan metabolisme tubuh.
Kelereng
Kelereng pun ternyata bisa meraih fungsinya sebagai alat untuk kerokan. Cara pakainya seperti alat lain. Terlebih dahulu dioleskan minyak kayu putih, atau minyak telon, atau minyak tawon, atau minyak goreng, losion, balsam, lalu digosokkan di tubuh dengan alat kelereng ini. Tentu saja dengan gerak searah dan tekanan sesuai dengan kebutuhan.
Tentu saja kelereng yang digunakan benar-benar halus serta bersih. Dengan dipegang dua jari, selain dikerokkan juga bisa dipijatkan di bagian tubuh yang sakit sesuai dengan arah otot. Seperti proses dengan alat yang lain, pengerokan bagian tulang juga dihindari, terutama tulang belakang. Setelah selesai kerokan, sisa minyak, losion, atau balsam seyogianya dilap dengan handuk. Ada jeda waktu untuk beristirahat. Perlu dihindari langsung mandi dengan air dingin setelah kerokan, karena tubuh masih dalam kondisi panas. Kecuali, kalau air hangat yang digunakan untuk mandi.
Masih terpatri di ingatan saya. Sewaktu kecil dahulu, kira-kira masih di bawah lima tahun (balita), Papi saya almarhum (beliau meninggal pada tahun 1980, saat saya kelas 9), menggunakan sendok makan dari stainless steel yang tebal sebagai alat kerokan saat saya masuk angin. Beliau menggunakan sisi halus dari kepala sendok itu. Dengan, olesan minyak goreng atau ada yang menyebutnya minyak kelapa, proses kerokan itu sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit. ***
