"The End of The World” Bukan Sekadar Lagu Patah Hati

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“The End of The World”-nya Skeeter Davis populer sebagai lagu hit crossover pop pada 1963. Berbicara tentang kisah sedih di baliknya, memang tidak setragis kisah yang menjadi pemicu kreativitas Eric Clapton untuk menciptakan “Tears in Heaven”.
Eric mesti kehilangan untuk selama-lamanya sang putra terkasih, Conor Clapton, akibat kejadian memilukan pada 20 Maret 1991. Bocah lelaki berusia empat tahun itu terjatuh dari jendela apartemen lantai ke-53 di New York City. Karya yang begitu personal bagi Eric itu kemudian rilis pada 1992 dan meraih Grammy Awards 1993 untuk Song of the Year dan Record of the Year.
Hampir 30 tahun sebelumnya, Sylvia Dee pada 8 Juni 1962 telah menulis lirik lagu “The End of The World”. Aransemen musiknya pun telah selesai di tangan penggarapan komposer Arthur Kent. Setelah itu, penyanyi country Amerika Serikat, Skeeter Davis, menjalani proses perekaman lagu tersebut di RCA Studios, Nashville.
Kemudian Desember 1962, lagu tersebut resmi bergerak rilis menghampiri publik dengan label RCA Records. Dan, pada Maret 1963, lagu tersebut mampu menggapai puncak popularitasnya serta sukses tampil sebagai petarung andal di jajaran posisi bergengsi pada berbagai tangga lagu internasional pada kala itu.
Sekalipun beban kisah nyata yang mendorongkan tenaga kreativitas tidak setragis lagu Eric Clapton tadi, keduanya sama-sama beranjak dari rasa kehilangan orang tercinta masing-masing.
Bila Eric menulis lirik dan menyanyikan lagu “Tears in Heaven” karena kehilangan putranya tercinta, maka Sylvia Dee menulis lirik juga sebagai ungkapan kesedihan karena kehilangan ayahandanya yang tercinta di masa kecilnya.
Sisi Menarik
Sisi menarik dari lirik lagu “The End of The World” hasil tulisan Sylvia Dee, yaitu bisa menerima dua perspektif pandangan. Pertama, sesuai dengan sisi perspektif yang menggambarkan isi hati yang sebenarnya dari penulis lirik tentang perasaannya sebagai anak perempuan ketika masih kecil harus kehilangan sang ayah. Ketika dia berada dalam usia yang begitu membutuhkan kehadiran her beloved daddy.
Begitulah Sylvia Dee. Penulis lirik lagu “The End of The World”. Nama pena dari Josephine Moore (22 Oktober 1914 - 12 Juni 1967). Dia membuka rintisan jalan karier kepenulisannya dengan berkarya cerita pendek di surat kabar lokal terbitan Kota Rochester, Negara Bagian New York.
Dee bergabung dengan American Society of Composers, Authors, and Publishers (ASCA) pada 1943. Dee berkolaborasi dengan banyak komponis tersohor, antara lain Arthur Kent dan Sidney Lippman. Dee pernah pula menulis naskah teater untuk pertunjukan musikal komedi Broadway, yaitu Barefoot Boy with Cheek (1947).
Sylvia Dee juga menulis novel. Paling terkenal And Never Been Kissed (1949). Genre fiksi remaja. Begitu populer hingga mengalami pengadaptasian ke dalam program Philco Television Playhouse. Dan, ada pengubahan menjadi naskah drama panggung tiga babak yang tersaji sebagai pertunjukan di sekolah menengah.
Selain itu, novelnya yang lain dan relatif populer pada eranya, yakni Dear Guest and Ghost (1950). Bercerita tentang satu keluarga di Staten Island yang ketamuan hantu veteran Perang 1812. Juga sukses mengalami pengadaptasian ke dalam program televisi. Lalu There Was a Little Girl (1951) yang bergenre novel fiksi remaja.
Sebagai penulis lirik lagu, Sylvia Dee juga pernah menulisnya untuk Nat King Cole lewat “Too Young“. Lagu yang mendapatkan realisasi proses perekaman pada Februari 1951 ini, memperoleh posisi di peringkat pertama di tangga Billboard pada Juni 1951 dan bertahan hingga lima minggu hingga Juli 1951. Majalah Billboard menobatkannya sebagai Lagu Terbaik Sepanjang Tahun 1951.
“Too Young” berbicara tentang respons para remaja yang merasakan kisah cinta mereka yang cenderung mendapatkan pengecilan maknanya dari orang-orang yang lebih dewasa. Ada anggapan pasangan muda masih belum cukup waktu untuk bisa memahami makna cinta sejati.
Lewat lagu ini, pasangan muda itu hendak membuktikan, perasaan mereka tulus. Mereka berjanji untuk tetap bersama demi menunjukkan hubungan asmara mereka bukanlah sekadar cinta monyet.
Juga lagu “Bring Me Sunshine”, Sylvia Dee bersama Arthur Kent menulisnya pada 1966. Bagi komedian Britania Raya, Morecambe dan Wise, lagu yang mereka adopsi pada 1969 tersebut lebih daripada sekadar pembuka acara.
Akan tetapi, telah menjadi semacam “kontrak emosional” dengan para penontonnya. Lagu ini merepresentasikan komitmen mereka untuk menyuguhkan hiburan keluarga yang murni menyenangkan hati.
“Bring Me Sunshine” merupakan lagu yang irama dan liriknya riang gembira itu menjadi lagu tema ikonis duo komedian legendaris Britania Raya tersebut. Lagu ini hadir merengkuh harapan, kegembiraan, dan optimisme. Sekaligus merangkul kehangatan dan persahabatan yang menjadi ciri khas performa keduanya.
Dan, tentu saja lagu “The End of The World”, yang menjadi fokus pembahasan tulisan ini. Pelantun lagu ini Skeeter Davis. Nama panggung Mary Frances Penick (30 Desember 1931 - 19 September 2004), penyanyi musik country Amerika Serikat. Salah seorang wanita yang paling awal mencapai superstardom sebagai vokalis solo di genrenya.
Berdasarkan perspekttif pertama, “The End of The World”, keberangkatan penciptaannya berasal dari kesedihan hatinya, karena sejak kecil sang penulis lirik lagu, Sylvia Dee, sudah kehilangan sang ayahanda.
Seorang letnan Angkatan Udara Amerika Serikat yang wafat saat bertugas dalam Perang Dunia I. Dee memanfaatkan trauma masa silamnya sebagai pendirus inspirasi utama guna membentuk suasana melankolis yang tertanam di lagu tersebut.
Secara psikologis, kehilangan ayah untuk selama-lamanya pada waktu seseorang masih kecil, memang bisa menimbulkan trauma masa lalu. Kepergiaan figur penting dari diri seseorang, terlebih manakala yang bersangkutan masih begitu membutuhkan dekapan kasih sayang dan perhatiannya, tidak bisa terkatakan lain kecuali merupakan peristiwa yang sungguh menyakitkan hati.
Tatkala peristiwa kehilangan figur penting di masa kecil itu terjadi, tidak jarang menorehkan luka psikologis mendalam. Atau, dapat pula memicu syok yang sulit mengalami pemrosesan dengan akal sehat dan mengganggu kestabilan emosi hingga ketika menginjak usia dewasa.
Pengalaman demikian boleh terkatakan valid berada dalam kategori trauma masa silam. Dan, Sylvia Dee menemukan bentuk kanalisasi diri yang positif. Menyalurkan rasa duka cita mendalam itu dengan menulis lirik lagu.
Perspektif Alternatif
Pemahaman dari sisi perspektif alternatif (kedua) lagu “The End of The World” yang mencuat ke puncak popularitasnya pada tahun 1963, berkat kontribusi vokal Skeeter Davis, lirik hasil karya Sylvia Dee, dan tatanan melodi musiknya dari Arthur Kent (2 Juli 1920 - 26 Januari 2009), komponis, pianis, guru musik yang memiliki nama tengah Lawrence itu. Hal itu juga dapat terarahkan pada strategi penyajian yang lebih dapat berterima bagi khalayak penikmat dengan cakupan yang lebih luas.
Dengan hanya berdasarkan pada teks lirik saja, dan “membiarkan” informasi dari soal dorongan inspirasi pribadi Sylvia Dee tentang kehilangan ayahandanya pada waktu kecil berada pada perspektif orisinal (pertama).
Lagu ini pun bisa hadir dalam pemahaman perspektif alternatif (kedua) sebagai lagu sendu tentang kisah asmara yang kepak sayapnya terpatah. Lagu tentang seseorang yang mesti menerima kenyataan, kekasih tercinta memutuskan untuk memungkasi jalinan hubungan.
Untuk masuk ke dalam substansi pemahaman yang lebih dekat, perlu kiranya kita mencermati lirik lagu “The End of The World” dan menegaskan bahwa ia bisa mendapatkan sorotan pembahasan dari dua sisi perspektif tersebut. Berikut kutipan bait demi bait lagu tersebut.
//Why does the sun go on shining?/ Why does the sea rush to shore?/ Don't they know it's the end of the world?/ 'Cause you don't love me anymore//
(//Kenapa mentari masih saja bersinar?/ Kenapa air laut menghampiri pantai?/ Tidakkah mereka tahu, dunia telah berakhir?/ Karena kau tidak lagi cinta padaku //)
//Why do the birds go on singing?/ Why do the stars glow above?/ Don't they know it's the end of the world?/ It ended when I lost your love//
(//Kenapa burung-burung masih saja berkicau?/ Kenapa bintang-bintang di langit malam bercahaya?/ Tidakkah mereka tahu, dunia telah berakhir?/ Terhenti ketika aku kehilangan cintamu//)
//I wake-up in the morning, and I wonder/ Why everything's the same as it was/ I can't understand,/ No, I can't understand/ How life goes on the way it does//
(//Aku terbangun di pagi hari, dan bertanya-tanya/ Kenapa segalanya tampak sama seperti sebelumnya/ Aku tidak mengerti,/ Tidak, aku tidak dapat mengerti/ Kehidupan terus berjalan seperti biasa//)
//Why does my heart go on beating?/ Why do these eyes of mine cry?/ Don't they know it's the end of the world?/ It ended when you said, "Good-bye"//
(//Kenapa jantungku masih terus berdetak?// Kenapa tangis masih terurai di kedua mataku?/ Tidakkah mereka tahu, dunia telah berakhir?/ Berakhir saat kau berkata, “Selamat Tinggal.”//)
//Mmm, mmm, mmm, mmm/ (Why do these eyes of mine cry?)/ Mmm, mmm, mmm/ Don't they know it's the end of the world?/ It ended when you said, "Good-bye"//
(//Mmm, mmm, mmm, mmm/ (Kenapa tangis masih terurai di kedua mataku?/)/ Mmm, mmm, mmm/ Tidakkah mereka tahu, dunia telah berakhir?/ Berakhir saat kau berkata, “Selamat Tinggal.”//).
Sejumlah larik, seperti Cause you don't love me anymore, It ended when I lost your love, atau It ended when you said, "Good-bye”, cenderung menggiring ke impresi bahwa lirik lagu itu terjadi pada sejoli pemuda dan gadis yang semula saling mencinta.
Dalam perjalanan kisah cinta mereka itu, kemudian timbul perselisihan, dan seorang di antara keduanya memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Lalu seorang yang lain, yang masih memendam asmara walau tidak lagi utuh serta belum bisa menerima keputusan perpisahan itu, merasakan dalam batinnya bahwa seolah dunianya sudah berakhir.
Bisa jadi penonjolan pada perspektif alternatif atau perspektif kedua ini merupakan bagian dari strategi bisnis dalam industri musik agar “The End of The World” lebih mudah berada dalam rengkuh penerimaan publik dan mempunyai daya pikat universal. Ia sedikit menggeser perspektif pertama, tentang trauma masa lalu si penulis lirik, Sylvia Dee, karena semasa kecilnya kehilangan her beloved daddy.
Terlebih lagi, upaya penggeseran ke arah perspektif yang lebih cair, ringan, dan menjadi harapan sebagian besar publik pencinta musik pada masa itu memang bergayung sambut dengan ekspresi lazim remaja atau anak muda ketika merespons hubungan cintanya yang kandas.
Bisa jadi ini sudah menjadi cakrawala harapan, ketika publik kawula muda hendak menikmati lagu pada waktu itu.
Ungkapan kesedihan setelah menerima pemutusan secara sepihak, terutama di pihak gadis, sebagai akhir dari segalanya dengan menganggapnya the end of the world (kiamat) atau the doom (malapetaka) adalah sangat lazim, valid, dan sangat kental pada era 1960-an dalam budaya Barat.
Boleh terbilang, ungkapan seperti itu bukan sempadan ekspresi puitis, melainkan lebih merupakan respons psikologis yang riil tatkala seseorang mengalami rasa kehilangan.
Para remaja atau anak muda yang hidup pada dekade 1960-an berada pada era yang meletakkan anggapan, bahwa romansa merupakan pencapaian hidup yang utama.
Berlainan jauh dari dinamika hubungan asmara di masa kini yang lebih terkontrol secara emosional. Bahkan ada kecenderungan mendesakralisasi cinta sejati. Dalam artian, itu bukan segala-galanya. Dan, lebih berpihak untuk menyerahkan restu penyatuannya pada perjalanan proses semesta.
Akan tetapi, bagi para remaja atau anak muda yang hidup pada dekade 1960-an, reaalitas kehilangan cinta sungguh mendekati perasaan kehilangan seluruh fondasi untuk melangkah menuju ke masa depan. Lagu atau novel populer pada era itu, sebagai media budaya memupuk narasi bahwa menemukan cinta sejati merupakan tujuan hidup seseorang.
Manakala sayap-sayap cinta itu terpatah, terjadilah disonansi kognitif. Suatu kondisi psikologis ketika perasaan kurang nyaman atau stres mental. Hal ini dapat memicu keputusasaan mendalam dan perasaan terisolasi, seolah-olah seluruh tujuan hidup hancur berkeping-keping seketika.
Berlandaskan tinjauan psikologi, rasa kehilangan yang begitu menderakan keputusasaan akan mengguncangkan gangguan pada pemikiran rasional seseorang.
Dengan demikian boleh terbilang, memandang realitas putus cinta seolah seperti akhir dunia bagi diri seseorang merupakan bentuk mekanisme upaya pertahanan diri yang wajar. Terlebih tatkala rasa sakit yang menusuk begitu melumpuhkan semangat hidup.
Pikiran seseorang mereaksi rasa sakit emosional ekstrem dengan cara mirip merespons ancaman fisik. Menempatkan situasi pada “akhir dunia” terkadang bisa menjadi cara otak merasionalisasi kehancuran perasaannya pada saat kejadian berlangsung.
Ada semacam validasi rasa sakit, dengan pembenaran bahwa patah hati bukan hal sepele. Ada rasa sakit yang riil, memadamkan cahaya gairah hidup, dan membutuhkan ruang untuk merasakan tanpa perlawanan yang sepenuh frontal. Lebih pada pilihan untuk berdamai, berkompromi.
Memandangi perpisahan yang menduduki takhta “akhir dari segalanya” sesungguhnya merupakan tahapan transisi. Ketika seseorang menerima secara ikhlas bahwa “dunia lama” telah berakhir, itu berarti seseorang itu secara perlahan mulai membuka diri untuk membangun realitas yang lebih kokoh bagi kebaikan dirinya di atas “dunia baru”.
Sekarang yang menimbulkan pertanyaan, di manakah letak perspektif pertama? Trauma masa kecil Sylvia Dee yang kehilangan ayahnya? Ada teori yang menandaskan, bahwa hal ini menjadi landasan dasar emosional penciptaan lirik lagu “The End of The World”.
Walaupun kemasan liriknya lebih menyerupai lagu patah hati universal, tidak dapat termungkiri esensi penderitaan dan kebingungan batin Sylvia Dee di saat usia muda remajanya akibat hunjaman duka tersebut telah menjadi fondasi kokoh yang menjadi “jiwa” dari lagu itu. Kematian ayahnya mengantarkan Sylvia Dee pada raihan pengalaman emosional ihwal apokaliptik dan kesedihan.
Sylvia Dee tidak menghilangkan sepenuhnya muatan trauma masa kecilnya. Dia berkolaborasi dengan komponis Arthur Kent menyamarkan trauma akibat kematian ayahandanya itu menjadi tema patah hati yang romantis. Dengan tujuan, agar esensi kehilangan itu dapat lebih mudah berada dalam jangkauan reseptif dan apresiatif khalayak penikmat yang lebih luas.
Sang pengusung lagu “The End of The World” ke puncak popularitas, Skeeter Davis, pun turut mengunyah resonansi emosional. Dia meresapi dan menyanyikan lagu itu untuk mengenang kepergian Betty Jack Davis, sahabat dan rekan duetnya dalam duo The Davis Sisters. Yang meninggal akibat kecelakaan mobil beberapa waktu sebelumnya.
Begitulah adanya “The End of The World” menempati posisi khusus dengan memberada di dalam ranah genre Country-Pop dan Easy Listening. Adapun pendekatan aransemennya memanfaatkan gaya Nashville Sound atau Countrypolitan. Mengombinasikan vokal country dengan sentuhan pop yang lebih halus dan orkestral. Salah satu pelopor crossover hit pada masanya yang sukses secara bersamaan melenggang ke puncak tangga lagu Pop, Country, dan R&B 1963.
