Konten dari Pengguna

Wah, Ternyata Banyak Juga Kata Jepang Terserap di Kamus Besar

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 14 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kreasi Gemini AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Secara tidak terduga, ketika mencari bahan untuk sebuah tulisan, saya menemukan kata “umami”. Struktur bunyinya mengingatkan saya pada kalimat “Aishiteru” (アイシテル). Pelafalan sederhananya: Ai-shi-te-ru. Maknanya: “aku cinta padamu” dalam konteks yang serius, romantis, dan mendalam. Biasanya hanya untuk momen melamar dalam pernikahan atau hubungan jangka panjang yang sangat matang.

Sementara itu kalimat “Anata ga suki desu” (あなたが好きです). Pelafalannya “A-na-ta ga su-ki desu”. Ini ungkapan perasaan suka yang ringan, sopan, dan tidak terlalu menekan. Pernyataan ini sopan dan hati-hati. Cocok untuk tahap penjajakan, untuk melihat respons si dia. Bentuk ketertarikan murni dan jujur serta tidak tergesa menuntut jalinan komitmen. Bisa pula hanya sebatas rasa kagum.

Tentang “Umami”

Dugaan saya tidak terlalu meleset. Kata “umami” ternyata memang betul berasal dari bahasa Jepang. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (KBBI VI Daring) memberikan informasi yang menguatkan dugaan tersebut.

Tangkapan layar dengan pengubahan warna dasar merah hasil kreasi Meta AI.

Dari tangkapan layar di atas, terdapat lema “umami” dengan dua pilihan makna leksikal. Pada pilihan pertama terdapat kode “n” yang merujuk “nomina” (kelas kata). Kemudian ada kode “Jp” yang merujuk asal kata ini dari bahasa Jepang. Dan, ada lagi kode “Gz” yang menginformasikan, bahwa kata ini merupakan bagian dari Ilmu Gizi. Cabang ilmu yang mempelajari relasi antara asupan makanan, zat gizi (nutrisi) dan kesehatan tubuh manusia.

Oleh karena itu, menjadi tidak terlalu mengherankan, jika paparan makna dari lema “umami”, tidak jauh dari kualitas rasa dari suatu masakan, yaitu rasa gurih yang timbul berkat adanya monosodium glutamat (MSG), asam amino, protein, dan ribonukleotida. Demikianlah “umami”, ia merupakan salah satu dari lima rasa dasar, di samping manis, asam, asin, dan pahit.

Dengan demikian, “umami” sering berada di ranah rasa gurih. Ada sentuhan lezat atau “berdaging” yang berasal dari asam amino glutamat. Secara etimologis, berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Jepang, yaitu “umai” (うまい) bermakna “enak” atau “lezat” dan kata “mi” (ミ), bermakna “rasa”. Kemudian Dr. Kikunae Ikeda (8 Oktober 1864 - 3 Mei 1936), dari kedua kata tersebut membentuk konsep istilah “umami” (うまみ) pada tahun 1908.

Profesor Bidang Kimia dari Tokyo Imperial University, Jepang itu mampu mengidentifikasi senyawa asam amino glutamat dari kaldu rumput laut (kombu). Ikeda sukses mengambil dan memurnikan zat rasa (asam glutamat) dari bahan makanan aslinya (rumput laut kombu), sehingga menjadi kristal murni untuk keperluan bumbu dapur.

Ikeda memanfaatkan kaldu dari rumput laut jenis kombu yang secara tradisional menjadi cara untuk menghadirkan rasa gurih yang khas dalam masakan Jepang. Lewat proses ekstraksi kimia, dia memisahkan molekul asam glutamat dari kandungan air, serat, dan nutrisi lain yang terkandung dalam rumput laut tersebut.

Sebagai hasil akhir, Ikeda memperoleh bentuk murni dari asam glutamat. Berupa kristal untuk keperluan bumbu dapur guna keperluan penyedap masakan. Berdasarkan hasil penemuan tersebut, Ikeda selanjutnya mematenkan dan mengembangkan menjadi MSG atau yang biasa dikenal sebagai micin. Ada pula yang menamainya vetsin.

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Kata “umami” resmi masuk ke KBBI V Daring pada Oktober 2016, bertepatan dengan upaya pemutakhirannya pada edisi tersebut. Kata ini mengalami penyerapan penuh (adopsi) dari bahasa Jepang. Istilah ini kerap muncul di bidang gastronomi. Seni dan ilmu yang mempelajari segala sesuatu yang terkait dengan makanan dan minuman. Cakupannya meliputi aspek sejarah, budaya, seni penyajian. Dan, termasuk pula pengetahuan di balik pengolahannya.

Kata “umami” juga lazim ditemui dalam Ilmu Pangan (Food Science). Menjadi wadah penerapan prinsip-prinsip sains dasar, seperti Biologi, Kimia, Fisika, dan Mikrobiologi. Dengan paduan sejumlah disiplin ilmu perteknikan. Penerapan ini bergerak menuju ke tujuan untuk pengolahan hasil panen sehingga dapat tampil sebagai produk yang aman, gizi terjamin, dan ada nilai tambahnya.

Ilmu perteknikan yang mendukung performa kualitas hasil panen tersebut, yaitu Teknik Kimia yang bertalian dengan proses pengawetan, pengekstrasian, pemfermentasian, dan pengolahan. Lalu dengan Teknik Pertanian berkaitan dengan penanganan pascapanen, pengeringan, dan penyimpanan.

Selanjutnya dengan Teknik Mesin dan Industri mencakup perancangan mesin pengolah makanan, sistem pendinginan (refrigerasi), dan upaya pengontrolan kualitas produksi. Tidak kalah penting Teknik Pengemasan guna menentukan material dan metode yang dapat memperpanjang usia simpan suatu produk.

Kata “umami” pun berhubungan akrab dengan jagat kuliner. Segala hal yang bertalian dengan aktivitas masak-memasak, pengolahan bahan makanan, hingga penyuguhan sajian. Cakupannya bisa menyentuh hasil olahan makanan atau minuman dan acapkali mendapat pengaitan dengan tradisi, budaya, dan gaya hidup masyarakat.

Rasa “umami” banyak berada pada makanan yang mengalami proses fermentasi, pematangan, atau pengeringan. Contoh keju tua, kecap, pasta miso, terasi, tomat, jamur (terutama shiitake), kaldu daging, dan rumput laut (kombu). Rasa “umami” akan terasa berlipat ganda dan lezat manakala asam amino glutamat bergabung dengan ribotida (seperti inosinat dan guanilat). Contoh gabungan kaldu daging (inosinat) dengan tomat atau jamur (glutamat).

Rasa “umami” adalah fondasi budaya kuliner Jepang. Masakan mereka sangat tergantung pada bahan makanan yang kandungan glutamat dan inosinatnya kaya, antara lain rumput laut (kombu), serpihan ikan (katsuobushi), kaldu ikan (dashi), jamur shiitake, kedelai fermentasi (miso), hingga kecap asin (shoyu).

Adapun pusat dari budaya umami di Jepang terdapat pada kaldu dasar dari ikan (dashi). Bisa katsuo dashi, kaldu yang terbuat dari ikan cakalang atau ikan bonito. Bisa pula niboshi dashi, kaldu dari ikan teri. Kemudian munculah filosofi dashi, yang menempatkannya pada posisi penentu atau kunci kelezatan berbagai hidangan utama, seperti dari sup miso atau rebusan (nimono).

Ketika kata “umami” mengalami pengadopsian ke bahasa Indonesia, pun agaknya konteks pemakaiannya tidak terlalu jauh dari masakan. Misalnya kalimat “Kaldu rebusan tulang sapi dan jamur ini memberikan rasa umami yang sangat kuat pada kuah sup”.

Demikian pula, dengan kalimat “Keju parmesan dan tomat yang dikeringkan adalah bahan makanan yang kaya akan senyawa umami alami”. Atau, kalimat “Penambahan sedikit kecap asin ke dalam saus pasta dapat meningkatkan profil umami secara keseluruhan”.

Setelah “Umami”

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Begitulah, setelah “umami” teradopsi pada Oktober 2016, pemutakhiran KBBI Daring terus berlanjut. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa secara berkala menyerap kosakata baru dari bahasa Jepang. Terutama melalui budaya populer, kuliner, dan gaya hidup.

Dari budaya populer dan hiburan, masuk lema-lema, seperti “anime” (animasi atau kartun khas Jepang), “manga” (komik khas Jepang), “isekai” (genre fiksi prosa tentang dunia lain), “wota” (penggemar fanatik grup idola). Ada pula kata-kata adopsi dari bahasa Jepang yang merujuk pada gaya hidup dan konsep sosial.

Misalnya “ikigai”, yaitu konsep hidup yang memandang kebahagiaan hadir berkat adanya tujuan hidup yang jelas dan penuh kesadaran. Kemudian ada “karosi”, kematian akibat bekerja terlampau keras. Ada juga “hikikomori”, fenomena orang yang menarik diri dari kehidupan sosial.

Saya telah mengecek di KBBI VI Daring yang mengalami pemutakhiran pada Oktober 2025 dengan jumlah entri 210.490 dan jumlah kategori 403. Dan, memang semua kata hasil serapan bahasa Jepang di atas dapat saya temukan dalam penelusuran.

Ternyata jumlah kata dari bahasa Jepang yang mengalami penyerapan, bahkan tidak sedikit di antaranya berupa penyerapan penuh (adopsi) ternyata relatif banyak. Lema dengan huruf awal “a” tercatat sebanyak 7 kata (termasuk “anime”). Contohnya “agemono” (segala jenis makanan yang digoreng rendam, seperti tempura), “azuki” (kacang merah kecil).

Kosakata serapan dari bahasa Jepang dengan huruf awal “b” terdapat 16 lema. Misal “bonsai sankan”, gaya bonsai tiga pohon dalam pot, menyimbolkan tiga tahap kehidupan, muda - dewasa - tua. Lalu “bugaku”, tarian dan musik tradisional yang dipentaskan kepada kalangan elite tertentu.

Untuk huruf awal “c” tertulis 5 entri. Seperti “canoyu” (upacara minum teh hijau), “cikuwa” (produk makanan olahan bentuk tabung, terbuat dari surimi, pati, garam, gula, putih telur, dan penguat rasa), “cuhin”, bonsai ukuran sedang dengan tinggi 25 - 30 sentimeter.

Yang berawal dengan huruf “d” terdapat 8 lema. Contoh “daikon”, lobak putih, bisa dimakan mentah bisa pula dimasak sop. Lalu “dango”, kue dari tepung beras, dibuat bola kecil, dikukus atau direbus, tekstur lembut dan kenyal, dimakan dengan pasta kacang merah atau saus manis asin.

Terdapat 3 lema dengan huruf awal “e”, yaitu “Ebisu” (dewa keberuntungan, kekayaan, dan kemakmuran dalam mitologi Jepang), “edamane” (kedelai yang dipanen sebelum matang dan direbus dengan kulitnya untuk kudapan), “ekado” (gorengan daging/udang/ikan cincang diisi telur puyuh dan dibungkus kulit tahu yang bagian atasnya diikat).

Adapun lema dengan awal huruf “f” tercatat 2 buah. “Fujinkai”, organisasi wanita pada masa pendudukan Jepamg. Dan, “furisode”. kimono dengan lengan panjang menjuntai ke bawah dan yang mengenakannya wanita muda belum menikah pada upacara kedewasaan atau pernikahan.

Entri yang berawal dengan huruf “g” ada 11. Contoh “gekiga”, gaya manga yang lebih serius dengan tema dewasa dan kompleks. “Gioza”, penganan dengan kulit pangsit mini dan isiannya tumis daging dan sayuran, digoreng dengan sedikit minyak pada penggorengan sampai kering. Bisa juga dikukus atau direbus.

Yang berhuruf awal “h” ada 7 entri termasuk “hikikomori”. Antara lain “hanami” (tradisi masyarakat Jepang untuk menyambut atau menikmati keindahan bunga sakura di musim semi), “haori” (jaket tradisional yang dikenakan di atas kimono), “hina asobi” (permainan boneka putri).

Sementara itu, lema yang berhuruf awal “i” terdiri atas 8 buah termasuk “ikigai” dan “isekai”. Contoh “ikayaki” (makanan dari cumi bakar dengan kecap asin), “ikura” (telur ikan salmon, warna oranye cerah transparan, untuk bahan masakan), “irezumi” (seni tato tradisional Jepang).

Lalu yang berawal dengan huruf “j” tercatat sejumlah 3 lema. Ada “jinja”, tempat ibadat umat Shinto. Ada juga “josei”, genre manga dan anime untuk wanita dewasa dengan kisah yang fokus pada percintaan, pekerjaan.

Selanjutnya, yang diawali dengan huruf “k” ada 29 lema, termasuk “karosi”. Misalnya “kaizen”, filosofi perusahaan berupa perbaikan secara bertahap dan terus-menerus guna mencapai efisiensi dan menghasilkan kualitas harapan. Ada “katsuobusyi” merupakan makanan awetan dari ikan cakalang dengan penyerutan tipis-tipis seperti serutan kayu.

Tidak Ada Bunyi “L”

Ilustrasi kreasi Gemini AI.

Kemudian kata yang berawal dengan huruf “l” tidak ada. Sebab, aksara Jepang (Hiragana dan Katakana) tidak mengenal huruf ini, sehingga tidak ada dalam deret entrinya. Tatkala mereka mengucapkan kata asing dengan unsur bunyi “l” secara otomatis mengubahnya menjadi bunyi “r”. Seperti “McDonald’s” menjadi “Makudonarudo” atau “light” menjadi “raito”.

Seterusnya yang berawalan dengan huruf “m” ada 23 kata. Antara lain “mentaiko”, telur ikan kod yang diasinkan dan dibumbui pedas, dikonsumsi sebagai lauk, awuran nasi, atau isian onigiri. Ada “makisu”, anyaman kecil dari bambu untuk penggulung susyi. Ada pula “monogatari”, karya sastra tradisional berupa narasi panjang seperti novel berkontenkan legenda, romansa, sejarah.

Sementara itu, yang memiliki huruf awal “n” terdapat 10 lema. Seperti “naguri”, teknik pahat yang meninggalkan bentuk tidak rata pada permukaan kayu dan menciptakan pola-pola geometris. Sudah itu, “natto”, makanan tradisional dari fermentasi kedelai, tekstur lengket, berlendir. Ada lagi, “nebari”, akar bonsai yang tampak di permukaan tanah, menghadirkan kesan kuat dan stabil.

Dengan awal huruf “o”, dapat dicatat 18 lema. Sebut saja “onigiri”, nasi kepal dengan isian seperti ikan atau sayuran, dengan nori (lembaran rumput laut kering) di luarnya. Lalu “okonomiyaki”, penganan dari tepung terigu dan isian sayur, daging, atau ikan, yang dipanggang di atas pelat panas serta diolesi saus.

Terdapat 3 kata yang berawal dengan huruf “p”. Yaitu “panko”, tepung roti tekstur ringan, untuk melapisi makanan goreng atau panggang. Lalu ada “perwibuan” (perihal “wibu”) hasil adopsi”wibu” (orang yang terobsesi dengan budaya dan gaya hidup Jepang) kemudian mendapat prefiks “per-” dan sufiks “-an”. Dan, “ponzu”, saus dari kecap asin, jus jeruk, mirin (bumbu dapur fermentasi dari beras ketan), serpihan ikan cikalang, rumput laut hitam, dan cuka beras.

Ternyata juga tidak ada kata asli dalam bahasa Jepang dengan awal huruf “q”. Sistem fonologi tradisionalnya memang tidak mengenal konsonan lepas tersebut. Pada deret huruf Hiragana dan Katakana standar, bunyi "q" secara alami digantikan atau diucapkan dengan Ku (く/ク), seperti kuuki (くうき) maknanya udara atau kuro (クロ) artinya hitam.

Berikutnya kata serapan bahasa Jepang dengan awal huruf “r”. Ada empat yang tercatat. Ada “rengo” (serikat dagang). Kemudian bentukan campuran “restoran omakase” (koki yang menentukan pilihan menunya). Bahasa Jepang menyerap kata Inggris “restaurant” menjadi “resutoran“ (レストラン), sedangkan bahasa Indonesia menyerapnya menjadi “restoran”. Lalu “romaji” (sistem penulisan bahasa Jepang dengan bahasa Latin). Serta, “rotenburo”, pemandian sumber air panas alami di luar ruangan.

Adapun lema dengan awal huruf “s” sejumlah 29. Contoh “saikeirei”, membungkukkan badan ke arah kaisar, matahari terbit sebagai penghormatan. Ada juga “sundoku”, perilaku gemar membeli buku tapi hanya menumpuknya dan tidak membacanya. Ada lagi “sasyimono”, teknik merakit furnitur dan barang kayu lainnya tanpa paku.

Ada 17 lema yang berawal dengan huruf “t”. Misalnya “tanka”, puisi terdiri atas 31 suku kata, berkisah tentang alam, musim, cinta, kesedihan. Lalu “tamagoyaki”, telur dadar gulung, dapat tersaji polos atau dengan isian nori (ganggang laut) dan sosis. Serta, “tobiko”, telur ikan terbang untuk bahan makanan seperti susyi (nasi campur cuka plus makanan laut).

Terdapat 4 entri termasuk “umami”, kata dari bahasa Jepang yang berawal dengan huruf “u”. Contoh yang tercatat “udon (mi dari tepung terigu, tebal agak lebar, tekstur kenyal), “uitemate” (teknik menyelamatkan diri dalam air dengan cara mengapung atau mengambang sambil menunggu pertolongan).

Bunyi “v” tidak termasuk fonem dalam bahasa asli Jepang. Dalam bahasa Jepang modern, dengan menggunakan huruf katakana khusus, yaitu ヴ (vu), seperti “violin” menjadi “vaiorin” (ヴァイオリン) atau “vokal” menjadi “vookaru” (ヴォーカル). Kebanyakan penutur Jepang mengucapkan bunyi “v” menjadi terdengar “b”, seperti “video” terdengar dengan “bideo” (ビデオ) atau “vampire” terdengar dengan “banpaia” (バンパイア).

Dalam pada itu, terdapat 8 entri dengan huruf awal “w”, termasuk “wota”. Antara lain “wagyu” (sapi yang diternakkan khusus dengan pakan gandum mutu tinggi, rumput pilihan, dan vitamin), “wasyi” (kertas dari serat alami, seperti rami, bambu, dan kulit pohon), “wakizasyi” (menyerupai pedang samurai dengan panjang bilah 30 - 60 sentimeter).

Untuk kata yang berawal dengan huruf “y” tercatat 8 lema. Yakni “yakiniku” (daging panggang yang cara makannya dicelupkan saus campuran shoyu [kecap asin], mirin [fermentasi beras ketan dan jamur], gula, bawang putih, minyak wijen, dan biji wijen yang disangrai). Terus “yakisoba”, masakan bahan dasar soba (mi tradisional Jepang) dengan campuran daging dan sayur. Dihidangkan dengan digoreng.

Sejak berabad-abad, lidah bangsa Jepang secara alami nyaris tidak pernah mengucapkan kata yang berawal dengan bunyi huruf desah, seperti bunyi “z”. Lebih lazim, bunyi “z” muncul di tengah kata, seperti “kazoku” (カゾク) maknanya keluarga. Dan, juga di belakang kata, contoh “chizu” (チーズ) artinya keju, “mizu” (ミズ) artinya air.

Kendati demikian, pada era modern ini, sebagai konsekuensi logis dari pergaulan dunia internasional, telah begitu tidak terhitung lagi kata-kata yang terkategori baru atau kata-kata yang teridentifikasi sebagai serapan asing masuk ke dalam bahasa Jepang. Oleh karena itu, mereka pun mau tidak mau ikut mengucapkan bunyi “z” yang berada di silabel awal kata, seperti “zero” (ゼロ) artinya nol atau “zeimu” (ゼイム) maknanya pajak.

Jangan khawatir. Bahasa Indonesia juga “mengekspor” sejumlah kata yang populer di Jepang. Pada umumnya terkait dengan nama makanan, tempat wisata, atau kata serapan yang terjalin berkat interaksi budaya yang akrab. “Nasi Goreng” merupakan masakan Indonesia yang sangat populer di sana. Di restoran bergaya Asia di sana, sangat mudah pengunjung menemukan di daftar menu, kuliner ナシゴレン (nashi goren).

Kemudian “Bali” sangat tersohor di sana. Banyak warga Jepang yang menempatkan Bari" (ばり), menurut versi pengucapan mereka yang tidak bisa mengucapkan bunyi “l” dan menggantinya dengan “r”, sebagai destinasi wisata impian mereka.

Tambahan lagi, mi goreng atau versi pengucapan Jepangnya “mīgoren” (ミーゴレン) turut meramaikan jajanan yang populer di sana. Lalu “sate” (サテ) hadir sebagai varian kuliner daging bakar favorit di sana.

Tempe atau menurut lidah Jepang “tenpe” (テンペ), makanan fermentasi dengan kandungan gizi tinggi menjadi pilihan dengan tingkat peminatan penuh antusiasme dari komunitas vegetarian dan vegan di Negeri Sakura.

Komunitas vegetarian beranggotakan sekelompok orang yang karena alasan keagamaan atau kesehatan tidak mengonsumsi daging dan ikan. Namun, masih bersedia makan produk olahan hewan lainnya, seperti telur, madu, susu, dan kulit. Adapun komunitas vegan mengemohi semuanya, baik daging dan ikan maupun produk olahannya.

Di Jepang terdapat kata “ramie” (ラミー) yang berasal dari kata dalam bahasa Indonesia, “rami”. Tali serat alami dari batang tanaman rami. Terkenal kuat, fleksibel, ramah lingkungan. Disebut juga tali goni. Bisa untuk kerajinan tangan, seperti makrame (kerajinan tangan simpul-menyimpul tali), gantungan pot, gelang, tali suvenir.

Tali rami alias tali goni bisa pula untuk keperluan dekorasi dan pengemasan. Pemanfaatannya untuk membungkus kado atau paper bag bergaya rustic yang menonjolkan kesan alami dan perdesaan. Atau, gaya natural yang mengaksentuasikan penggunaan elemen-elemen alami guna menghadirkan suasana sejuk, tenang, dan hangat.

Selain itu, tali rami atau “ramie” versi adaptasi fonologis dalam bahasa Jepang, bermanfaat untuk mengikat tanaman atau merangkai bunga berkat sifatnya yang lembut dan tidak merusak batang. ***