Konten dari Pengguna

Yuk, Menikmati Bareng Cerpen “Pacar Seorang Seniman” Karya W.S. Rendra

Mohamad Jokomono

Mohamad Jokomono

Pernah bekerja sebagai redaktur di Harian Suara Merdeka Semarang (2001-2024). Purnatugas per 9 November 2024. Pendidikan terakhir S-2 Magister Ilmu Komunikasi Undip Semarang (2015). Menyukai kucing.

·waktu baca 30 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mohamad Jokomono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Iustrasi dari Gemini 3 AI.
zoom-in-whitePerbesar
Iustrasi dari Gemini 3 AI.

Siapa pun pencinta Sastra Indonesia Modern, pastilah akan lebih mengenal W.S. Rendra (lahir di Kota Surakarta, 7 November 1935 - wafat di Kota Depok, 6 Agustus 2009) sebagai penyair dan dramawan.

Siapa yang bisa mengingkari eksistensi kepenyairan pencipta kuplet (bait) “semangat cintaku yang kuat, bagai seribu tangan gaib, menyebarkan seribu jaring, menyergap hatimu, yang selalu tersenyum padaku” (Puisi “Surat Cinta”) ini?

Siapa pula yang bisa mengingkari eksistensinya sebagai seniman teater terkemuka di Tanah Air, sosok pejuang kesenian yang pada 1964 - 1967 pernah menempuh pendidikan drama di American Academy of Dramatic Arts? Dan juga, mempelajari gerak indah serta improvisasi di Erdman’s School of The Dance?

Meskipun demikian, W.S. Rendra juga pernah menaruh perhatian terhadap genre cerita pendek (cerpen), terlebih pada masa awal karier sastranya pada kisaran dekade 1950-an hingga awal dekade 1960-an.

Secara spesifik karya cerpennya yang semula tersebar pemuatannya di berbagai media massa cetak pada kurun waktu tersebut, yang terdokumentasi paling banyak adalah dari tahun 1954 sampai 1957. Dan, dalam perjalanan waktu kemudian diterbitkan sebagai buku antologi.

Tiga Antologi Cerpen

Menurut catatan biografinya, W.S. yang semula merupakan kependekan dari Willibrordus S(urendra Broto) dan selanjutnya mulai Agustus 1970 berubah menjadi Wahyu Sulaiman (Rendra), memublikasikan tiga buah buku antologi yang memuat belasan cerpen karyanya. Kalau saya tidak salah hitung, persisnya ada 19 cerpen.

Ilustrasi dari Gemini 3 AI.

Buku antologi Ia Sudah Bertualang berisi sembilan cerpen hasil tulisan W.S. Rendra pada 1954 - 1957. Pertama kali dipublikasikan oleh penerbit Naamloze Vennootschap (N.V.) Nusantara Jakarta. Deskripsinya, tebal buku 97 halaman dengan ukuran lebar 12,5 sentimeter x panjang 18 sentimeter. Buku ini pada kemudian hari, yaitu 2007, dicetak ulang Burung Merak Press. Tentu saja dengan performa fisik buku yang lebih menjawab selera zaman.

Cerpen-cerpen yang terdapat di dalam buku antologi ini, yaitu “Ia Sudah Bertualang” (sekaligus judul antologi), “Ia Punya Leher yang Indah”, “Ia Teramat Lembut”, “Pertemuan dengan Roh Halus”, “Orang-orang Peronda”, “Pacar Seorang Seniman”, “Muka yang Malang”, “Ia Masih Kecil”, dan “Sehelai Daun dalam Angin”.

Sebagai catatan, cerpen “Ia Sudah Bertualang” sukses meraih penghargaan dari Majalah Kisah pada tahun 1956. Cerpen ini menuturkan cerita tentang karakter penjual arum manis yang memendam dendam masa kecil terhadap sang ayah. Kekerasan fisik yang dia alami menjadi pengalaman traumatis berkepanjangan.

Pertimbangan pemilihan saat itu karena cerpen tersebut mencapai kedewasaan dalam penggarapan cerita dan teknik penulisan. Menyoroti konflik psikologis dalam kehidupan keluarga. Kepekaan observasi pengamatan kehidupan sekitar (budaya Jawa). Memiliki orisinalitas gagasan naratif, setidaknya untuk ukuran masa itu.

Empat puluh empat tahun kemudian. Tahun 2007. W.S. Rendra kembali menerbitkan buku antologi cerpen yang kedua. Judulnya Kenang-Kenangan Seorang Wanita Pemalu: Kumpulan Cerita Pendek 1954 - 1961. Penerbitnya Burung Merak Press (untuk cetakan pertama dengan International Standard Book Number (ISBN): 979-252-085-6 atau 978-979-252-085-9.

Sepuluh tahun kemudian (2017) diterbitkan kembali oleh Bentang Pustaka Yogyakarta dengan ISBN berbeda, 978-602-291-279-8. Tersedia pula di jaringan distribusi Mizanstore. Berisi 13 cerpen yang kebanyakan menekuri tema asmara, kekecewaan, dinamika hubungan manusia. Menonjolkan gaya berceritanya yang puitis dan mendalam.

Tiga belas cerpen yang terdapat dalam buku antologi itu: “Kenang-kenangan Seorang Wanita Pemalu” (sekaligus judul antologi), “Ia Melagu Merdu Sekali”, “Kekasih dari Bogor”, “Sebuah Episode”, “Perjalanannya”, “Kisah di Sebuah Kamar”, “Wanita yang Menunggu”, “Cinta di Atas Perahu”, “Sebuah Wajah”, “Surat Cinta”, “Mimpi dan Kenyataan”, “Perpisahan”, dan “Sehelai Daun Kering”.

Lima puluh tiga tahun berselang, 2016. Terhitung sejak buku antologi Ia Sudah Bertualang terbit pada tahun 1963. Buku antologi ketiga, Pacar Seorang Seniman, terbit secara anumerta setelah W. S. Rendra wafat pada tujuh tahun sebelumnya (2009). Kali ini pun Bentang Pustaka Yogyakarta yang menerbitkannya dengan ISBN: 978-602-291-274-3.

Di dalam antologi ketiga ini terhidang 13 cerpen. Delapan cerpen di antaranya pernah tersaji di antologi pertama (1963) minus “Ia Sudah Bertualang”. Kemudian ada tambahan lima cerpen lain, yaitu “Pohon Kemboja”, “Ia Membelai-belai Perutnya”, “Gaya Herjan”, “Wasya, ah, Wasya”, “Napas

Majalah Kisah

Ilustrasi dari Gemini 3 AI.

Dalam tulisan ini, saya mengajak Anda untuk menikmati bareng Cerpen “Pacar Seorang Seniman”. Sebelum dibukukan, cerpen ini pernah dimuat di Majalah Kisah Nomor 5, Tahun II, Mei 1954. Dengan demikian, pada saat cerpen ini dimuat, usia W.S. Rendra masih 18 tahun dan baru genap 19 tahun pada 7 November 1954.

Berdasarkan uraian terdahulu ditemukan fakta, bahwa Cerpen "Pacar Seorang Seniman" diikutkan ke dalam buku antologi sebanyak dua kali. Yaitu sebagai salah satu cerpen yang terdapat di dalam buku antologi pertama (terbit pada 1963). Dan, menjadi salah satu cerpen serta sekaligus judul buku antologi ketiga (terbit secara anumerta pada 2016).

Di kisaran tahun 1952 - 1954, W.S. Rendra memang mulai aktif mengirimkan karya-karyanya ke berbagai media massa cetak yang mengkanalisasi karya-karya sastra. Salah satu di antaranya Majalah Kisah. Pada saat itu, dia masih bersekolah di SMA Katolik Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta. Dan, lulus pada tahun 1955.

Jika demikian, pada saat pemuatan Cerpen “Pacar Seorang Seniman” ini, W.S. Rendra masih kelas 2 SMA (atau konversi sekarang kelas 11). Karena saat itu, satu tahun ajaran berlangsung dari bulan Januari hingga Desember pada tahun yang sama.

Saya pribadi mengalami masa tahun ajaran seperti itu ketika kelas 1 - 6 SD (1971 - 1977). Saat kelas 1 SMP (kelas 8), ketika itu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1978 - 1983 Daoed Joesoef (8 Agustus 1926 - 23 Januari 2018), saya terkena imbas kebijakan penambahan satu semester lagi.

Saya menempuh kelas 8 selama tiga semester. Jadi saya termasuk generasi pertama yang mengalami perubahan tahun ajaran yang melintasi tahun, yaitu menjadi 1978/1979 dan seterusnya sebagaimana berlaku hingga sekarang. Yaitu tahun ajaran mulai Juli tahun berjalan hingga Juni tahun berikutnya.

Cerpen “Pacar Seorang Seniman” dimuat di majalah yang didirikan pada Juli 1952 oleh Hans Bague Jassin (31 Juli 1917 - 11 Maret 2000) dan Muhammad Balfas (25 Desember 1922 - 5 Juni 1975) serta Idrus (21 September 1921 - 18 Mei 1979) dengan alamat kantor redaksinya di Jalan Kramat Raya Nomor 45 Jakarta Pusat.

Majalah Kisah (tahun terbit 1952 - 1956), sependek yang saya ketahui, bisa jadi yang pertama memfokuskan diri pada genre cerpen di Indonesia. Ia berbeda dari Majalah Poejangga Baroe (1933 - 1942; 1948 - 1954) dengan tokoh pendiri Sutan Takdir Alisjahbana (11 Februari 1908 - 17 Juli 1994), Armijn Pane (18 Agustus 1908 - 16 Februari 1970), dan Amir Hamzah (28 Februari 1911 - 20 Maret 1946) yang memuat beragam genre.

Ia berlainan dengan Majalah Poesara (1931) di Yogyakarta yang terbit berkat inisiasi Ki Hadjar Dewantara (2 Mei 1889 - 26 April 1959) yang memuat banyak karya sastra, terutama puisi. Belainan pula dengan Majalah Pandji Poestaka (1923 - 1945) yang memuat genre prosa dan puisi secara hampir berimbang. Di samping karya sastra, majalah ini juga memuat artikel umum dan budaya serta menjadi media marketing buku-buku terbitan Balai Poestaka.

Ia berlainan pula dengan Majalah Zenith (1951 - 1954) yang selain memuat berbagai genre karya sastra juga menjadi ruang bagi pemikiran sastra dan budaya pasca-Kemerdekaan. Dan, ia juga berlainan dengan Majalah Mimbar Indonesia (1947 - 1966) yang rubrik kebudayaan “Gema Suasana”-nya menjadi rujukan para sastrawan.

Majalah Kisah (1952 - 1957) dengan fokus perhatian pada cerpen sesungguhnya menjadi sangat penting peran sertanya dalam perjalanan genre karya sastra tersebut di Indonesia. Ia menunaikan fungsi sebagai tempat persemaian bibit-bibit sastrawan muda pada kala itu.

Nama-nama tersohor seperti W.S.Rendra, Nh. Dini (29 Februari 1936 - 4 Desember 2018), Noegroho Notosoesanto (15 Juli 1930 - 3 Juni 1985) mulai mendapat respons publik sastra manakala mereka memublikasikan karya-karya mereka di Majalah Kisah.

Kehadiran Majalah Kisah acapkali menerima pengaitan sebagai penanda kelahiran Angkatan ‘50 dalam periodisasi Sastra Indonesia Modern. Adapun ciri khas yang melekat erat pada karya-karya prosa para sastrawan era ini menunjukkan adanya dominasi realisme, tema sosial, dan kehidupan keseharian yang lebih realistis pasca-Revolusi. Pada genre puisi, hadir bentuk balada epik.

Majalah Kisah terpaksa menghentikan penerbitannya pada tahun 1956 akibat belitan kendala finansial. Setelah itu, H.B. Jassin dan kawan-kawan meneruskan perjuangannya mengawal Sastra Indonesia Modern dengan mendirikan Majalah Sastra (1961 - 1964; 1967 - 1970). Semangat bersastra terus mewujud lewat Majalah Horison yang telah terbit pada 1966.

Setelah 50 tahun eksis, Redaksi Majalah Horison memutuskan memungkasi edisi cetaknya pada Juli 2016. Faktor penyebabnya, penurunan jumlah pelanggan yang signifikan sehingga tidak lagi bisa berkompromi dengan biaya produksi yang semakin melangit. Mulai sejak itu, platform dalam jaringan lewat situs Horison Online menggantikan peran untuk menyapa para pembaca sastra.

Majalah Sastra Horison Online (horisononline.co.id) sempat eksis beberapa waktu. Hanya merujuk pada catatan terakhir, mengalami kendala administrasi dan kevakuman. Menurut laporan terakhir, situs tersebut setelah beberapa edisi pada kisaran 2018 tidak lagi beroperasi. Pada 2021, terbit versi cetak edisi khusus Hari Ulang Tahun Ke-55. Hanya untuk lingkungan terbatas dan bukan tanda sinyal akan kembali hadir sebagai publikasi rutin.

Nah, sebelum melebar ke mana-mana, saya ingin mengembalikan fokus pembicaraan ke Cerpen “Pacar Seorang Seniman” sebagaimana ajakan untuk menikmati bareng-bareng. Dan, itu memang secara eksplisit dapat dibaca pada judul esai ini.

Motif Surat

Motif surat tampak menghampiri Cerpen “Pacar Seorang Seniman”. Dalam artian, surat itu menjadi bagian inti yang menjadi roh permasalahan yang menghidupi aspek tematiknya. Ada struktur naratif luar yang beralur lurus mengemas struktur naratif inti yang beralur sorot balik (kisah masa lalu seorang wanita berusia 28 tahun dengan pacar senimannya), sehingga menjadi satu keping integralitas jalinan cerita yang saling tidak bisa terpisahkan. Rentang durasi penceritaan lebih panjang pada steuktur naratif inti.

Baik struktur naratif luar maupun struktur naratif inti, sama-sama menggunakan narator sudut pandang pronomina persona pertama singular (kata ganti orang pertama tunggal) “saya”. Menurut perspektif teori sastra, ini adalah teknik multiple first-person points of view (sudut pandang orang pertama ganda).

Dalam konteks Cerpen “Pacar Seorang Seniman”, pronomina persona pertama singular “saya” pada struktur naratif luar merujuk pada karakter Kakak Laki-laki (ini bukan penyebutan genuine dari W.S. Rendra dalam cerpennya, melainkan dari saya untuk sekadar memudahkan penyebutan nama karakter).

Sementara itu, “saya” yang terdapat di dalam struktur naratif inti berupa surat (epistolary) adalah karakter Adik Perempuan (ini juga bukan penyebutan genuine dari W.S. Rendra dalam cerpennya, melainkan dari saya dan juga untuk tujuan memudahkan penyebutan nama karakter semata).

W.S. Rendra memberi penanda yang sangat jelas, ketika dia hendak beralih dari narator “saya” (karakter Kakak Laki-laki) ke marator “saya” (karakter Adik Perempuan). Dia menggunakan kalimat penanda “Surat itu berbunyi sebagai berikut”.

Serta, pada bagian akhir cerpen ini terdapat kalimat “Demikianlah bunyi nukilan surat adik saya”, untuk membingkai surat dari Adik Perempuan yang memiliki pacar seniman, pelukis tepatnya, bernama Mas Hatr. Gaya bahasanya mengalir mirip dengan gaya jurnalistik. Langsung menyasar ke inti persolan.

Mari langsung saja kita bersama memasuki teks cerpen yang tergolong karya awal dari W.S. Rendra ini. Masalah yang memantik perjalanan narasi dalam cerpen ini adalah tentang karakter Kakak Laki-laki yang memprihatinkan keadaan Adik Perempuan-nya yang meskipun telah mempunyai cukup umur, yaitu 28 tahun, belum menunjukkan tanda-tanda keinginan untuk berumah tangga.

Padahal, telah banyak pemuda yang mempunyai kedudukan mapan berupaya untuk melamarnya. Sayang sekali, semua lamaran itu berujung pada penolakan. Sang Ibu dan Kakak Lelaki sangat memprihatinkan keadaan Adik Perempuan itu. Sikapnya yang demikian ini, karena dia belum bisa menghilangkan dari hatinya, pacarnya yang telah meninggal delapan tahun sebelumnya. Seorang seniman. Pelukis. Mas Har namanya.

■■■■■■■■■■

KUTIPAN 01:

CERPEN: PACAR SEORANG SENIMAN

Karya: WS Rendra

Ilustrasi hasil editan Meta Ai.

Saya mempunyai adik perempuan yang cantik, tetapi tiada mau dikawinkan. Ia dulu mempunyai pacar seorang seniman, tetapi seniman itu sudah delapan tahun yang lalu pulang ke rahmatullah. Adik saya rupanya sangat mencintainya sehingga sampai sekarang ia tak mau kawin dengan orang lain, meskipun usianya sudah 28 tahun.

Ibu saya sedih dan malu karenanya. Ia merasa kehilangan muka kalau orang-orang menyangka bahwa adik saya itu tidak laku kawin.

Akan tetapi, pada hakikatnya tak ada orang yang akan menyangka begitu. Banyak orang sudah tahu bahwa adik saya itu banyak menerima lamaran dari berbagai pihak, dan para pelamar itu kebanyakan mempunyai pangkat yang tinggi juga, sebab adik saya itu meskipun sudah bisa disebut perawan tua, masih juga tetap kelihatan cantik serta menarik.

Selalu apabila ditawarkan oleh ibu sebuah lamaran yang disampaikan lewat dia, adik saya itu selalu menjawab, bahwa ia tidak bisa melupakan Mas Har, yaitu seniman itu.

■■■■■■■■■■

Padahal, Mas Har itu hanya lelaki biasa-biasa saja. Dari kondisi fisik hingga peruntungan keuangannya pun tidak terlalu menjanjikan. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar di hati Kakak Laki-laki. Dia tidak habis mengerti, mengapa Adik Perempuan-nya masih merawat kenangan cintanya kepada Mas Har begitu rapi di relung hatinya.

W.R. Rendra mendeskripsikan karakter Mas Har nyaris dengan ungkapan datar. Kalau saja dia tidak buru-buru menimpalinya dengan sedikit sentuhan humor. Sudah biasa dalam kepribadian orang Jawa (tempo doeloe) pada umumnya, selalu mencari sisi yang positif di antara banyak kualitas yang kurang pada diri seseorang. Mas Har jika mendapat pandangan lebih saksama, wajahnya tampak manis juga. Dengan syarat, asal cambang dan kumisnya dicukur secara lebih rapi. Lebih lanjut W.S. Rendra menulis:

■■■■■■■■■■

KUTIPAN 02

Semua orang, termasuk saya, tidak tahu benar mengapa adik saya fanatik dalam hal cintanya kepadanya. Seniman itu menurut pendapat saya seperti manusia biasa saja. Mukanya kotor, badannya tidak gagah, rambutnya seperti rumput, dan bulunya tumbuh di mana-mana seperti seekor kera.

Cuma kalau sudah dipandang agak lama memang terlihat juga bahwa mukanya memang manis. Artinya, seandainya cambangnya dibersihkan dan kumisnya dipelihara baik-baik.

■■■■■■■■■■

Oleh karena itu, Kakak Lelaki yang tinggal di Surabaya, ketika pada suatu kesempatan bertandang ke Jakarta, tempat Sang Ibu dan Adik Perempuan itu berdomisili, tidak lupa memberikan petuah, agar saudarinya itu bersedia segera menerima salah satu lamaran untuk membina kehidupan suami istri, sebagaimana menjadi idaman banyak wanita, terlebih pada usia yang secara biologis hampir mendekati kondisi yang kurang begitu ideal untuk melahirkan anak.

■■■■■■■■■■

KUTIPAN 03

Pada suatu hari, saya pergi ke Jakarta menengok ibu dan adik saya itu. Kesempatan ini saya pergunakan untuk menasihatinya supaya ia jangan sampai menyia-nyiakan umur mudanya. Janganlah ia sampai rugi apabila kelak sadar bahwa ia belum puas mengecap bunga kehidupan.

Saya katakan bahwa sikapnya yang sekarang ini tak ubahnya dengan merusak hidupnya sendiri, membiarkan dirinya layu tanpa mengecap kenikmatan dunia. Tidak baik menyiksa diri sendiri begitu itu.

Waktu itu ia diam saja. Namun, selama beberapa hari kemudian sesudah itu, ia kelihatan selalu merenung dan berpikir. Akhirnya, waktu saya sudah pulang kembali ke Surabaya, saya menerima surat darinya.

Surat itu adalah jawaban dari segala nasihat saya yang saya sebutkan itu. Saya sangat terharu membaca suratnya. Surat itu membukakan pada saya rahasia hati dan perasaan wanita yang lembut dan tak terduga itu. Kecuali itu, sadarlah saya sekarang sampai berapa jauh wanita itu bisa teguh dalam kesetiaannya.

Surat itu berbunyi sebagai berikut.

■■■■■■■■■■

Membaca Surat

Ilustrasi dari Gemini 3 AI.

Alur sorot balik pun terpapar dalam struktur naratif inti, berupa surat Adik Perempuan kepada Kakak Lelaki-nya. Sang Adik Perempuan menceritakan awal perkenalannya dengan Mas Har. Saat itu dia masih SMA. Pada mulanya, rasa tertarik itu belum muncul di hatinya. Sampai akhirnya, ada satu momen yang menyebabkan Adik Perempuan mulai merasakan getar hati terhadap Mas Har.

Lebih dari sekadar penampilan fisik yang biasa-biasa saja, ternyata Mas Har memiliki kriteria yang seirama dengan selera hati Adik Perempuan dalam memandang lelaki yang sesuai dengan jangkauan harapan kewanitaannya. Mas Har seorang yang menghormati wanita, tulus memberikan pertolongan, tidak memiliki kekurangajaran ala lelaki buaya darat. Dan yang lebih penting, Mas Har bukan lelaki yang gampang melontarkan pujian atau bujuk rayu.

■■■■■■■■■■

KUTIPAN 04

Nasihat yang kau ucapkan dulu itu bukanlah yang kali pertama saya dengar. Karena kau adalah kakak lelaki yang sangat saya cintai, dan kepada siapa saya bisa berterus terang akan segala kesulitan saya. Sekarang saya menjelaskannya kepadamu. Saya akan menceritakannya dari permulaan.

Seperti kau telah tahu, saya mulai berhubungan dengan Mas Har karena ia tinggal mondok pada keluarga kita di Jakarta. Saya akui bahwa ia memang tidak lebih dari yang lain. Sampai waktu lama setelah saya dengan dia, saya masih juga belum tertarik kepadanya. Malahan, saya sedikit kaget pada sikapnya yang terlalu bebas dan kasar itu.

Pada suatu kali, kami sakit pada saat yang bersamaan. Waktu itu saya masih di SMA. Saya tak masuk sekolah karena sakit itu. Hal ini menyebabkan saya lebih banyak mendapat kesempatan untuk betul-betul mengenalnya.

Tadinya saya takut kepadanya. Saya kira orang semacam itu, sebagaimana juga yang lain, sangat gampang berlaku kurang ajar kepada wanita. Namun, ternyata malahan sebaliknya. Ia berlaku jujur kepada saya. la kasar, tetapi nyata menghormati saya.

Waktu itu penyakit saya tak seberapa parahnya. Saya lebih cepat sembuh daripadanya. Tadinya saya tak tahu, bahwa ia sedang sakit juga. Setelah saya agak sembuh, baru saya tahu bahwa ia juga sedang sakit. Tadinya, waktu sakit saya sedang keras-kerasnya, ia pergi ke apotek untuk membelikan obat saya sebab selain ibu kita yang sudah tua itu memang tak ada orang lainnya lagi.

Saya sangat berdebar-debar waktu ia memasuki kamar saya sambil memberikan obat itu. Waktu itu saya sendirian. Saya takut ia akan berbuat kurang ajar. Ternyata tidak. Sikapnya sangat biasa sekali. Kekurangajarannya, kekurangajaran yang lucu, tidak ada hubungannya dengan kekurangajaran seorang buaya.

Biasanya lelaki-lelaki suka membuntuti saya, menyerang saya, dan mengejar-ngejar saya. Apabila saya berkenalan dengan seorang pemuda, selalu saya tidak salah menyangka bahwa ia nanti akan membelokkan arah perkenalan persahabatan itu ke arah yang tertentu. Banyak teman-teman saya lelaki yang mencoba mengubah suasana persahabatan kami menjadi suasana percintaan.

Mas Har tidak begitu. Ia bersikap sangat biasa, dan kelihatan jauh dari tanda-tanda untuk mempunyai maksud yang tertentu. Bahkan, dalam beberapa hal ia bersikap kepada saya seperti terhadap seorang anak kecil. Tak ada tanda-tanda nafsu menyerang padanya. Hal itu menyebabkan saya tidak merasa takut untuk lebih mengamat-amatinya, untuk lebih mengenalnya.

Laki-laki biasanya suka membosankan saya, dan sering saya merasa bahwa sikap mereka palsu semata-mata. Sebentar saja mulai beromong, mereka sudah mulai mencoba merayu saya dengan mengatakan bahwa saya cantik dan ini-itu lainnya.

Lain dari Mas Har. Mas Har selalu kelihatan biasa sekali. Malahan ia tak pernah menyebut tentang kecantikan saya. Ia tidak kelihatan berteriak kepada saya sebagai “seorang wanita pujaan”, sebagaimana buaya-buaya telah berkata tentang saya.

Ia tertarik kepada saya, tampaknya, sebagaimana ia tertarik kepada temannya atau adiknya. la tak pernah mencoba-coba menyinggung badan saya sebagaimana halnya laki-laki yang lain. Hal itu telah menyebabkan saya lebih berani untuk bersikap bebas kepadanya. Dengan ikhlas saya mendekat dan membukakan kepribadian kepadanya.

■■■■■■■■■■

Terkena Malaria

Setelah melihat sisi-sisi positif pada diri Mas Har, Adik Perempuan pun semakin dalam mengetahui hal-hal lain yang menyebabkan hatinya menjadi semakin terikat rasa simpati kepada seniman itu. Mas Har mempunyai cita-cita dan tujuan yang mulia dalam berkesenian serta bersedia bekerja keras untuk mencapainya. Itu salah satu yang mengagumkan bagi Adik Perempuan.

Melihat tubuhnya yang lemah dan sakit-sakitan, timbul keinginan Adik Perempuan untuk membantu menjaga agar kesehatannya tidak menjadi batu sandungan bagi Mas Har dalam mewujudkan harapannya dalam merenda ketekunan dan mempertajam ekspresi seninya saat terlibat proses kreatif melukis. Adik Perempuan dengan bantuan Sang Ibu juga mulai mengindahkan pola makan dan peduli pada kesehatan Mas Har. Ini bentuk lain dari ungkapan hati seperti judul sinetron serial Terlanjur Sayang (1997). Dan, tulis W.S. Rendra kemudian:

■■■■■■■■■■

KUTIPAN 05

Setelah saya sembuh, saya masih membolos dari sekolah sehari karena badan saya masih belum kuat betul. Saat itu saya baru tahu kalau ia pun sedang sakit. Ibu berkata begitu. Saya menengok ke kamarnya.

Kamarnya ialah garasi. Ketika saya datang, dengan langsung saya menengok ke dalam dari pintunya yang setengah terbuka. Saya lihat ia sedang berselimut rapat sambil mukanya kelihatan kesakitan. Saya langsung berkata, “Kau sedang sakit, ya?”

Tiba-tiba ia bangkit dari tidurnya dengan malu-malu.

“Aha, Putri Abu datang. Belum lagi mandi sudah datang. Wah, baunya.”

la selalu mengejek dan kelihatannya tak pernah bersungguh-sungguh.

“Mas Har sakit, ya?”

“Ini penyakit yang biasa. Malaria. Sudah sejak umur dua puluh saya kena malaria sebagai akibat kurang tidur. Kau tahu, pelukis suka kerja sampai malam.”

Pagi itu saya menjadi lebih tahu tentang dirinya. Saya sekarang tahu bahwa ia orang yang bercita-cita. Ia mempunyai tujuan dan cita-cita yang bagus tentang kesenian. la seorang yang bekerja keras untuk cita-citanya. Teguh mengabdi pada cita-cita itu, dan pantang diundurkan.

Kecuali itu, saya lalu tahu juga, bahwa ia mempunyai badan yang lemah serta sakit-sakitan.

Apabila timbul malarianya, ia suka muntah dan sakit segenap tulang-tulangnya. la khawatir kalau terlalu sering badannya diserang panas yang tinggi, penglihatannya lalu menjadi berkunang.

Baginya penglihatan sangat penting artinya, sebab ia pelukis. Kalau perutnya kemasukan makanan yang terlalu dingin atau terlalu keras maka segera ia merasa akan muntah-muntah dan biasanya penyakitnya lalu datang lagi.

Semuanya itu akibat ia sangat kuat bekerja. Pernah juga ia disuruh istirahat oleh dokter karena paru-parunya berkapur. Setelah satu setengah bulan ia beristirahat, barulah ia dinyatakan sehat.

Malam itu, menjelang tidur, saya banyak berpikir tentang penyakitnya. Saya merasa kasihan kepadanya. Orang yang baik seperti itu tidak pantas disiksa dengan penyakit yang kronis. Saya bayangkan ia sakit sendirian di kota lain dengan tak ada orang yang menolongnya. Saya melelehkan air mata.

Mulai saat itu, saya selalu memperhatikan makanannya. Ibu saya beri tahu bahwa ia tak boleh diberi sembarang makanan. Tiap pagi ia mesti disuruh minum kecap sesendok makan. Lagi pula minumnya mesti selalu hangat.

■■■■■■■■■■

Melukis Bunda

Ilustrasi dari Gemini 3 AI.

Setelah mengenal lebih jauh Mas Har, Adik Perempuan kian bisa mengapresiasi karya lukisannya. Terutama yang berjudul Bunda. Kemudian terkuaklah hidupnya yang sebatang kara, tiada sanak tiada saudara, yang mengharu biru kehidupannya. Juga mengenai sikapnya yang begitu mengasihi almarhumah bundanya. Semakin menegaskan perangainya sebagai sosok lelaki yang menghormati wanita.

Adik Perempuan merasa begitu tersanjung manakala berucap, “Wanita adalah kesucian, adalah kesuburan, adalah rahmat!” Dia juga merasa lebih nyaman untuk selalu berdekatan dengan Mas Har. Sebab, lelaki seniman itu “tidak pernah mencoba merayu dirinya ataupun menunjukkan gairah-gairah yang lain. Ia semata-mata teman yang tersayang”.

■■■■■■■■■■

KUTIPAN 06

Pada hari berikutnya, waktu saya pulang dari sekolah, saya langsung menuju ke garasinya. la baru saja selesai melukis. Lukisan yang telah selesai itu dinamakannya BUNDA.

la ceritakan kepada saya bahwa bundanya telah lama meninggal. Ia sekarang sebatang kara di dunia ini tanpa sanak tanpa saudara. Tentang gambarnya itu ia berkata:

“Lihatlah bagaimana matanya. Begitulah mata seorang ibu. Matanya memancarkan cahaya lembut bantalan. Tak ada orang yang paling berjasa kepada manusia seperti seorang ibu. Betapa banyaknya ia harus menderita dan berkorban untuk setiap manusia baru yang dia lahirkan, mulai dari kandungan, sampai membesarkannya, dan bahkan ada yang sampai ikut menguburkannya. Lihatlah warna-warna latar belakangnya. Semuanya serba tenang dan dalam. ltulah lambang jiwa wanita yang telah masak oleh pengalaman penderitaan. Mulutnya sangat sabar dan penuh pengertian. Wajahnya penuh dengan kerut-merut kedewasaan. Kenangan akan ibu saya banyak memengaruhi lukisan saya ini. Wanita! Wanita adalah kesucian. Adalah kesuburan. Adalah rahmat.”

Saya senang mendengar caranya berbicara dan menerangkan sesuatu. Kelihatan penuh pengertian, banyak menimbang, serta bijaksana. Malam itu saya tidur dengan mengenangkan lukisannya. Sekarang saya makin mengerti, apakah arti melukis itu baginya. Baginya, melukis adalah berhadapan dengan kehidupan.

Senang pula saya mengenangkan bagaimana caranya ia mengucapkan kata-kata, “Wanita adalah kesucian, adalah kesuburan, adalah rahmat!” Saya mengagumi caranya menghormati wanita. Saya tidak menyangka kalau di balik kekasarannya terdapat kelembutan dan keindahan. Betapa bagusnya ia mengemukakan pendapat tentang ibu dan tentang pengorbanan.

Akhirnya, saya pun menitikkan air mata karena mengenangkan bagaimana malang nasib hidupnya karena sudah sebatang kara. Sebelum berteman dengan saya, kalau sakit siapa merawatnya? Saya bayangkan ia menderita karena kesepian di dalam kamarnya.

Perhubungan kami semakin akrab. Saya makin yakin bahwa ia sama sekali tidak berbahaya. Ia tidak pernah mencoba merayu saya ataupun menunjukkan gairah-gairah yang lain. Ia semata-mata teman yang sangat saya sayangi. Di sekolah, saya sering melamunkannya. Kalau lama tidak berjumpa saya jadi kangen. Pada hakikatnya, caranya bersikap kepada saya seperti halnya kakak terhadap adiknya.

Pernah pada waktu libur panjang, saya diminta untuk dilukisnya. Sambil melukis, ia banyak bercerita tentang pengalaman-pengalamannya. la telah banyak melawat ke pelbagai negeri. Ia ceritakan dengan lucu bagaimana ia pernah kehabisan uang dan tersesat di Kota Paris, bagaimana ia belajar main ski di Swiss, dan bagaimana ia ditipu orang di Italia. Pengalamannya dan pengetahuannya sangat banyak.

Saya menggelarinya Sinbad. la tahu segala cerita-cerita yang menarik. Kadang-kadang ceritanya sangat lucu. Kadang-kadang ajaib. Dan, kadang-kadang mengharukan. la pandai memilih suasana. Ia menasihati saya dengan cerita-cerita yang mengharukan. Ia menghibur saya dari kesedihan dengan cerita-cerita yang lucu. Ia bercerita dengan sederhana dan gaya yang tampan. Suaranya seperti gesekan cello.

Kalau ia sedang asyik melukis saya tanpa bicara, saya perhatikan ia. Tingginya sedang. Badannya memang mempunyai suasana lemah, tetapi kalau sudah cukup lama diperhatikan, lama-lama tampak bahwa ia tidak kurus, tetapi semampai. Caranya berpakaian memang kasar dan kotor, tetapi bukankah di balik itu tertanam kelembutan? Mulutnya manis. Matanya bijaksana dan romantis. Saya senang mendengar mulutnya itu menceritakan perasaan-perasaannya. Saya senang melihat caranya memandang dan bersikap. Saya anggap ia adalah lelaki yang indah. Cuma sayang, ia tak mau mencukur kumis dan cambangnya.

Pernah ibu menyuruhnya mengantar saya ke sebuah pesta. Dan, pernah pula, saya memintanya untuk mengantarkan ke bioskop. Saya merasa aman bepergian dengannya. la selalu bersikap melindungi dan memikirkan kepentingan saya dengan gaya seorang lelaki yang terhormat. la betul-betul simpatik. Saya ingin pergi nonton lagi bersamanya, tetapi ia tak pernah mengajak dan saya malu untuk mengajaknya lagi.

Suatu kali, ia tidak pulang selama lima hari. Saya ribut-ribut mengurus hal itu. Saya tak tahu ke mana perginya. Ibu pun tidak diberinya tahu. Namun, ibu berkata kepada saya, bahwa tak ada gunanya saya ribut, sebab, toh, ia akan kembali.

Lagi pula, sebelumnya ia, toh, mempunyai kebiasaan begitu juga. Saya lalu ingat bahwa memang demikianlah halnya. Namun, entah tak tahu mengapa, waktu ia pulang, saya marah juga kepadanya. Saya bersikap dingin dan bahkan akhirnya saya tak mau omong dengan dia. Saya tahu bahwa dia gelisah karenanya. Kemudian pada waktu saya sedang duduk membaca koran, ia datang dan bertanya.

“Ayolah, sekarang kita saling berterus terang, Sinbad harus mengerjakan apa supaya Putri Abu tidak marah?”

Saya merasa malu oleh pertanyaannya itu. Akhirnya, kemarahan saya lenyap karena ia lalu tiada henti-hentinya bercerita tentang hal-hal yang lucu-lucu, sambil ia katakan bahwa selama lima hari tak pulang itu, ia pergi membuat sketsa ke luar kota. Kemudian saya menyindirkan kepadanya, supaya kali lain kalau tidak pulang memberi tahu ke mana perginya.

■■■■■■■■■■

Jatuh Cinta

Ilustrasi hati yang tertancap panah yang melelehkan begitu banyak kebahagiaan. (Sumber: Gemini 3 AI)

Jatuh cinta menjadi bagian yang tidak dapat terelakkan lagi menjadi warna merah jambu (pink) yang membasahkuyupi hubungan selanjutnya antara Mas Har dan Adik Perempuan. W.S. Rendra dalam imajinasi keremajaannya yang belum genap 19 tahun pada saat itu, mampu menghadirkan kedewasaan psikologis yang melampaui hitungan tahun biologis.

Mas Har bisa jadi adalah representasi dari realitas betapa kedewasaan psikologis W.S. Rendr saat itu telah melampaui hitungan tahun biologisnya. Mas Har yang dideskripsikan sebagai lelaki yang sudah banyak memiliki asam garam pengalaman dalam pergaulan dengan banyak wanita. Ada upaya Mas Har untuk menyediakan ruang perenungan bagi Adik Perempuan agar dia tidak tergesa menuruti perasaan semata.

■■■■■■■■■■

KUTIPAN 07

Selang seminggu kemudian, ia berkata kepada kami, bahwa ia tidak akan pulang untuk beberapa hari, untuk membuat sketsa penangkapan ikan di laut. Saya merasa sangat kangen selama kepergiannya itu. Akhirnya, saya merasa jengkel setelah ternyata satu minggu dia belum pulang-pulang juga. Pada hari yang ke sembilan ia baru pulang dengan muka pucat dan penyakit yang berjangkit lagi. Ia mengeluh kepada saya.

“Wah, jahanam betul nyamuk-nyamuk pantai itu.”

Akan tetapi, saya menjawab dengan pendek, “Salahmu sendiri.”

Entah saya tak mengerti kenapa, tetapi saya merasa gemas, bahwa ia begitu lalai menjaga dirinya. Saya kembali marah kepadanya seperti dulu lagi. Akhirnya, pada suatu hari ia memanggil saya untuk datang ke garasinya dengan cara yang sukar dibantah. Saya disuruhnya duduk di sebuah kursi dan ia sendiri duduk di dipan yang agak jauh letaknya. Sakitnya belum sembuh betul. la mulai bertanya, “Kenapa kau marah?”

Saya merasa malu sekali. Saya akan bangkit pergi, tetapi ia berkata:

“Marilah kita bicarakan dulu hal ini secara terus terang sampai selesai betul. Saya telah berpikir dalam-dalam, dan saya telah tahu sebabnya.”

Saya tetap menunduk, sambil tak tahu apa yang akan saya kerjakan.

“Maharani,” katanya dengan suara seperti cello, “Kita berdua saling jatuh cinta.”

Jantung saya merasa akan pecah. Seluruh tubuh saya menjadi lemah.

“Bagi gadis muda seperti kau, jatuh cinta itu rasanya gemuruh dan membingungkan, kau harus tenang. Harus banyak kau renungkan dengan sabar bagaimanakah cintamu itu. Saya lelaki yang banyak pengalaman. Saya tahu betul bahwa cinta saya telah kau miliki dengan mutlak. Namun, kau lain halnya. Kau masih harus menyadarinya benar-benar dahulu. Maharani, kau sangat menderita. Kau harus berpikir tenang.”

Saya tidak bisa berkutik dan bersuara. Saya telah menyerah sama sekali kepadanya.

“Baiklah, Jadi sekarang bagi kita sudah bukan rahasia lagi, bahwa kita telah saling jatuh cinta. Namun, marilah kita tidak tergesa-gesa. Renungkanlah dahulu siapa saya. Bagaimana masa depanmu apabila jadi dengan saya. Marilah kita agak tenang dalam hal cinta. Sebab cinta itu bunga yang indah. Cinta adalah anugerah surgawi yang suci. Sekarang pulanglah dulu.”

■■■■■■■■■■

Adegan Romantis

Cinta dan adegan romantis selalu saja menjadi dua hal yang tidak dapat terpisahkan. Saling menggenapi. Seolah hendak mengibaskan cinta platonis ada lagu “Aryati” karya Ismail Marzuki yang mesti bertanya “dosakah hamba memuja dikau dalam mimpi?”. Sebuah lagu yang diciptakan pada tahun 1936 dan populer serta lekat dengan dansa lenso sekitar 1960-an.

Alih-alih sekadar merintihkan harapan “dosakah hamba mimpi berkasih dengan puan” sebagaimana ekspresi liris Ismail Marzuki, dengan daya ungkap yang realis W.S. Rendra ikhlas terhanyut dengan diksi-diksi yang lebih dari sempadan konseptualisasi asmara dengan daya pikat keagungan dan keindahannya. Akan tetapi, keagungan asmara yang terejawantahkan secara fisik lengkap dengan pagutan keindahannya.

■■■■■■■■■■

KUTIPAN 08

Saya merasa lemas dan tanpa daya. la bangkit dan menghampiri saya. Dibangkitkannya saya dari tempat duduk.

“Pulanglah dulu,” katanya.

Akan tetapi, saya sudah terlampau tak berdaya. Tiba-tiba ia membungkuk dan mencium pipi saya. Sempurnalah sekarang kekalahan saya. Saya roboh ke dadanya. la memeluk tubuh saya erat-erat. Saya hampir pingsan ketika merasakan badan saya dirapatkan ke badannya.

Badan saya serasa telah lebur menjadi satu dengan badannya. Ditengadahkannya muka saya dari dadanya. Lalu, terasalah bagaimana wajahnya mendekati wajah saya. Napasnya terasa hangat dan memabukkan. Akhirnya, diciumnyalah mulut saya penuh-penuh dengan mulutnya. Saya hampir-hampir tiada sadar akan diri saya.

Semuanya terjadi dengan gairah yang jujur dan suci. Semuanya merupakan kenang-kenangan yang indah yang tak akan saya lupakan. Siapa akan menyangka, bahwa lima hari kemudian panasnya memuncak dan tiba-tiba menutupkan matanya untuk selama-lamanya.

Kakak tersayang, setelah kau membaca surat saya ini, barangkali kau akan jadi mengerti segala latar belakang dari sikap saya terhadap semua lamaran-lamaran yang saya tolak itu. Bagaimanakah saya bisa disebutkan telah menyia-nyiakan umur muda.? Umur muda saya telah saya pergunakan dengan sebaik-baiknya. Mas Har telah memberikan pada saya bunga umur muda yang tak akan layu.

Bagaimanakah saya bisa disebut telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mengecap kenikmatan hidup? Saya telah merasai ciuman dan pelukan Mas Har sebagai kenikmatan hidup yang tak akan terlupakan. Saya sudah cukup puas dengan itu. Saya tak lagi menghendaki yang lain. Dan akhirnya, saya juga tak bisa dikatakan telah merusak hidup saya sendiri. Sebab, sekarang ini saya tetap merasakan tenteram dan puas.

Berbeda dengan yang lain bukanlah berarti menderita. Saya tak tahu bagaimana biasanya pada orang lain. Namun, saya telah cukup puas dengan ketenteraman saya yang sekarang. Percintaan saya yang sekali dalam hidup saya itu diliputi oleh kesucian dan keindahan. Tanpa ada bau kecabulan. Saya tak ingin merusak kenangan yang indah ini dengan perkawinan bersama orang lain. Saya ingin bisa berkata, “Saya telah pernah pula jatuh cinta. Percintaan itu suci, indah, nikmat, dan tak pernah bernoda.”

Dengan demikian puaslah sudah hati saya.

Demikianlah bunyi nukilan surat adik saya.

■■■■■■■■■■

Tinjauan Psikologis

Karakter Adik Perempuan dalam Cerpen “Pacar Seorang Seniman” karya W.S. Rendra yang baru saja kita nikmati bersama, relatif menarik untuk mendapatkan tinjauan dari perspektif teori psikologi modern (Klass, Silverman, & Nickman). Terdapat konsep yang dinamai Continuing Bonds.

Ilustrasi dari Gemini 3 AI.

Berlainan dari teori lama yang mengharuskan seseorang “melepaskan” atau move on sepenuhnya, teori Continuing Bonds (Ikatan yang Berkelanjutan) menyatakan masih wajar seseorang tetap merawat kenangan atau memelihara hubungan batin dengan seseorang lain yang telah tiada dan terikat dalam hubungan asmara semasa hidupnya.

Hanya saja, pada kasus naratif Adik Perempuan dalam cerpen tersebut, ikatan asmara dengan Mas Har di masa lalunya itu menjadi satu-satunya pemenuhan emosional. Dia merasa “kebutuhan cintanya sudah terpenuhi” atau menurut versi penyebutan psikologi adalah idealisme objek.

Adik Perempuan mengunci sosok Mas Har, kekasihnya, dalam bentuk gambaran yang sempurna. Oleh karena itu, tidak ada laki-laki yang masih hidup di dunia naratif Cerpen “Pacar Seorang Seniman” akan mampu menandingi “standar” kenangan dengan Mas Har yang begitu manis dan perfeksionis bertakhta di hatinya.

Terkait dengan pertanyaan, apakah ini merupakan gejala kejiwaan yang normal, semua tergantung pada sejauh mana perilaku Adik Perempuan itu mengkooptasi fungsi hidupnya. Dengan demikian, ada dua arah jawaban yang berbeda.

Bisa berada di dalam ranah kriteria wajar, apabila Adik Perempuan tetap mampu melanjutkan kehidupannya mencari nafkah dengan bekerja atau menjadi wiraswastawan, bersosialisasi dengan masyarakat, dan mengenyam kebahagiaan serta kedamaian hati dengan pilihan hidupnya tanpa merasa tertekan (distress). Melajang merupakan pilihan gaya hidup (lifestyle choice) dengan landasan motif kesetiaan personal.

Sementara itu, bisa pula berada di dalam ranah kriteria tidak wajar atau patologis, apabila pilihan karakter Adik Perempuan itu menolak lamaran menikah dari para lelaki yang terpesona pada keelokan parasnya dengan tindakan ikutan berupa isolasi sosial, depresi terselubung, atau ketidakmampuan menunaikan fungsi di masyarakat.

Bila setelah delapan tahun Adik Perempuan dalam Cerpen “Pacar Seorang Seniman” masih mengalami kesedihan intens seolah-olah kematian Mas Har itu baru terjadi kemarin, maka dia mungkin mengalami Prolonged Grief Disorder. Ini menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). Panduan yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA).

Prolonged Grief Disorder (PGD) atau Gangguan Duka Cita Berkepanjangan, menurut DSM-5-TR, mengacu pada kondisi duka intens yang menetap. Penandanya berupa kerinduan yang mendalam atau obsesi terhadap kekasih yang telah pergi ke rahmatullah (obsesi). Minimal berlangsung 12 bulan untuk orang dewasa setelah kepergian untuk selamanya dari sosok yang menjadi subjek kecintaannya. Tentu saja dengan ikutan adanya gejala yang mendistorsi fungsi hidup sehari-hari.

Ada hal di luar kesadaran karakter Adik Perempuan itu, merawat kenangan bersama Mas Har dapat menjadi bentuk mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) karena ada ketakutan akan kehilangan lagi di masa depan. Dengan “merawat kenangan cinta kepada Mas Har yang sudah meninggal delapan tahun sebelumnya”, Adik Perempuan merasa berada dalam posisi aman.

Logika yang dia bangun adalah orang yang sudah meninggal, tidak bakal bisa menyakiti, mengkhianati, atau meninggalkan dirinya lagi (secara emosional). Dalam perspektif teori psikologi, ino merupakan cara ego dari Adik Perempuan memproteksi diri dari kerentanan (vulnerability).

Dalam psikologi analitis, terdapat suatu kondisi kejiwaan manakala seseorang berada dalam kondisi kejiwaan jatuh cinta kepada sosok masa silamnya yang sudah berada di alam barzakh (kubur) atau sudah menjadi arwah. Namanya Sindrom The Ghostly Lover.

Adik Perempuan dalam Cerpen “Pacar Seorang Seniman” itu tidak lagi bisa mencintai para lelaki yang menunjukkan iktikad baik untuk melamarnya sebagai istri. Akan tetapi, dia lebih mencintai proyeksi pikirannya sendiri. Kenangan yang begitu mendalam terhadap cinta di masa lalunya, telah menjadikan Mas Har sebagai “pendamping gaib” yang menafikan (menolak) adanya interaksi interpersonal yang riil.

Jika sudah sampai pada kondisi seperti ini, dapat menghambat pertumbuhan psikologisnya. Sebab, dia seperti menghentikan dirinya sendiri untuk tumbuh secara wajar bersama orang lain dan hanya berputar di masa lalunya. Secara emosional, dia berhenti berkembang karena tidak ada tantangan interaksi dalam hubungan nyata.

Di masa tuanya, karakter Adik Perempuan itu, kalau langkah alur imajinasi ini boleh terus berlanjut, bisa saja dia akan mengalami kesepian eksistensial. Terlebih lagi tatkala dukungan sosial terhadap dirinya semakin berkurang banyak, mungkin ada satu noktah kesadaran yang menggugah kesadarannya mengenai dampak dari ketiadaan pasangan hidup yang nyata.

Berdasarkan tilikan pandang dari kacamata psikologi, kekukuhan Adik Perempuan mempertahankan kenangan asmaranya selama delapan tahun bersama Mas Har yang sudah meninggal. Dan, menutup diri sepenuhnya dari masa depan dengan menolak sejumlah lamaran dari para lelaki yang meminta kesediaannya menjadi istri. Hal tersebut merupakan indikasi adanya duka yang belum terselesaikan (unresolved grief).

Sepanjang Adik Perempuan itu merasa berbahagia dan mampu menunaikan fungsi sosialnya secara normal, bisa memperoleh sentuhan anggapan sebagai deviasi kepribadian yang stabil. Akan tetapi, menjadi lain persoalannya, manakala dia merasakan suatu kehampaan yang menyesaki dada. Dia terjebak di situ dan tidak kuasa untuk keluar.

Selanjutnya terserah Anda untuk melanjutkan dengan imajinasi sendiri perjalanan narasi selebihnya dari Cerpen “Pacar Seorang Seniman” karya W.S. Rendra ini. Apakah Anda ingin memastikan bahwa pilihan Adik Perempuan itu memang lahir sepenuhnya sebagai pilihan yang sadar dan tentu saja dengan segenap dampak plus dan minus yang menunggunya? Dan, bukan cerminan dari trauma masa silam yang belum kunjung sembuh?

Terkadang memaknai kegiatan pembacaan suatu karya fiksi. Terlebih ketika ending-nya begitu terbuka dan tersedia ruang bagi khalayak audiens untuk mengontribusikan kemampuan imajinasinya. Justru bisa bermula manakala kata terakhir dari karya fiksi tersebut telah berlalu dalam kunyahan pembacaan. ***