Lurah Tanpa Bu Lurah: Sebuah Memoar untuk Mbah Ime

Mahasiswa S1 jurusan Sejarah Peradaban Islam di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari mohammad sirojul akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
![In Memoriam [Dok. KKN]](https://blue.kumparan.com/image/upload/fl_progressive,fl_lossy,c_fill,f_auto,q_auto:best,w_640/v1634025439/01g9pjsvrbjdy3tfphkntr412w.jpg)
Saya bertemu Mbah Ime—sapaan akrab lurah (kepala desa) desa Jajar—ketika awal survei KKN di desa Jajar. Waktu itu kami ber-delapan, mengunjungi desa Jajar untuk pertama kali. Kami langsung menuju kantor desa. Di sana kami langsung disambut oleh perangkat desa, yaitu Pak Wit dan Bu Yanti. Siapa sangka di kemudian hari, keduanya—termasuk masyarakat Jajar lainnya—menjadi keluarga saya.
Pada saat itu, kami memang disuruh menunggu dulu kedatangan dari lurah, yang kata salah satu dosen kami masih bujang. Term ‘masih bujang’ itu yang mengkontruksi pikiran saya bahwa lurah tersebut masih muda, sebagaimana pemimpin-pemimpin muda lainnya di berbagai tempat. Namun, yang menjadikan aneh adalah term ‘mbah lurah’ yang disematkan oleh para perangkat desa yang menyambut kami pada saat itu.
Term ‘mbah lurah’ seakan memutarbalikkan anggapan saya bahwa kepala desa Jajar masih muda. Harusnya jika memang masih muda, ada term yang lebih tepat dan tidak menyalahi aturan, katakanlah ‘mas lurah’, itu lebih merepresentasikan kemudaannya. Jadi, pertanyaan saya, lurah desa Jajar itu masih berusia muda atau sudah berumur. Kenapa masih membujang jika memang secara biologis sudah tidak berusia muda. Itu yang menjadi unek-unek di kepala saya pada saat itu.
Saya kemudian melihat banner yang terpampang di kantor desa menunjukkan sosok dari yang disebut ‘mbah lurah’ itu. Ya, ternyata kepala desa Jajar memang sudah berumur, mungkin kepala empat.
Beberapa saat setelah kami menunggu, akhirnya dia—tanpa mengurangi rasa hormat—datang juga. Mengenakan surjan—pakaian khas Jawa—dengan udeng di kepalanya. Dia menyambut kami dan mempersilakan duduk, meskipun sebelumnya kami sudah dipersilakan duduk oleh Pak Wit dan Bu Yanti. Dia tidak memperkenalkan namanya, tapi kami sudah tahu bahwa dia adalah orang yang kami tunggu. Salah satu di antara kami bertanya dengan maksud mengkonfirmasi langsung bahwa namanya adalah Imam. Maklum, salah seorang teman tersebut memang pembacaannya atas Jajar sudah dipersiapkan jauh hari sebelum kami survei.
Dia membenarkan pertanyaan dari teman saya itu, bahwa namanya adalah Imam, Imam Mukaryanto Edi. Tapi akrab disapa Mbah Ime—sapaan 'Ime' baru saya temukan maksudnya ketika beberapa hari tinggal di desa Jajar, yaitu akronim dari nama lengkapnya. Secara linguistik saja namanya ‘Imam’, yang berarti pemimpin. Tapi masak orang yang di depan saya ini belum menikah.
Dia mengeluarkan rokok LA Lights, mengambil satu, lalu sisanya ditawarkan kepada kami dengan menyodorkannya ke tengah. Andaikan saya tidak sungkan saat itu, sudah pastinya saya sikat itu rokok. Dengan berbincang-bincang, dia membakar rokoknya dengan diawali menyulut api di filternya, aneh.
Kami bersama Mbah Ime membincangkan banyak hal, mulai dari jumlah penduduk, kondisi sosial, budaya dan ekonomi, potensi lokal, potensi alam, kesehatan, literasi dan masih banyak lagi. Sebelumnya, dia juga menanyai kami satu per satu terkait nama dan alamat. Kemudian lanjut sharing masalah ke-desa-an. Saya yang pada saat itu masih first time bertemu dengannya, belum bisa mengikuti pembicaraannya. Selain karena masih sungkan, saya memang begitu ketika bertemu orang baru yang jauh lebih tua dengan saya.
Setelah perbincangan kami selesai, kami izin untuk berjalan-jalan keliling desa, dengan angkuhnya kami bilang pemetaan. Dia mempersilakan dan kami berkeliling mulai dari belakang kantor desa ke timur, ke arah dusun mBelik.
Pertemuan pertama kami memang singkat, karena kemudian pihak LP2M menyusul ke kantor desa. Dan ternyata, sosok mbah lurah tersebut merupakan adik kelas dari Kepala Pusat Pengabdian kami, Dr. Muntahibun Nafis. Mungkin karena relasi tersebut yang kemudian kami di tempatkan di Desa Jajar. Sebelumnya memang sudah banyak KKN yang silih berganti di sini.
Lurah Muda yang Sepuh
Mungkin, tidak banyak pemimpin setingkat kepala desa yang masih trengginas seperti Mbah Ime. Tanpa menyudutkan lurah desa lainnya, tapi kebanyakan posisi-posisi lurah itu biasanya diduduki oleh orang-orang yang sudah sepuh, maka dari itu disebut dengan 'mbah lurah'. Memang terma 'sepuh' ini merujuk pada konteks biologisnya karena notabene orang yang sudah sepuh sudah lebih dulu mengalami pahit-manisnya hidup, sehingga bisa dikatakan memiliki kebijaksanaan dalam setiap mengambil tindakan.
Mbah Ime, secara biologis tidak bisa dikatakan muda, karena memang sudah berumur. Tapi di lain sisi juga tidak bisa dikategorikan sebagai sepuh, karena memang secara biologis tidak pantas untuk itu. Muda atau sepuh, Mbah Ime memang tidak pantas menyandang salah satunya, karena tidak jelas posisinya ada di mana.
Mbah Ime meskipun tidak bisa dikatakan muda lagi, tapi jiwanya masih muda. Ide-idenya selalu jenius dan 'muda' sekali. Sebagaimana program-program yang digagasnya: Jajar Gumregah (Gerakan Usaha Mandiri Warga untuk Ekonomi Generasi Berkah), Watu Jajar (Wani Tuku Produksi Jajar), Jajar Rambanan (Rame-Rame Berbarengan Nandur), Jajar Ngerti (Ngeruhi Teknologi Informasi), Jajar Waluyo (Wani Nguri-Nguri Budoyo), Jajar Sred (Sregep Dungo), dan masih banyak program lainnya yang dikemas dalam akronim-akronim unik. Dia juga masih punya semangat muda untuk menjalankan apa-apa yang menurutnya akan berguna bagi masyarakat.
Selain itu, dia tahu bagaimana cara bergaul dengan kami yang masih muda, sehingga seakan-akan sekat-sekat patron-client di antara kami sudah melebur. Kadang pisuh-pisuhan, gegojegan, dan saking akrabnya, dia seperti teman sendiri. Sampai-sampai kami mengesampingkan jabatan lurah yang disandangnya. Sehingga, itu yang menjadikan Mbah Ime selalu tampak muda dalam jiwanya.
Mbah Ime juga selalu 'melek bengi', mungkin karena masih bujang. Pelataran rumahnya didesain seperti balai pertemuan, yang mana setiap malam ada saja tamunya, ada saja pembahasannya, dan ada saja makanannya—termasuk rokok—untuk menembus malam sampai pagi. Teman-temannya dari berbagai kalangan, mulai dari santri, budayawan, pejudi, akademisi, mahasiswa, jurnalis, seniman, pegawai birokrasi pemerintahan dan tentunya masyarakat Jajar sendiri.
Tentunya, bergaul dengan berbagai jenis dan lapisan masyarakat, menjadikan Mbah Ime mendapatkan kebijaksanaan (sepuh) betapa pun dia belum sepuh secara biologis. Kebijaksanaannya itu mewujud dalam beberapa gagasannya, seperti impiannya untuk menyatukan nilai-nilai Islam dan Jawa di desa Jajar dengan cara menggelar event bertajuk Megengan Show—yang sudah digagas jauh sebelum menjadi lurah—bersama Jajar Tangguh Community (JTC). Menurutnya, Megengan Show merupakan sebuah inovasi budaya dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Tujuannya adalah untuk melestarikan seni dan budaya yang hampir punah, serta bentuk perayaan kegembiraan dalam menyambut bulan suci melalui hiburan rakyat.
Adapun yang menunjukkan kesepuhannya adalah, dulu waktu kami awal-awal di Jajar, dia berkata bahwa selama di desa Jajar masih ada, jangan beli di luar. Karena yang kita makan adalah bahan dari Jajar, yang kita minum adalah air dari Jajar, yang kita pijak adalah tanah dari Jajar dan yang kita hirup adalah oksigen dari Jajar. Dia menambahkan, jikalau di Jajar masih ada tapi kami cari di luar, maka siap-siap angkat kaki dari desa Jajar. Itu sebuah ultimatum yang sangat mengerikan ketika saya mendengar pada saat itu. Namun bagaimana lagi, jelas-jelas itu merupakan salah satu bentuk nasionalisme desa yang ia gagas melalui Watu Jajar (Wani Tuku Produk Jajar).
Siapa sangka, dari program-program yang dikemas kekinian tersebut ternyata mempunyai nilai-nilai kekunoan dan filosofi tersendiri, yang tentunya dalam rangka memakmurkan desa Jajar. Maka, pantas-pantas saja jika Mbah Ime betapapun jiwanya masih muda, tapi memiliki pengetahuan yang sepuh dan kebijaksanaan dalam membuat kebijakan.
Kesaktian Mbah Ime
Banyak kejadian-kejadian yang menunjukkan 'kesaktian' dari Mbah Ime yang dilihat oleh teman-teman KKN. Betapa pun sebenarnya saya yakin, Mbah Ime dengan pengalaman intelektualnya selama ngangsu kawruh dari kampus ke kampus dan buku-buku yang tertata rapi di rak, tentunya lebih condong pada pengetahuan yang sifatnya rasio-empiris dengan tetap memiliki sisi spiritualnya. 'Kesaktian' Mbah Ime semata-mata karena kegagalan teman-teman dalam meruntut alur epistemologinya, di lain sisi Mbah Ime sendiri yang memang memiliki kesan sakti dari penampilannya. Kesaktian di sini, tentunya adalah hal-hal (yang terkesan) di luar nalar yang dimiliki Mbah Ime.
Konon katanya, Mbah Ime bisa mengundang bupati Trenggalek hanya dengan lewat pesan WhatsApp. Saya tidak tahu pasti kebenarannya, tapi menurut teman-teman itu dibuktikan pada saat event Megengan Show. Dalam acara tersebut memang bupati Trenggalek datang, tapi saya tidak tahu apakah memang hanya via WhatsApp atau ada undangan resmi, atau malah keduanya. Tapi menurut beberapa orang memang via WhatsApp.
Adapun juga, Mbah Ime bisa mengetahui bahwa si A dengan si B memiliki hubungan. Saya tidak habis pikir, beberapa orang yang disebutkan memiliki hubungan memang benar demikian adanya. Saya pernah mencoba untuk meruntut bagaimana dia bisa mengetahui hal-hal tersebut. Namun, dia memotong dengan mengatakan hanya feeling. Sudah barang tentu saya tidak percaya begitu saja jika hanya feeling, tapi dia tidak menjelaskan lebih lanjut.
Saya juga pernah mendapati Mbah Ime dikirimi rokok LA Ligts satu slop utuh secara cuma-cuma. Batin saya, memang benar-benar 'sakti' orang ini. Sakti di sini dalam artian karena dia memang punya pengaruh bagi masyarakat, atau telah berjasa atas suatu hal, atau yang lainnya.
Memang begitulah Mbah Ime, dengan segala keanehannya dan hal-hal yang kadang tidak bisa dipahami. Dan itulah yang menjadikan dia berbeda dari lurah-lurah lainnya, tentunya selain karena dia tidak memiliki Bu Lurah.
