Kumparan Logo

Anak di Bawah 6 Tahun Belum Butuh Mainan Edukatif, Ini 4 Hal yang Lebih Penting

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi Anak Membaca Buku Foto: R7 Photo/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak Membaca Buku Foto: R7 Photo/Shutterstock

Moms, di tengah gempuran informasi soal "stimulasi anak sejak dini", wajar jika Anda merasa perlu memberi anak segalanya sejak kecil: flashcards, aplikasi belajar berhitung, les membaca, sampai mainan edukatif yang katanya bisa mempercepat tumbuh kembang.

Semua itu tidak salah, tapi ada empat hal lain yang justru lebih menentukan masa depan anak — dan sebagian besar gratis.

Belajar Membaca Sejak Dini, Benarkah Selalu Jadi Keunggulan?

Sebagian anak yang bisa membaca lebih awal bisa unggul secara akademik saat awal masuk sekolah. Tapi menurut riset, keunggulan itu tidak selalu bertahan lama. Fenomena ini dikenal sebagai fade-out effect— keunggulan akademik dari stimulasi dini cenderung memudar begitu anak-anak lain "mengejar ketertinggalan" di kelas-kelas awal SD.

Yang justru terus berpengaruh jauh melampaui tahun-tahun pertama sekolah adalah kemampuan anak untuk fokus, bergerak dengan percaya diri, mengatasi kesulitan, dan memahami apa yang terjadi di dalam dirinya sendiri, atau regulasi emosi.

4 Hal yang Lebih Dibutuhkan Anak Usia di Bawah 6 Tahun

Ilustrasi anak balita berlari. Foto: Shutter Stock

1. Banyak Bergerak

Berlari, memanjat, melompat, merangkak, bergelantungan, membawa barang, jatuh, lalu mencoba lagi.

Semakin sedikit instruksi dan semakin banyak ruang bagi seluruh tubuhnya untuk "memecahkan masalah" sendiri, semakin baik.

2. Kesempatan Melatih Keseimbangan

Ilustrasi ayah ajari anak naik sepeda. Foto: Shutter Stock

Skuter, sepeda, ayunan, berjalan di atas tembok rendah, berputar-putar, bergelantungan terbalik — hal-hal yang terlihat "sedikit berantakan" tapi memang secara alami disukai anak.

Keseimbangan, koordinasi, dan kesadaran tubuh dibangun lewat gerakan aktif, bukan lewat duduk diam berlatih cara duduk diam.

3. Stimulasi Sensorik

Ilustrasi anak membuat slime. Foto: Shutterstock

Air, pasir, lumpur, adonan, batu, ranting, tanah liat. Biarkan anak menuang, meremas, menggali, membongkar, lalu membangun ulang.

Tangan anak butuh merasakan berbagai berat dan tekstur. Satu set "aktivitas motorik halus" yang dirancang sempurna belum tentu mengalahkan 40 menit bermain lumpur dengan seember air.

4. Regulasi Emosi

Orang tua perlu memahami jenis-jenis tantrum pada anak Foto: Shutterstock

"Sepertinya kamu capek ya." "Kamu kesal karena itu nggak berhasil." "Mungkin suara itu bikin kamu takut." "Kamu lagi nggak mau didekati siapa-siapa dulu."

Anak kecil tidak otomatis tahu bagaimana rasanya frustrasi, takut, lapar, atau kewalahan. Mereka belajar bahasa untuk perasaan itu dari orang-orang di sekitarnya.

Saat si kecil tantrum, jangan hanya fokus menghentikan perilakunya — bantu ia menghubungkan perasaan dengan kata-kata. Lama-kelamaan, apa yang orang tua beri nama akan menjadi sesuatu yang bisa mereka sebut sendiri. Ini kemampuan yang akan mereka pakai jauh lebih lama dari sekadar masa prasekolah.

Bukan Berarti Harus Berhenti Melakukan Aktivitas Edukatif

Jika si kecil sedang tertarik dengan angka atau huruf, tak perlu menghentikan minatnya, Moms. Hanya saja, pastikan kebutuhannya untuk mengoptimalkan aktivitas fisik dan stimulasi yang dibutuhkan sesuai usia tetap terakomodir, ya.