Kumparan Logo

Anak Mengalami GERD? Ini Pola Makan dan Kebiasaan yang Perlu Diperhatikan

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Anak Mengalami GERD? Ini Pola Makan dan Kebiasaan yang Perlu Diperhatikan. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Anak Mengalami GERD? Ini Pola Makan dan Kebiasaan yang Perlu Diperhatikan. Foto: Shutterstock

Penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) tidak hanya dapat dialami orang dewasa, tetapi juga bisa terjadi pada anak. Menurut Anggota Unit Kerja Koordinasi Gastroenterohepatologi IDAI, dr. Sri Kesuma Astuti, Sp.A, Subsp.G.H(K), perubahan gaya hidup saat ini membuat anak yang tidak memiliki penyakit bawaan sekali pun tetap berisiko mengalami GERD.

GERD merupakan kondisi ketika isi lambung berulang kali naik kembali ke kerongkongan hingga menimbulkan keluhan yang mengganggu atau bahkan menyebabkan komplikasi. Jadi, refluks atau naiknya isi lambung belum tentu disebut GERD jika belum menimbulkan gejala maupun gangguan kesehatan.

Pada anak, GERD dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari katup antara lambung dan kerongkongan yang belum berfungsi sempurna, obesitas, hingga kebiasaan makan yang kurang tepat. Sayangnya, kondisi ini sering terlambat dikenali, karena gejalanya kerap menyerupai gangguan pencernaan biasa.

Ilustrasi anak mual dan muntah. Foto: MIA Studio/Shutterstock

Selain itu, orang tua perlu mewaspadai bila anak mengalami:

-Muntah berulang

-Nyeri dada atau perut

-Batuk kronis

-Bau mulut

-Sulit makan

-Hingga keluhan rasa panas di dada pada anak yang sudah lebih besar.

Penanganan GERD pada anak tidak hanya mengandalkan obat, tetapi juga perlu disertai dengan perubahan pola makan dan kebiasaan sehari-hari.

Ubah Kebiasaan yang Bisa Memicu GERD

Ilustrasi anak sakit perut. Foto: Shutterstock

Salah satu kebiasaan yang perlu dihindari adalah makan sambil bermain gadget dalam posisi berbaring. Menurut dr. Sri, posisi tersebut dapat mempermudah terjadinya refluks atau aliran balik isi lambung ke kerongkongan.

“Kadang-kadang ngemil, makan posisi tertidur,” imbuhnya dalam acara webinar bersama IDAI, Selasa (23/6).

Selain itu, anak juga sebaiknya tidak makan terlalu dekat dengan waktu tidur. Makanan padat membutuhkan waktu sekitar tiga jam untuk keluar dari lambung menuju usus halus. Oleh karena itu, makan terakhir sebaiknya dilakukan setidaknya tiga jam sebelum tidur, sehingga lambung sudah lebih kosong dan risiko refluks dapat berkurang.

Ini Makanan yang Sebaiknya Dihindari

Selain memperbaiki kebiasaan makan, orang tua juga perlu memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi anak.

Sambal, ilustrasi makanan pedas. Foto: Shutterstock

-Hindari Makanan Pedas

dr. Sri menyarankan anak dengan GERD membatasi makanan pedas karena kandungan capsaicin di dalamnya dapat merangsang produksi asam lambung.

-Hindari Makanan Berlemak

Makanan berlemak juga sebaiknya dikurangi karena membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna. Akibatnya, lambung menjadi lebih lambat kosong sehingga risiko refluks meningkat.

Pikir dua kali sebelum memberikan kopi pada anak Foto: Shutterstock

Tak hanya itu, beberapa jenis makanan dan minuman lain juga dapat memicu gejala GERD karena membuat katup antara lambung dan kerongkongan lebih mudah terbuka. Di antaranya adalah makanan atau minuman yang mengandung kafein, cokelat, serta minuman bersoda.

“Jadi makanan-makanan apa yang kemudian akan lebih mempermudah membukanya klep pembatas antara lambung dan kerongkongan, seperti apa? Kafein, coklat coklat, makanan bersoda itu sebaiknya dihindari,” tutupnya.

kumparan post embed