Karhutla Masih Terjadi di Sejumlah Provinsi, Ini Dampak Asapnya bagi Anak

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Hingga 22 Agustus 2026, luas hutan dan lahan yang terbakar dilaporkan mencapai 64.341 hektare. Kondisi ini juga menyebabkan kabut asap melanda sejumlah wilayah sejak Juli dan semakin meluas pada Agustus 2026.
Karhutla terjadi di beberapa wilayah, di antaranya Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, hingga Papua Tengah. Selain mengganggu aktivitas masyarakat, kabut asap akibat karhutla juga dapat berdampak pada kesehatan, terutama anak-anak.
Kenapa Anak Lebih Rentan Terkena Dampak Asap Karhutla?
Menurut Dokter Spesialis Anak, dr. Aisya Fikritama, SpA, anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap paparan asap kebakaran hutan dan lahan. Hal ini berkaitan dengan kondisi paru-paru dan sistem imun anak yang masih berkembang.
“Paru-paru dan sistem imun anak masih dalam proses perkembangan. Frekuensi napas anak juga lebih tinggi dibanding orang dewasa, sehingga dalam kondisi lingkungan yang sama, jumlah polutan yang terhirup relatif lebih besar,” ujar dr. Aisya.
Artinya, ketika kualitas udara memburuk akibat kabut asap karhutla, anak dapat menghirup polutan dalam jumlah yang relatif lebih besar dibandingkan orang dewasa pada kondisi lingkungan yang sama.
Dampak Asap Karhutla pada Kesehatan Anak
Asap kebakaran mengandung berbagai polutan yang dapat mengiritasi saluran pernapasan. Pada anak, paparan asap karhutla dapat menimbulkan sejumlah keluhan, seperti:
Iritasi mata, hidung, dan tenggorokan
Batuk dan pilek
Sesak napas
Mengi
Memicu kekambuhan asma
Gangguan pernapasan pada paparan berat
Karena itu, orang tua perlu memerhatikan kondisi anak selama kabut asap masih terjadi, terutama jika anak memiliki riwayat masalah pernapasan.
Cara Melindungi Anak dari Kabut Asap Karhutla
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk mengurangi paparan asap pada anak.
“Salah satunya dengan mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama ketika kualitas udara sedang buruk,” kata dr. Aisya.
Selain itu, dr. Aisya juga menyarankan untuk menutup pintu dan jendela ketika asap berada di luar rumah. Orang tua juga dapat menjaga kualitas udara di dalam rumah dan, bila diperlukan, menggunakan air purifier dengan HEPA filter.
“Jangan lupa menghindari sumber asap lain, seperti asap rokok dan pembakaran sampah, agar paparan polutan pada anak tidak semakin bertambah,” tambahnya.
Orang tua perlu segera mencari pertolongan medis apabila anak mengalami sesak berat, napas cepat, sulit berbicara atau makan karena sesak, serta terlihat lemas atau mengantuk.
Sementara itu, batuk yang menetap, mengi, atau keluhan pernapasan lainnya juga perlu dipantau. Jangan menunggu sampai kondisi anak semakin parah untuk mendapatkan pemeriksaan.
