Perihal Self-Love: Apakah Kritiknya yang Menyakitkan atau Luka yang Tersentuh?

Co Founder - Ayurjnana Wellness and Spirit Center
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Johnson Khuo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Saya hanya memberi masukan biasa, kenapa reaksinya sebesar itu?"
Pertanyaan ini mungkin pernah muncul di benak banyak orang. Di tempat kerja, organisasi, keluarga, maupun komunitas, sebuah masukan yang sebenarnya sederhana kadang dapat memicu reaksi yang jauh lebih besar dari yang diduga: marah, tersinggung, membela diri, menarik diri, bahkan memutus hubungan.
Kita sering menganggap persoalannya terletak pada cara penyampaian atau pada ketidakmampuan seseorang menerima kritik. Namun bagaimana jika yang sebenarnya terluka adalah bukan karena kritik itu sendiri?
Bagaimana jika yang tersentuh adalah bagian diri yang sejak lama merasa tidak cukup baik?
Mengapa Feedback Terasa Menyakitkan?
Dua orang dapat menerima masukan yang sama tetapi memberikan respons yang sangat berbeda.
Seorang supervisor berkata:
"Laporan ini masih perlu diperbaiki."
Seseorang mungkin menjawab:
"Baik, bagian mana yang perlu saya revisi?"
Sementara orang lain langsung merasa malu, kecewa, atau marah.
Perbedaannya sering kali bukan terletak pada isi masukan, melainkan pada makna yang diberikan terhadap masukan tersebut.
Bagi sebagian orang, feedback dipahami sebagai informasi untuk belajar. Bagi yang lain, feedback terasa seperti ancaman terhadap harga diri.
Masukan tentang pekerjaan berubah menjadi penilaian terhadap diri.
"Laporan ini perlu diperbaiki" terdengar sebagai "Saya tidak cukup baik."
"Kamu perlu lebih teliti" terdengar sebagai "Saya selalu gagal."
Di sinilah rasa sakit sering kali muncul.
Ketika Kebutuhan yang Belum Terpenuhi Ikut Berbicara
Setiap manusia memiliki kebutuhan psikologis yang mendasar: diterima, dihargai, dipercaya, dilihat, dan dicintai.
Namun tidak semua kebutuhan tersebut terpenuhi dengan cukup dalam perjalanan hidup kita.
Ada yang tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya harus selalu berprestasi agar dihargai. Ada yang terbiasa mencari pengakuan karena jarang merasa benar-benar dilihat. Ada yang sangat sensitif terhadap penolakan karena pernah mengalami pengalaman ditolak yang mendalam.
Ketika kebutuhan-kebutuhan ini masih rapuh, sebuah masukan dapat terasa jauh lebih besar daripada yang sebenarnya.
Bukan karena orang tersebut lemah.
Melainkan karena ada bagian dalam dirinya yang sedang berusaha melindungi luka lama.
Kita Tidak Selalu Mendengar Apa yang Diucapkan Orang
Sering kali kita mengira sedang mendengar kata-kata orang lain. Padahal yang kita dengar adalah campuran antara apa yang mereka katakan dan cerita lama yang hidup di dalam diri kita.
Seseorang berkata:
"Tolong lebih disiplin."
Namun yang terdengar adalah:
"Kamu mengecewakan."
Atau:
"Kamu tidak cukup baik."
Atau:
"Kamu tidak layak dipercaya."
Kalimat-kalimat ini mungkin tidak pernah diucapkan. Namun ia terasa nyata karena berasal dari pengalaman masa lalu yang belum sepenuhnya selesai.
Kita bereaksi bukan hanya terhadap feedback yang sedang diberikan, tetapi juga terhadap luka yang disentuh oleh feedback tersebut.
Apa Hubungannya dengan Self-Love?
Di sinilah self-love menjadi sangat penting.
Banyak orang membayangkan self-love sebagai menerima diri apa adanya atau memanjakan diri sendiri. Padahal salah satu bentuk self-love yang paling menantang adalah kemampuan untuk tetap berpihak pada diri sendiri ketika menerima masukan yang tidak menyenangkan.
Kita mudah mencintai diri ketika berhasil.
Kita mudah menerima diri ketika dipuji.
Namun bagaimana ketika kita dikoreksi?
Bagaimana ketika seseorang menunjukkan kesalahan kita?
Bagaimana ketika kita gagal memenuhi ekspektasi?
Pada saat-saat seperti itulah kualitas hubungan kita dengan diri sendiri benar-benar terlihat.
Orang yang belum memiliki fondasi self-love yang kuat sering kali mencampuradukkan antara tindakan dan identitas.
"Saya melakukan kesalahan" berubah menjadi "Saya adalah kesalahan."
"Saya kurang baik dalam hal ini" berubah menjadi "Saya tidak cukup baik."
Sebaliknya, self-love yang sehat memungkinkan seseorang berkata:
"Ya, saya perlu belajar dari masukan ini. Tetapi nilai diri saya sebagai manusia tidak berkurang karenanya."
Dari Defensif Menjadi Ingin Tahu
Ketika menerima masukan yang tidak nyaman, kebanyakan dari kita bertanya:
"Mengapa dia mengatakan itu kepada saya?"
Namun ada pertanyaan lain yang mungkin lebih penting:
"Apa yang sebenarnya tersentuh di dalam diri saya?"
Apakah saya merasa tidak dihargai?
Apakah saya takut dianggap gagal?
Apakah saya takut ditolak?
Apakah saya sedang mendengar kata-kata orang lain, atau sedang mendengar suara lama yang sudah lama hidup di dalam diri saya?
Pertanyaan-pertanyaan ini membuka pintu menuju pemahaman yang lebih dalam.
Feedback Sebagai Jalan Mencintai Diri
Mungkin salah satu tanda self-love yang matang bukanlah kemampuan untuk selalu merasa nyaman dengan diri sendiri.
Melainkan kemampuan untuk tetap memegang diri sendiri dengan kelembutan ketika melihat kekurangan yang nyata.
Feedback tidak selalu menyenangkan. Kadang ia menunjukkan hal-hal yang memang perlu kita ubah.
Namun ketika fondasi self-love cukup kuat, kita tidak perlu memilih antara menerima diri dan bertumbuh.
Kita bisa melakukan keduanya sekaligus.
Kita bisa belajar tanpa membenci diri sendiri.
Kita bisa berubah tanpa merasa tidak berharga.
Dan mungkin di situlah makna self-love yang sesungguhnya: bukan mencintai diri karena kita sempurna, tetapi tetap memperlakukan diri dengan welas asih bahkan ketika kita sedang melihat bagian-bagian diri yang masih perlu bertumbuh.
