Saat Layar Menjadi Pengasuh: Dampak Handphone Pada Pola Asuh Anak

Mahasiswa Universitas Pamulang Program Studi Akuntansi Perpajakan
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Muhammad Zaidan Nashir tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika handphone menjadi cara tercepat untuk menenangkan anak, orang tua menghadapi dilema: memanfaatkan teknologi untuk membantu pengasuhan atau tanpa sadar membiarkan layar mengambil alih ruang interaksi keluarga.
Seorang anak menangis di meja makan. Ia merengek, menolak duduk tenang, bahkan sesekali berteriak ketika keinginannya tidak dituruti. Di tengah kelelahan setelah bekerja seharian, orang tuanya mencoba berbagai cara untuk menenangkan keadaan. Namun, tangisan itu baru benar-benar mereda ketika sebuah handphone disodorkan ke tangannya.
Beberapa detik kemudian, suasana berubah. Anak yang semula menangis kini terpaku pada video berwarna-warni di layar. Orang tua akhirnya bisa melanjutkan makan, menyelesaikan pekerjaan, atau sekadar menikmati waktu tanpa suara rengekan.
Pemandangan seperti ini semakin akrab dalam kehidupan keluarga modern. Handphone menjadi teman perjalanan, hiburan saat makan, pengisi waktu ketika orang tua sibuk, bahkan alat andalan ketika anak mulai rewel di tempat umum.
Tidak sulit memahami mengapa kebiasaan tersebut muncul. Mengasuh anak bukan pekerjaan sederhana. Orang tua harus membagi waktu antara pekerjaan, urusan rumah tangga, kebutuhan ekonomi, dan perhatian terhadap anak. Dalam situasi tertentu, handphone terasa seperti pertolongan kecil yang sangat berarti.
Namun, ada pertanyaan yang patut kita renungkan: ketika layar semakin sering menjadi cara untuk menenangkan anak, apakah kita masih menggunakan teknologi sebagai alat bantu pengasuhan, atau justru mulai menyerahkan sebagian peran pengasuhan kepada teknologi?
Pertanyaan ini bukan ajakan untuk memusuhi handphone. Teknologi digital memiliki manfaat nyata bagi pendidikan, kreativitas, dan akses informasi. Persoalannya terletak pada bagaimana perangkat tersebut digunakan, berapa lama anak terpapar layar, apa yang mereka tonton, dan apakah kehadiran teknologi justru mengurangi kesempatan mereka untuk berinteraksi dengan orang-orang terdekat.
Anak Indonesia Tumbuh di Tengah Dunia Digital
Bagi banyak anak masa kini, layar bukan lagi sesuatu yang asing. Mereka mengenal video digital, permainan interaktif, dan aplikasi hiburan sejak usia sangat dini, bahkan sebelum mampu membaca atau menggunakan perangkat secara mandiri.
Gambaran ini tercermin dalam data nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 yang dikutip portal resmi pemerintah Indonesia, sebanyak 39,71 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler dan 35,57 persen telah mengakses internet. Angka tersebut menunjukkan bahwa teknologi digital sudah hadir dalam kehidupan sebagian besar keluarga dengan anak kecil, meskipun tingkat penggunaannya berbeda-beda. Sumber: Indonesia.go.id.
Angka itu bukan bukti bahwa semua anak mengalami dampak buruk akibat handphone. Namun, data tersebut memperlihatkan bahwa pembicaraan tentang pola asuh anak tidak lagi dapat dipisahkan dari kebiasaan digital di rumah.
Dahulu, ketika anak bosan, orang tua mungkin mengajaknya berbicara, membacakan cerita, memberinya kertas untuk menggambar, atau membiarkannya bermain di halaman. Kini, salah satu pilihan yang paling cepat tersedia adalah memberikan perangkat dengan akses ke berbagai hiburan.
Perubahan ini terlihat sederhana, tetapi dapat memengaruhi kebiasaan keluarga. Jika setiap rasa bosan langsung dijawab dengan layar, anak memiliki lebih sedikit kesempatan untuk belajar menunggu, mencoba kegiatan lain, atau menyampaikan kebutuhannya melalui percakapan.
Tentu saja, satu kali memberikan handphone ketika anak rewel tidak serta-merta merusak perkembangan mereka. Yang perlu diperhatikan adalah pola yang berulang. Ketika layar menjadi jawaban untuk hampir setiap situasi, orang tua perlu mengevaluasi apakah kebiasaan tersebut masih sesuai dengan kebutuhan anak.
Ketika Handphone Menjadi Pengasuh Pengganti
Istilah digital babysitter atau pengasuh digital sering digunakan untuk menggambarkan situasi ketika perangkat elektronik diberikan kepada anak agar mereka tetap tenang sementara orang tua mengerjakan hal lain.
Dalam keadaan tertentu, penggunaan tersebut dapat dimengerti. Orang tua yang harus memasak, bekerja dari rumah, menunggu antrean, atau menyelesaikan urusan mendesak mungkin membutuhkan waktu beberapa menit untuk mengatur keadaan.
Masalahnya bukan semata-mata pada tindakan memberikan handphone, melainkan ketika cara praktis tersebut menjadi kebiasaan utama dan menggantikan berbagai bentuk interaksi yang sebenarnya dibutuhkan anak.
Anak kecil sedang belajar mengenali emosi, memahami aturan, mengungkapkan keinginan, dan merespons lingkungan. Dalam proses tersebut, orang tua berperan membantu anak memahami apa yang sedang mereka rasakan dan bagaimana menghadapinya.
Ketika anak marah karena mainannya diambil, misalnya, orang tua dapat membantunya mengenali rasa kecewa, menjelaskan aturan bergantian, dan mencari jalan keluar. Proses ini memang membutuhkan waktu dan kesabaran.
Jika setiap tangisan langsung dihentikan dengan video, kesempatan untuk berlatih menghadapi emosi tersebut bisa berkurang. Hal itu bukan berarti handphone pasti menyebabkan anak tidak mampu mengendalikan emosi, tetapi menunjukkan mengapa layar sebaiknya tidak selalu menjadi respons pertama terhadap setiap kesulitan.
Anak juga perlu mengalami kebosanan sesekali. Dari situ, mereka dapat belajar mencari kegiatan, menggunakan imajinasi, dan menemukan cara bermain tanpa harus terus-menerus menerima rangsangan dari luar.
Pengasuhan bukan hanya tentang memastikan anak berhenti menangis. Lebih dari itu, pengasuhan adalah proses mendampingi anak memahami perasaannya, membangun kebiasaan, dan belajar berhubungan dengan orang lain.
Dampak Gadget terhadap Anak: Bukan Hanya Soal Durasi
Ketika membicarakan dampak gadget terhadap anak, perdebatan sering berakhir pada satu pertanyaan: berapa lama anak boleh menggunakan handphone?
Durasi memang penting, tetapi bukan satu-satunya hal yang perlu diperhatikan. Jenis konten, usia anak, tujuan penggunaan, waktu pemakaian, serta pendampingan orang tua juga berperan dalam menentukan pengalaman digital anak.
Video edukatif yang ditonton bersama orang tua, misalnya, dapat menjadi bahan percakapan. Anak dapat bertanya tentang hewan, warna, atau peristiwa yang dilihatnya. Orang tua kemudian menjelaskan dengan bahasa yang sesuai dengan usia anak.
Sebaliknya, penggunaan yang berlangsung lama tanpa pendampingan dapat mengambil waktu yang seharusnya digunakan untuk bermain aktif, berbicara dengan keluarga, membaca buku, atau tidur. Anak juga berpotensi menemukan konten yang tidak sesuai usia, iklan yang manipulatif, maupun interaksi daring yang tidak aman.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan panduan khusus bagi anak di bawah usia lima tahun. Dalam rekomendasinya, WHO menyatakan bahwa waktu layar sedentari tidak dianjurkan untuk bayi di bawah satu tahun dan anak usia satu tahun. Untuk anak usia dua tahun serta usia tiga hingga empat tahun, waktu layar sedentari dibatasi maksimal satu jam sehari, dengan durasi yang lebih sedikit dinilai lebih baik. WHO juga menekankan pentingnya aktivitas fisik, tidur yang cukup, serta kegiatan seperti membaca dan bercerita bersama pengasuh. Sumber: WHO, 24 April 2019.
Panduan tersebut secara khusus membahas anak di bawah lima tahun, sehingga tidak tepat jika angka yang sama diterapkan begitu saja kepada semua kelompok usia. Kebutuhan anak usia sekolah dan remaja perlu dipertimbangkan berdasarkan tahap perkembangan, kegiatan sehari-hari, dan konteks penggunaan perangkat.
Hal penting lainnya adalah menghindari anggapan bahwa setiap anak yang menggunakan handphone akan mengalami gangguan perkembangan. Hubungan antara penggunaan media digital dan kesejahteraan anak tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu faktor. Karena itu, orang tua perlu melihat keseluruhan kebiasaan anak, bukan sekadar menghitung menit yang dihabiskan di depan layar.
Bukan Hanya Anak, Orang Tua Juga Perlu Bercermin
Ada satu hal yang kerap luput ketika kita membahas anak dan handphone: kebiasaan orang tua sendiri.
Tidak jarang kita melarang anak menggunakan handphone saat makan, tetapi orang tua justru terus memeriksa pesan di meja yang sama. Kita meminta anak mendengarkan ketika diajak berbicara, sementara perhatian kita terbagi antara percakapan dan notifikasi.
Anak belajar bukan hanya dari aturan yang diucapkan, tetapi juga dari perilaku yang mereka lihat setiap hari.
Ketika orang tua selalu menggenggam handphone, anak dapat menangkap pesan bahwa layar merupakan bagian utama dari setiap kegiatan, termasuk ketika keluarga sedang berkumpul. Sebaliknya, ketika orang tua meletakkan perangkat dan memberikan perhatian penuh, anak melihat contoh konkret bagaimana teknologi dapat ditempatkan sesuai kebutuhan.
Bukan berarti orang tua harus selalu tersedia setiap detik. Pekerjaan, komunikasi, dan tanggung jawab lainnya tetap membutuhkan perangkat digital. Namun, keluarga dapat menentukan waktu tertentu ketika perhatian diberikan sepenuhnya kepada orang-orang yang hadir secara langsung.
Misalnya, keluarga bisa memulai dari kebiasaan sederhana: tidak menggunakan handphone selama makan bersama, mengurangi notifikasi ketika bermain dengan anak, atau menyediakan waktu singkat setiap hari untuk berbicara tanpa gangguan layar.
Kebiasaan tersebut mungkin terlihat kecil. Namun, kualitas interaksi keluarga tidak selalu ditentukan oleh mahalnya mainan atau banyaknya kegiatan yang direncanakan. Kadang-kadang, yang dibutuhkan anak adalah orang tua yang bersedia mendengarkan ceritanya sampai selesai.
Teknologi Tidak Selalu Menjadi Musuh Pengasuhan
Di tengah kekhawatiran terhadap penggunaan gadget, kita juga perlu menghindari pandangan bahwa teknologi selalu membawa dampak buruk.
Handphone dapat membantu anak mengenal bahasa, memperoleh informasi, menikmati cerita, mengembangkan kreativitas, dan berkomunikasi dengan keluarga yang tinggal berjauhan. Bagi anak yang memiliki kebutuhan tertentu, perangkat digital juga dapat mendukung proses belajar dan komunikasi melalui aplikasi yang sesuai.
Manfaat tersebut tentu tidak muncul secara otomatis. Konten perlu disesuaikan dengan usia, kualitas materi perlu diperhatikan, dan penggunaan perangkat sebaiknya tidak sepenuhnya menggantikan interaksi langsung.
Orang tua dapat mengubah pengalaman menonton menjadi kegiatan bersama. Setelah melihat video tentang binatang, misalnya, anak dapat diajak menggambar binatang yang disukainya. Setelah menonton cerita, orang tua bisa meminta anak menceritakan kembali bagian yang paling menarik.
Dengan cara itu, handphone bukan sekadar alat untuk membuat anak diam. Perangkat tersebut dapat menjadi pintu masuk menuju percakapan, eksplorasi, dan kegiatan nyata.
Pendekatan seperti ini lebih realistis dibandingkan tuntutan untuk menjauhkan anak sepenuhnya dari teknologi. Anak tumbuh di dunia yang semakin digital. Karena itu, mereka juga perlu belajar menggunakan teknologi secara aman, kritis, dan bertanggung jawab sesuai dengan usianya.
Pola Asuh Anak di Era Digital Membutuhkan Batasan yang Konsisten
Lantas, apa yang bisa dilakukan orang tua agar handphone tidak mengambil alih peran pengasuhan?
Langkah pertama adalah menetapkan aturan yang jelas dan sesuai usia. Orang tua dapat menentukan kapan perangkat boleh digunakan, berapa lama penggunaannya, serta jenis konten yang dapat diakses. Aturan tersebut sebaiknya disampaikan secara sederhana dan diterapkan secara konsisten, bukan hanya ketika anak dianggap terlalu berisik.
Kedua, jangan menjadikan handphone sebagai satu-satunya cara menenangkan anak. Ketika anak menangis, orang tua dapat mencoba mengajaknya berbicara, memeluknya jika ia nyaman, menawarkan aktivitas lain, atau membantunya mengungkapkan perasaan. Tidak semua situasi dapat diselesaikan dengan cara yang sama, sehingga orang tua perlu menyesuaikan respons dengan penyebab dan kebutuhan anak.
Ketiga, sediakan alternatif kegiatan yang mudah dilakukan. Buku cerita, balok permainan, kertas gambar, aktivitas membantu pekerjaan sederhana di rumah, atau permainan di luar ruangan dapat menjadi pilihan. Tidak semua kegiatan harus membutuhkan biaya besar atau persiapan rumit.
Keempat, dampingi anak ketika menggunakan internet. Orang tua perlu mengetahui aplikasi yang digunakan, memahami jenis konten yang diakses, dan mengajarkan anak untuk tidak sembarangan membagikan informasi pribadi. Percakapan tentang keamanan digital sebaiknya dilakukan secara terbuka, agar anak merasa aman untuk bercerita ketika menemukan sesuatu yang membuatnya takut atau tidak nyaman.
Kelima, jadikan aturan sebagai kesepakatan keluarga. Orang tua dapat menetapkan area bebas layar, seperti meja makan dan kamar tidur, atau mematikan pemutaran otomatis agar anak tidak terus-menerus berpindah ke video berikutnya.
American Academy of Pediatrics melalui situs edukasinya, HealthyChildren.org, juga menyarankan keluarga menyusun Family Media Plan atau rencana penggunaan media keluarga. Rencana tersebut dapat mencakup batasan waktu dan tempat penggunaan perangkat, pemilihan konten, serta kebiasaan yang menjaga interaksi langsung dan waktu tidur. Sumber: HealthyChildren.org.
Yang tidak kalah penting, orang tua perlu memberi contoh. Sulit meminta anak berhenti menatap layar apabila orang dewasa di sekitarnya tidak pernah melakukan hal yang sama.
Orang Tua Tidak Harus Sempurna, tetapi Perlu Hadir
Membicarakan pola asuh di era digital tidak seharusnya membuat orang tua merasa bersalah setiap kali memberikan handphone kepada anak.
Ada orang tua yang harus bekerja sambil mengurus rumah. Ada yang membesarkan anak tanpa banyak bantuan. Ada pula yang menghadapi kondisi keluarga yang membuat waktu dan energi mereka sangat terbatas. Dalam situasi seperti itu, teknologi kadang menjadi alat bantu yang memang dibutuhkan.
Karena itu, solusi yang ditawarkan harus realistis. Tidak semua keluarga dapat menerapkan aturan yang sama, dan tidak semua penggunaan layar bisa dihindari. Yang dapat diupayakan adalah memastikan teknologi tidak menggeser seluruh ruang bagi interaksi, permainan, istirahat, dan kegiatan lain yang dibutuhkan anak.
Perubahan bisa dimulai dari hal sederhana. Jika biasanya anak langsung diberi handphone ketika merasa bosan, orang tua dapat mencoba mengajaknya melakukan satu kegiatan singkat terlebih dahulu. Jika keluarga terbiasa makan sambil menonton video, cobalah memulai satu waktu makan tanpa layar. Jika anak menonton sendiri, sesekali duduklah bersamanya dan tanyakan apa yang sedang ia lihat.
Langkah-langkah kecil itu tidak menjamin semua masalah selesai. Namun, semuanya dapat membantu keluarga membangun kebiasaan yang lebih sadar dan seimbang.
Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu mampu menyediakan hiburan setiap saat. Mereka membutuhkan pendamping yang membantu mengenali emosi, memberi batasan yang masuk akal, menyediakan rasa aman, dan mengajarkan cara menghadapi dunia di sekitarnya.
Handphone boleh menjadi bagian dari masa kecil anak. Teknologi bahkan dapat menjadi sarana belajar yang bermanfaat. Namun, ketika anak membutuhkan perhatian, kenyamanan, dan bimbingan, layar tidak dapat sepenuhnya menggantikan hubungan manusia.
Pertanyaan terpentingnya bukan sekadar berapa lama anak menatap layar, melainkan apa yang hilang ketika layar selalu menjadi pilihan pertama.
Sebab, keberhasilan parenting di era digital bukan diukur dari seberapa cepat anak berhenti menangis setelah diberi handphone. Keberhasilan itu juga terlihat dari bagaimana anak belajar berbicara, bermain, memahami perasaan, dan membangun hubungan dengan orang lain.
Teknologi akan terus berkembang. Tanggung jawab untuk mendampingi anak tumbuh dengan sehat, aman, dan penuh perhatian tetap berada pada orang dewasa.
Catatan sumber: Data penggunaan telepon seluler dan internet pada anak usia dini merujuk pada data BPS 2024 sebagaimana dikutip portal resmi pemerintah Indonesia. Rekomendasi waktu layar merujuk pada pedoman WHO untuk anak di bawah lima tahun, bukan untuk seluruh kelompok usia. Artikel ini merupakan opini, bukan pengganti saran profesional mengenai kebutuhan khusus setiap anak.
