Kumparan Logo

Sering Dianggap Wajar, padahal Kebiasaan Sulit Menahan Kencing Perlu Diobati!

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sering Dianggap Wajar, Urinary Incontinence Perlu Diwaspadai. Foto: Pixel-Shot/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Sering Dianggap Wajar, Urinary Incontinence Perlu Diwaspadai. Foto: Pixel-Shot/Shutterstock

Meski dialami banyak perempuan, urinary incontinence atau sulit menahan kencing masih kerap dianggap sebagai kondisi yang memalukan atau bagian normal dari proses penuaan.

Padahal, jika dibiarkan, kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup dan seharusnya mendapatkan penanganan yang tepat.

Banyak Perempuan Memilih Diam karena Malu

Data menunjukkan sekitar satu dari tiga perempuan pernah mengalami urinary incontinence. Namun, menurut Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Perempuan, Fungsional dan Neurologi, Prof. Dr. dr. Harrina E. Rahardjo, Sp.U. (K), PhD, masih banyak perempuan yang enggan mencari pertolongan medis.

Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Perempuan, Fungsional dan Neurologi, Prof. Dr. dr. Harrina E. Rahardjo, Sp.U (K), PhD. Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Menurutnya, ada beberapa alasan yang membuat perempuan memilih diam. Selain merasa malu, tidak sedikit yang menganggap kebocoran urine merupakan kondisi yang wajar seiring bertambahnya usia.

"Misalnya ada pertambahan usia. Jadi memang ‘Sudah sewajarnya lah saya begini karena saya sudah bertambah usianya’,” ucapnya kepada kumparanMOM dalam acara Peresmian Pelvic & Bladder Comprehensive Clinic Siloam Hospitals Asri, pada Selasa (30/6).

Selain itu, ada pula anggapan bahwa kondisi tersebut tidak dapat diobati sehingga konsultasi ke dokter dianggap tidak akan memberikan manfaat.

Urinary Incontinence Bisa Ditangani Tanpa Harus Operasi

Ilustrasi buang air kecil Foto: Shutterstock

Prof. Harrina menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak benar. Hingga saat ini tersedia berbagai pilihan terapi untuk menangani urinary incontinence, dan tidak semuanya memerlukan tindakan operasi.

Menurutnya, penanganan biasanya dimulai dengan terapi sederhana dan non-operatif. Langkah awal dapat berupa perubahan gaya hidup, menghilangkan faktor-faktor risiko yang memperburuk kondisi, serta menjalani terapi sesuai penyebab yang dialami pasien.

“Ini semua bisa menangani pasien dengan baik tanpa harus sampai ke yang canggih-canggih atau yang terlalu invasif,” imbuhnya.

Oleh karena itu, perempuan yang mengalami keluhan sulit menahan buang air kecil tidak perlu merasa malu atau menunggu kondisinya semakin parah. Semakin cepat berkonsultasi dengan tenaga medis, semakin besar peluang untuk mendapatkan penanganan yang sesuai sehingga kualitas hidup tetap terjaga.

kumparan post embed