Konten dari Pengguna

Di Balik Digitalisasi Pasar Tradisional

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Monique Odetta Nathanael tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Monique Odetta Nathanael

Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat melakukan transaksi pembayaran di Jakarta. Salah satu bentuk pembayaran digital yang semakin banyak digunakan oleh masyarakat dan pelaku usaha adalah QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard). Transisi dari penggunaan alat bayar tunai ke digital menuntut adaptasi yang cepat dari para pelaku usaha di Indonesia agar dapat bersaing di dunia wirausaha zaman sekarang.

Pasalnya, QRIS tidak hanya digunakan oleh pusat perbelanjaan dan restoran modern, tetapi juga dimanfaatkan oleh para UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) dan pasar tradisional yang terdorong untuk beradaptasi serta terjun langsung ke dunia ekonomi digital. Pasar Mandiri Summarecon Kelapa Gading juga tidak luput dari arus digitalisasi dengan sebagian besar gerai sudah menggunakan QRIS. Namun, tidak semua pedagang tradisional bisa langsung merasa nyaman dengan metode sirkulasi uang yang asing ini, sehingga membawa berbagai dampak negatif dalam implementasinya dari ketidaksiapan para penjual.

Penggunaan QRIS membawa sejumlah manfaat dan kemudahan bagi para pedagang di pasar. Dengan menggunakan QRIS, proses pembayaran dapat dilakukan dengan lebih cepat. Hal tersebut membuat pertukaran uang menjadi lebih praktis, terutama bagi para pedagang basah dan daging mentah yang seringkali harus melayani pembeli dengan kondisi tangan basah atau kotor. Informasi dari seorang pedagang daging sapi menyampaikan bahwa dana dari pembayaran melalui QRIS dapat langsung masuk ke rekeningnya tanpa ia perlu memegang uang tunai.

Pedagang daging sapi di Pasar Mandiri Summarecon Kelapa Gading (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Selain itu, penyediaan opsi pembayaran dengan QRIS mampu menarik demografi pembeli yang lebih terbiasa dengan penggunaan QRIS. Demografi pembeli di kawasan Kelapa Gading yang terdiri atas masyarakat dengan kebiasaan pembayaran digital dapat membuat keberadaan opsi pembayaran QRIS menambah nilai pedagang pasar. Pembeli, terutama generasi muda, cenderung sudah terbiasa menggunakan dompet digital sehingga jarang membawa uang tunai. Informasi dari beberapa pedagang serta pelanggan di Pasar Mandiri menyatakan bahwa keberadaan QRIS memudahkan pembayaran bagi generasi muda karena transaksi dapat dilakukan secara langsung dengan menggunakan ponsel.

Terlepas dari banyaknya manfaat dari tren penggunaan QRIS, penerapannya di pasar masih menghadapi berbagai kendala teknis yang dapat menghambat kelancaran proses pembayaran seperti masalah jaringan atau koneksi. Berdasarkan testimoni para penjual, ketidakstabilan koneksi internet di area pasar masih sering menghambat aktivitas pembayaran digital. Realitas ini menunjukkan adanya isu ketidaksiapan infrastruktur digital yang masih terus dihadapi. Rintangan tersebut harus segera diatasi agar bisa memperluas penggunaan berbagai sarana pembayaran digital di Indonesia.

Hambatan yang dihadapi dalam pemakaian QRIS tidak hanya berupa masalah dari segi teknis, melainkan juga dari setiap individu penggunanya. Kendala yang paling mendominasi di antara para pedagang pasar tradisional adalah hambatan usia dan kurangnya literasi digital. Seorang pedagang lanjut usia menyampaikan bahwa ia belum menggunakan QRIS karena merasa tidak terbiasa memakai instrumen pembayaran digital dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun demikian, ia mengutarakan keinginannya untuk berpartisipasi dalam tren ini karena kepraktisan yang ditawarkannya. Kondisi ini menunjukkan secara langsung kurangnya edukasi untuk membimbing kelompok pedagang rentan yang kesulitan beradaptasi secara mandiri terhadap arus perubahan.

Pedagang lanjut usia melayani pembeli di Pasar Mandiri Summarecon Kelapa Gading. (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Melihat berbagai hambatan tersebut, edukasi dan pendampingan bagi para pelaku pasar menjadi bagian penting dalam proses digitalisasi pasar tradisional. Kurangnya sosialisasi dan literasi mengenai penggunaan QRIS sebagai metode pembayaran di era modern menjadi salah satu alasan tertinggalnya sebagian pedagang dalam beradaptasi mengikuti perkembangan teknologi. Oleh karena itu, pihak perbankan, penyedia layanan pembayaran digital, serta pemerintah perlu berupaya melakukan sosialisasi yang jelas dan mudah dipahami oleh semua golongan masyarakat. Edukasi tersebut dapat mencakup cara melakukan transaksi dengan QRIS, cara membuat QRIS, cara memeriksa pembayaran yang masuk, serta prosedur mengendalikan masalah teknis yang terjadi. Dengan adanya pendampingan yang berkelanjutan, pedagang dapat lebih memahami penggunaan QRIS dan percaya diri menerapkannya dalam kegiatan jual beli.

Walaupun digitalisasi pembayaran merupakan langkah positif yang datang dengan berbagai manfaat dan membawa kemudahan bagi proses transaksi di pasar tradisional, penerapannya belum sepenuhnya optimal. Kurangnya literasi digital, hambatan usia, serta masalah teknis yang masih terjadi secara berkala menjadi hambatan dalam penggunaan metode pembayaran digital. Agar manfaat dari digitalisasi pembayaran dirasakan secara lebih luas, diperlukan dukungan yang menyeluruh dari pemerintah mengenai literasi digital serta upaya dari pedagang sendiri untuk beradaptasi mengikuti arus modernisasi. Dengan demikian, digitalisasi pembayaran menjadi proses yang membuka kesempatan dan pilihan bertransaksi bagi semua orang, bukan mengesampingkan kebutuhan dan kesiapan para pelaku pasar.