Konten dari Pengguna

Memahami Agama dan Kebersamaan Masyarakat Lewat Pemikiran Emile Durkheim

M Ilham

M Ilham

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Ilham tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Agama pada umumnya biasanya dipahami sebagai urusan pribadi antara seseorang dengan Tuhannya. Tetapi, jika dilihat dari sudut pandang sosiologi agama, agama memiliki peran yang jauh lebih luas. Seorang tokoh sosiologi agama ternama, Emile Durkheim, menjelaskan bahwa agama bukan sekadar kepercayaan individu, melainkan sebuah fenomena sosial yang berpegang peranan penting dalam membentuk ikatan, menjaga keteraturan, dan memperkuat rasa kebersamaan di dalam masyarakat.

Salah satu gagasan utama durkheim adalah mengenai kesadaran kolektif. Secara sederhana, kesadaran kolektif dapat dipahami sebagai nilai, kepercayaan, dan aturan yang dimiliki serta diyakini bersama oleh anggota masyarakat. Kesadaran tersebut tidak hanya berada dalam diri seseorang, tetapi terbentuk melalui kehidupan sosial dan hubungan seseorang dengan kelompoknya, dikarenakan adanya nilai dan kepercayaan yang sama, anggota masyarakat dapat memiliki rasa kebersamaan dan identitas sebagai bagian dari kelompok.

Selain kesadaran kolektif, Durkheim membagi kehidupan manusia ke dalam dua ruang utama: sakral dan profan. Sakral merujuk pada sesuatu yang dianggap suci, khusus,dihormati, dan dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Sebaliknya, profan berkaitan dengan hal-hal yang bersifat biasa dan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Pemisah ini bukan tentang baik atau buruk, melainkan tentang bagaimana masyarakat memberikan makna khusus pada simbol, tempat, ataupun benda. Karena itu, sesuatu yang dianggap sakral dapat berbeda antara satu kelompok agama dengan kelompok lainnya.

Durkheim juga menjelaskan bagaimana bentuk kebersamaan masyarakat mengalami perubahan melalui konsep solidaritas sosial menjadi dua bentuk, yaitu solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Pada masyarakat sederhana, berlaku solidaritas mekanik yang mana rasa bersatu muncul karena adanya banyak kesamaan seperti pekerjaan, kepercayaan, kebiasaan, maupun cara hidup. Berbeda dengan solidaritas mekanik, solidaritas organik berkembang dalam masyarakat yang lebih modern. Masyarakat mengalami pembagian kerja yang lebih luas sehingga setiap individu memiliki pekerjaan dan fungsi yang berbeda. Perbedaan ini tidak menyebabkan masyarakat terpecah, karena setiap orang justru saling membutuhkan. Seorang individu tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri sehingga harus bergantung pada individu lain yang memiliki keahlian atau pekerjaan berbeda.

Meskipun bentuk masyarakat berubah dan individu modern memiliki kebebasan yang lebih besar, tatanan nilai dan norma tetap dibutuhkan agar kehidupan bersama tidak kehilangan arah. Dalam hal ini, agama tetap relevan sebagai sumber nilai moral, pembentuk identitas, serta memperkuat persatuan. Kesimpulannya, pemikiran Durkheim membantu kita memahami bahwa melalui simbol,ritual,dan nilai-nilainya, agama memiliki fungsi sosial yang sangat penting dalam merawat kebersamaan dan menjaga keharmonisan hidup masyarakat.

Ilustrasi Emile Durkheim Sumber Ai (Artificial Intelligence)