Konten dari Pengguna

Panen Melimpah, Mengapa Senyum Petani Belum Tentu Datang?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Farhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh Muhammad Farhan
zoom-in-whitePerbesar
Oleh Muhammad Farhan

Hamparan kebun bawang itu tampak begitu indah. Di bawah terik matahari, para petani memanen bawang merah dengan wajah penuh semangat. Karung-karung mulai terisi, lalu disusun di pinggir kebun menunggu diangkut. Sebagai putra Manggarai yang berkesempatan mengunjungi salah satu sentra pertanian di Manggarai Timur, saya sempat berpikir bahwa hari panen pasti menjadi hari yang paling membahagiakan bagi petani.

Namun, anggapan itu perlahan berubah setelah saya berbincang dengan beberapa petani. Di balik hasil panen yang melimpah, tersimpan kegelisahan yang jarang terlihat. Panen memang berhasil, tetapi harga jual sering kali tidak memberi kepastian. Ketika produksi meningkat secara bersamaan, harga di tingkat petani justru dapat turun. Pada akhirnya, kerja keras selama berbulan-bulan belum tentu menghasilkan pendapatan yang sebanding.

Padahal, sektor pertanian masih menjadi penopang utama perekonomian Manggarai Timur. Banyak keluarga menggantungkan hidup pada hasil kebun, mulai dari kopi, kakao, kemiri, cengkeh, hingga bawang merah. Kekayaan alam bukanlah persoalan bagi daerah ini. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana memastikan hasil panen mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih baik bagi petani.

Pengalaman itu membuat saya menyadari bahwa kesejahteraan petani tidak cukup diukur dari banyaknya hasil panen. Yang lebih penting adalah bagaimana petani memperoleh harga yang layak, memiliki akses pasar yang lebih luas, serta tidak selalu berada pada posisi yang lemah dalam rantai perdagangan. Ketika hasil panen hanya dijual sebagai komoditas mentah tanpa nilai tambah, keuntungan terbesar sering kali berpindah ke tangan pihak lain.

oleh muhamad farhan

Selama mengikuti program magang di Komisi IV DPR RI, saya belajar bahwa pembangunan pertanian tidak berhenti pada peningkatan produksi. Produksi yang tinggi memang penting, tetapi tujuan akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan petani. Artinya, keberhasilan sektor pertanian harus diukur dari kehidupan para petaninya, bukan semata-mata dari banyaknya ton hasil panen yang tercatat setiap tahun.

Sebagai putra daerah, saya percaya Manggarai Timur memiliki semua modal untuk berkembang. Tanah yang subur, iklim yang mendukung, dan masyarakat yang tekun bekerja merupakan kekuatan yang tidak dimiliki semua daerah. Yang masih perlu diperkuat adalah keberpihakan pada petani melalui akses pasar yang lebih baik, penguatan koperasi, penyediaan fasilitas pascapanen, dan pengembangan usaha pengolahan hasil pertanian agar nilai tambah tidak terus mengalir ke luar daerah.

Saya pulang membawa beberapa foto panen bawang hari itu. Foto-foto tersebut bukan hanya mengabadikan hasil panen, tetapi juga menjadi pengingat bahwa di balik setiap karung bawang yang berhasil dipanen, ada harapan besar agar kerja keras petani benar-benar dihargai. Sebab, ukuran keberhasilan pertanian bukan sekadar panen yang melimpah, melainkan ketika mereka yang mengolah tanah dapat hidup lebih sejahtera dari hasil kerja mereka sendiri.