Entertainment
·
7 Juni 2020 14:39

Jarang Terdengar: Dua Belas Marga Asli Depok Peninggalan Belanda

Konten ini diproduksi oleh
Jarang Terdengar: Dua Belas Marga Asli Depok Peninggalan Belanda (45930)
Gerbang masuk Jl. Pemuda Depok
Depok kota penyangga ibu kota negara yang kini berkembang sangat pesat, mal dan apartemen menjamur di kota ini. Seiring dengan kemajuan kota, banyak masyarakat Kota Depok yang tidak tahu dengan sejarah kotanya.
ADVERTISEMENT
Awal mulanya, pada abad ke-17 terdapat seorang Belanda bernama Cornelis Chastelein yang datang ke Hindia Belanda dan bekerja di VOC. Namun, beberapa tahun kemudian ia mengundurkan diri dari VOC karena tidak setuju dengan sistem yang baru. Setelah berhenti dari VOC lalu ia membeli lahan partikelir yang tak dikuasai Belanda seluas 1.244 hektare di daerah yang sekarang bernama Depok untuk dijadikan lahan perkebunan.
Cornelis Chastelein membawa 150 orang budak dari daerah Bali, Banjar, dan Indonesia timur lainnya untuk dipekerjakan mengurus lahan perkebunannya. Pada 28 Juni 1714 Cornelis Chastelein wafat dan meninggalkan surat wasiat yang berisi penyataan untuk memerdekakan seluruh budak-budaknya dan membagikan tanah miliknya.
Dua Belas Marga Asli Depok
Budak-budak yang dimerdekakan oleh Cornelis Chastelein diberi marga yang berbeda, terdapat 12 marga yaitu:
ADVERTISEMENT
  1. Bacas
  2. Isakh
  3. Jacob
  4. Jonathans
  5. Joseph
  6. Laurens
  7. Leanders
  8. Loen
  9. Samuel
  10. Soedira
  11. Tholense
  12. Zadokh
nama-nama tersebut tertulis di Dinding Prasasti Gedung Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein. Tetapi, kini hanya tersisa 11 marga yang masih bertahan, marga Zadokh hilang karena tidak memiliki keturunan anak laki-laki. Banyak masyarakat yang menyebut mereka dengan sebutan Belanda Depok karena dulunya mereka bergaya dan berbahasa Belanda, sekarang mereka menolak dipanggil Belanda Depok karena mereka merasa bagian dari Indonesia juga dan lebih senang jika dipanggil Kaum Depok.
Itulah 12 marga asli Depok pemberian Cornelis Chastelein yang masih banyak orang Depok tidak mengetahuinya. Sepatutnya kita harus mengetahui sejarah asli kota yang kita tinggali agar lebih mengenal lebih dalam.