Gara-gara 'Maneh'

Aku - Kamu - Berita
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Muhammad Iqbal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahun 2000, awal masuk asrama di Garut. Malam itu ada satpam datang ke asrama menanyakan keberadaan seorang santri yang merupakan keponakannya.
"Ade di mana". Saya jawab, "Tos sare, Pak." "Oh,". Si petugas keamanan itu lalu pamit pergi.
Sedetik kemudian, teman seasrama (orang Garut), memanggil saya yang duduk di ranjang tingkat dua setengah membentak. "Kadieu maneh!" (Ke sini kamu!).
Buukk.!! Dada saya tiba-tiba ditinju.
"Sopan ari ngomong ka kolot. Geus lah, tong ngomong Sunda!" Dia mencaci-maki saya dengan bahasa Sunda. Saya yang baru beberapa bulan tinggal di Garut mengakui salah, lalu minta maaf. Untuk perkara itu saya diam, meski di lain waktu saya baku pukul dengannya untuk perkara lain. Dia sok jagoan memang.
Belakangan, saya tahu sare yang artinya tidur itu tidak tepat diucapkan kepada orang yang lebih tua/dewasa. Harusnya bobo atau kulem.
Kata tidur dalam Bahasa Sunda, yang saya tahu, setidaknya punya 5 pilihan: Kulem, bobo, hees, sare, molor. Salah menggunakan, tinju bisa mendarat di dada.
Tapi itu cerita dulu.
Saya—kelahiran Banten, menghabiskan 6 tahun tinggal di Garut dan kini tinggal di Cianjur—kadang masih kesulitan menentukan kata bahasa Sunda yang tepat dalam percakapan.
Sementara, Muhammad Sabil (34) di postingan Ridwan Kamil, tahu cara berbahasa Sunda lebih baik. Guru honorer di Kota Cirebon itu memang sengaja memakai kata 'maneh' di kolom komentar postingan Kang Emil sebagai bentuk kritik dan anggap Emil friendly.
Dalam zoom ini, Maneh teh keur jadi gubernur jabar ato kader partai ato pribadi @ridwankamil ???.
Sialnya, Kang Emil menggunakan pilihan kata yang sama untuk merespons, meski dari gubernur ke seorang warga: maneh.
@sabilfadhillah ceuk maneh kumaha?
Saya yang sehari-hari berbahasa Sunda, membaca saling balas dengan kata 'maneh' itu memang janggal. Kamu dalam bahasa Sunda ada beberapa istilah: Anjeun, maneh, didinya, sia, silaing, hidep, salira, dan lainnya.
Bahasa santun yang tepat yang bisa dipakai Sabil di kolom komentar adalah 'bapak'. Begini kira-kira:
"Dalam zoom ini, Bapak teh lagi jadi gubernur jabar ato kader partai ato pribadi @ridwankamil?."
Emil pun bisa membalas singkat begini:
"Pendapat akang kumaha?" atau jawab saja langsung alasan pakai jas berwarna serupa warna Golkar itu kenapa.
Seandainya begitu, tak akan ada peperangan dan running panjang isu 'maneh' di medsos dan media massa, selama Emil juga tidak sembarang menyematkan (pin) komentar netizen yang bisa memicu dia dibully.
"Secara sadar saya tahu 'maneh' kasar dalam bahasa Sunda terutama kepada yang lebih tua, tapi 'maneh' kepada baraya mah biasa aja menggunakan diksi 'maneh' ka RK, saya sih berpikir RK mah kan friendly kepada followers-nya,"
- Sabil .
Dampak Maneh
Sabil dan Kang Emil tidak kena tinju karena salah pakai Bahasa Sunda seperti saya. Tapi keduanya menerima konsekuensi lebih besar karena berseteru di media sosial, bukan ruang asrama.
Walhasil, netizen tidak lagi fokus pada substansi komentar Sabil. Pun, RK terpancing sehingga tidak menjawab mengapa jas kuning yang dia pilih untuk Zoom dengan siswa yang dapat sepatu patungan dari teman-temannya itu.
Masalahnya jadi tertuju pada gaya komunikasi Ridwan Kamil.
Saya follow akun Ridwan Kamil di Instagram dan Twitter sejak lama, sejak Wali Kota Bandung. Saya memang follow banyak akun tokoh politik dan kepala daerah.
Gaya RK di medsos itu buat saya, milenial banget, lucu, dan jenaka. Saat yang sama, capaian kinerja Kang Emil juga patut diperhitungkan, apalagi kalau bicara kerja-kerja infrastruktur. Duh, jagonya memang.
Tapi... Saya beberapa kali mendapati di Twitter, orang yang mengkritik RK itu dibalas dengan cara mention si pengkritik sambil sesekali menjabarkan bukti kinerja. Alhasil, yang tanya/kritik dibully.
Gaya komunikasi itu yang saat ini dilakukan Kang Emil menghadapi Sabil, seorang guru honorer di Cirebon. Alih-alih berdialog sehat, komentar Sabil sempat dipin yang membuat dia dibully.
Sabil mengaku beberapa menit setelah berkomentar, ratusan notifikasi IG masuk ke HP-nya yang membuat dia mendelete komentar maneh tersebut.
Testimoni soal gaya Emil yang dianggap 'baperan' itu pun bermunculan di kolom komentar. Ini dua di antaranya:
Tak hanya itu, sang arsitek itu pun dikritik tokoh-tokoh Jabar baik DPRD maupun parpol pengusungnya di Pilgub Jabar dulu. Ini di antaranya, meski ada juga yang membela seperti Golkar.
Itu dampak terhadap Ridwan Kamil, sang kandidat cawapres terkuat dalam survei Indikator Desember 2022 lalu.
Dampak lain tentu dialami Sabil.
Dia dipecat setelah sekolah tempatnya mengajar menerima DM dari Ridwan Kamil. Meski, pihak sekolah berkilah pemecatan karena masalah Sabil sebelumnya: merokok, berkata kasar, mematikan CCTV.
"RK nge-DM IG sekolah aku untuk ngasih peringatan ke aku," kata Sabil
Sabil diberhentikan sebagai pengajar DKV di dua sekolah yakni SMK Ponpes Manbaul Ulum dan SMK Telkom. Bahkan, dia mengaku mendapatkan kabar data dirinya sebagai guru di Dapodik bakal dihapus secara permanen sehingga terancam tak dapat mengajar lagi di sekolah mana pun.
"Saya sudah tidak lagi mengajar di lembaga sekolah,"
- Sabil.
Kasus ini mengajarkan kita, sesama pengguna medsos, untuk mikir dua kali sebelum enter komentar. Baik Sabil yang dianggap tak sopan menggunakan kata 'maneh', pun Ridwan Kamil yang membalas dengan 'maneh' juga, lalu pin, dan DM pihak sekolah.
Meski, Emil sudah langsung klarifikasi dia sebagai pemimpin terbuka dengan kritik. Tapi... Ya sudahlah.
Toh, kalaulah Emil tak main medsos seperti banyak gubernur di Indonesia, mungkin masyarakat Kota Bandung dan Jawa Barat tak sedekat itu dengan pemimpinnya.
Bermedsos ini harus dirayakan.
Medsos adalah ruang pertemuan terbuka antara pemimpin dengan masyarakat untuk bertemu kapan pun, bicara apa pun, tanpa ada batasan sedikit pun. Sementara bijak adalah standar etik yang tiap orang berbeda ukurannya.
