Mobil Listrik: Charger AC atau DC, Mana yang Kamu Butuhkan?

Mahasiswa universitas Pamulang Program studi S1 Teknik Elektro
·waktu baca 9 menit
Tulisan dari MUHAMAD MAULANA RIZQI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Memilih charger mobil listrik sering bikin orang garuk-garuk kepala, apalagi kalau sudah sampai urusan AC atau DC. Padahal baterai mobil listrik itu nggak seseram kelihatannya. Yuk, kita urai pelan-pelan: colok, tunggu, jalan.
Dua jenis charger ini sekarang ada di mana-mana, dari garasi rumah, pabrik, hotel, sampai Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di pinggir jalan. Teknologinya sama saja di mana pun. Yang beda adalah cara kerjanya, seberapa cepat, dan untuk siapa.
Di artikel ini kita bahas cara kerja keduanya, selisih kecepatan, soal colokan, kapan sebaiknya pakai yang mana, plus beberapa kebiasaan kecil supaya baterai tetap awet.
Kenalan dulu dengan kW dan kWh Hampir semua kebingungan soal charger bermula dari dua istilah yang mirip ini. Gampangnya, bayangkan bak mandi. kWh itu isi baknya, alias seberapa besar baterai mobilmu. kW itu besar kerannya, alias seberapa deras listrik mengalir masuk.
Jadi, baterai 60 kWh artinya "baknya" muat 60 kWh energi. Charger 7 kW mengalirkan sekitar 7 kWh tiap jam, sehingga dari kosong sampai penuh butuh kira-kira 8,5 jam. Di lapangan biasanya molor sedikit, karena sebagian energi terbuang jadi panas selama pengisian.
Charger Mobil Listrik AC dan DC: Dua Jenis, Dua Peran Berbeda
Waktu mau beli mobil listrik, pertanyaan pertama hampir selalu soal jarak tempuh. Baru setelah mobilnya sampai rumah muncul pertanyaan kedua: "Terus ngecasnya gimana, nih?" Jawabannya ada di dua jenis charger ini. Dua-duanya sama-sama bisa mengisi baterai. Bedanya ada di kecepatan, lokasi, dan seberapa sering kamu bakal memakainya.
AC: daya khasnya 2,2 sampai 22 kW. Cocok buat ngecas semalaman atau saat parkir lama, jadi rutinitas harian. Biasanya ada di rumah, pabrik, hotel, kantor, dan mal.
DC (fast charging): daya khasnya 50 kW sampai lebih dari 150 kW. Cocok buat perjalanan jauh saat kamu butuh cepat. Biasanya ada di SPKLU sepanjang jalur perjalanan.
Kenapa DC bisa jauh lebih ngebut? Baterai menyimpan daya dalam bentuk DC, sementara listrik di rumah dan gedung berupa AC. Di charger AC, tugas mengubah AC jadi DC dikerjakan perangkat kecil di dalam mobil yang namanya on-board charger. Karena ukurannya kecil, kapasitasnya terbatas, dan aliran listriknya ikut terbatas.
Di charger DC, pekerjaan itu diambil alih mesin besar di luar mobil. Daya DC langsung masuk ke baterai, jadi aliran 50 kW sampai ratusan kW bisa dilakukan. Makanya SPKLU DC mengisi baterai dalam hitungan puluhan menit, bukan berjam-jam.
Charger Mobil Listrik AC: Andalan Pemakaian Harian
Charger AC itu yang paling sering kita temui, entah wallbox di garasi atau unit di hotel dan kantor. Kecepatannya ditentukan oleh daya AC maksimum yang sanggup diterima on-board charger mobilmu. Kebanyakan mobil listrik menerima sekitar 6,6 sampai 11 kW lewat AC, dan hanya sedikit yang bisa sampai 22 kW.
Misalnya mobilmu cuma menerima 7 kW tapi dicolok ke charger AC 22 kW, hasilnya tetap 7 kW. Tenang, nggak ada yang rusak. Sisa dayanya saja yang tidak terpakai. Angka pastinya bisa kamu cek di buku manual.
Kelebihan : Unit dan pemasangannya relatif terjangkau, enak dipakai tiap hari, dan lebih lembut buat baterai karena alirannya tidak terlalu deras.
Keterbatasan : Butuh waktu berjam-jam, jadi paling cocok untuk mobil yang memang parkir lama.
Ukuran yang sering ditemui: 7 kW (umumnya 1 fase), lalu 11 kW dan 22 kW (umumnya 3 fase). Soal fase listrik, ini sekadar gambaran umum. Rumah di Indonesia kebanyakan 1 fase, sedangkan 3 fase biasanya perlu sambungan khusus. Tanyakan ketersediaannya ke PLN dan teknisi bersertifikat.
Charger Mobil Listrik DC: Pit Stop untuk Perjalanan Jauh
Charger DC sering disebut fast charging dan biasanya ada di SPKLU. Dayanya mulai 50 kW dan bisa lewat dari 150 kW, jadi isi ulangnya cukup puluhan menit. Tapi kecepatannya tetap mengikuti kemampuan mobilmu, dan melambat banyak setelah baterai terisi sekitar 80 persen.
Kelebihan : Cepat, pas untuk perjalanan jauh atau saat baterai sudah terlanjur tipis.
Keterbatasan : Unit dan pemasangannya jauh lebih mahal, butuh pasokan listrik besar, dan biasanya harga per kWh lebih tinggi dibanding ngecas di rumah.
Peran : Pelengkap charger AC, bukan pengganti untuk pemakaian harian.
Soal colokan: yang paling sering bikin panik Di Indonesia, standar yang umum dipakai adalah Type 2 untuk AC dan CCS2 untuk DC. CCS2 pada dasarnya Type 2 plus dua pin besar untuk DC, jadi satu lubang di mobil bisa menerima dua jenis colokan. Artinya, mobil listrik baru yang dijual resmi umumnya cocok dengan charger yang ada. Meski begitu, cek dulu spesifikasi mobilmu, dan jangan langsung percaya kabar dari grup WhatsApp. Satu hal yang jangan disepelekan: kabel dan adaptor murah tanpa sertifikasi itu masalah beneran. Ini urusan listrik, bukan kipas angin. AC vs DC: ringkasan perbandingan
Kapan pakai AC, kapan pakai DC? Kuncinya cuma satu: berapa lama mobil biasanya parkir. Tiga contoh berikut menunjukkan polanya. Parkir lama: pakai AC Kendaraan operasional pabrik biasanya parkir semalaman dengan jadwal yang gampang ditebak, begitu juga tamu hotel. Charger AC sudah cukup, dan pengisian bisa dijadwalkan di luar jam beban puncak. Di pabrik, pastikan unitnya berdiri kokoh di atas pondasi dan aman dari senggolan kendaraan. Di hotel, siapkan sistem akses lewat kartu atau aplikasi, pencatatan pemakaian listrik untuk penagihan, plus penerangan dan rambu yang jelas. Parkir beberapa jam: pakai AC berdaya lebih tinggi Di mal, kantor, atau area parkir ramai, pengguna datang dan pergi, dan tidak semuanya paham cara memakai charger. AC berdaya lebih tinggi seperti 22 kW masuk akal, asal mobil-mobil yang datang memang sanggup menerimanya. Petunjuk pemakaian harus jelas, cara bayar mudah, dan status charger sebaiknya bisa dipantau lewat aplikasi. Singgah sebentar di perjalanan: pakai DC Pengemudi yang sedang di jalan maunya cepat jalan lagi, hitungan menit, bukan jam. Di sinilah charger DC di SPKLU dibutuhkan, dan itu sebabnya lokasinya biasanya di jalur utama dekat tempat istirahat.
Charger AC di rumah: yang perlu dicek sebelum pasang Buat kebanyakan orang, 80 sampai 90 persen pengisian terjadi di rumah. Di situlah enaknya punya mobil listrik: bangun tidur, baterai sudah penuh. Tapi sebelum beli wallbox, cek empat hal ini dulu.
Daya listrik rumahmu. Kalau langgananmu 2.200 VA dan AC, kulkas, serta pompa air menyala bersamaan, beban tambahan dari charger bisa bikin MCB turun. Bisa naik daya, atau atur jadwal ngecas saat beban rumah sedang rendah.
Kondisi instalasi dan grounding. Minta teknisi listrik bersertifikat memeriksanya. Dan jangan tarik kabel dari stopkontak dapur. Posisi parkir. Pasang wallbox sedekat mungkin dengan tempat biasa kamu parkir, dan pastikan kabel sampai ke lubang colokan tanpa ditarik kencang.
Tarif. PLN pernah punya program insentif tarif untuk ngecas malam hari di rumah. Aturan begini bisa berubah, jadi tanyakan program terbarunya langsung ke PLN.
Satu hal yang perlu diingat: charger yang bagus bukan yang paling kencang, tapi yang cocok dengan mobil, rumah, dan kebiasaan harianmu. Memasang charger di tempat usaha: apa saja yang dikerjakan? Memasang charger bukan sekadar menempelkan unit ke dinding. Secara umum urutannya begini
Survei lokasi. Teknisi memeriksa daya terpasang, jarak ke panel, dan kondisi area parkir.
Perhitungan beban dan desain.Menentukan daya charger, ukuran kabel, dan pengaman yang sesuai, termasuk apakah beban gedung masih mencukupi.
Pondasi dan penarikan kabel. Unit dipasang kokoh, kabel ditarik rapi dan terlindung dari air serta benturan.
Pemasangan dan pengaman. Termasuk MCB yang sesuai, pengaman arus bocor, dan grounding yang benar.
Pengujian dan serah terima. Unit dites dengan kendaraan sungguhan, lalu pengelola dilatih cara memakainya dan menangani masalah sederhana.
Kalau tempatmu akan punya beberapa unit, tanyakan soal manajemen beban (load management), yaitu pembagian daya otomatis supaya listrik gedung tidak kewalahan. Tanyakan juga soal pemantauan jarak jauh dan jadwal perawatan berkala. Charger di luar ruangan kena hujan, debu, dan panas tropis setiap hari, jadi pemeriksaan rutin itu penting. Untuk charger DC, siapkan ekspektasi yang berbeda. Kebutuhan dayanya jauh lebih besar, jadi survei beban dan koordinasi dengan PLN biasanya makan waktu lebih lama dibanding charger AC. Kebiasaan kecil yang bikin baterai awet Para ahli baterai umumnya sepakat bahwa baterai lithium-ion paling nyaman di kisaran tengah. Kalau tidak sedang butuh jarak maksimal, ngecas harian sampai sekitar 80 persen saja, dan jangan sering dibiarkan mepet nol. Untuk perjalanan jauh, isi penuh tidak masalah, asal jangan didiamkan penuh berhari-hari.
Soal DC fast charging, santai saja. Memakainya sesekali di perjalanan sama sekali tidak apa-apa. Yang kurang ideal adalah kalau jadi satu-satunya cara ngecas selama bertahun-tahun, apalagi di cuaca panas. Kombinasi paling ramah buat baterai adalah charger AC untuk harian. Kalau ada pilihan, parkirlah di tempat teduh.
Ada satu lagi yang menguntungkan kamu: kecepatan DC turun drastis setelah baterai sekitar 80 persen. Menunggu dari 80 ke 100 persen sering lebih lama daripada mengisi dari 10 ke 80 persen. Jadi di perjalanan, berhenti di 80 lalu lanjut jalan itu lebih hemat waktu.
Kalkulator waktu ngecas
Penasaran butuh berapa lama? Contoh ini memakai baterai 60 kWh yang diisi dari 20 sampai 80 persen dengan charger AC 7 kW.
Angka DC adalah batas tercepat secara teori, dengan asumsi daya konstan dan efisiensi 90%. Kenyataannya daya DC melambat saat baterai makin penuh, dan waktu nyata juga bergantung pada kemampuan mobil serta kondisi baterai. Etika di charger umum Charger umum dipakai bergantian, jadi sopan santun sedikit saja sudah sangat membantu.
Parkir di slot charger hanya saat ngecas. Kalau sudah cukup, segera pindahkan mobil supaya orang lain bisa pakai.
Gulung kabel dengan rapi dan kembalikan konektor ke tempatnya setelah selesai.
Jangan mencabut kendaraan orang lain tanpa izin, kecuali ada pemberitahuan resmi dari pengelola.
Laporkan kerusakan ke pengelola atau lewat aplikasi, supaya pengguna berikutnya tidak datang sia-sia.
Di charger DC, berhenti di sekitar 80 persen saat ada antrean. Sisa pengisiannya jauh lebih lambat dan menahan slot yang bisa dipakai orang lain.
Tiga kesalahan yang sering terjadi
Mengira angka kW di charger sama dengan kecepatan yang didapat mobil.Mobilmu yang menentukan batasnya. Charger DC 150 kW tidak akan membuat mobil yang hanya menerima 50 kW jadi lebih cepat, begitu juga charger AC 22 kW untuk mobil yang hanya menerima 7 kW.
Lupa memeriksa SPKLU tujuan.Pastikan masih aktif dan kosong lewat aplikasi seperti PLN Mobile sebelum berangkat.
Merencanakan rute dengan baterai tinggal sedikit.** Selalu sisakan cadangan, karena charger bisa penuh, rusak, atau antre. Jadi, mulai dari mana? Kalau punya garasi atau carport, mulailah dari charger AC di rumah. Ini investasi yang paling masuk akal dan menutup hampir seluruh kebutuhan harianmu. Untuk perjalanan luar kota, anggap DC fast charging sebagai pit stop: ngopi, ke toilet, lanjut jalan. Dengan dua kebiasaan itu, rasa cemas soal charger biasanya hilang dalam beberapa minggu pertama. Kalau kamu mengelola pabrik, hotel, atau tempat umum, mulailah dari dua pertanyaan: siapa penggunanya, dan berapa lama mereka biasanya parkir. Kalau parkirnya berjam-jam, arahnya ke charger AC. Kalau penggunanya cuma singgah sebentar dan butuh cepat, arahnya ke charger DC. Angka dalam artikel ini adalah gambaran umum, bukan spesifikasi mobil atau jaminan tarif tertentu. Untuk pemasangan listrik, selalu libatkan teknisi bersertifikat dan cek kebijakan PLN terbaru.
