Konten dari Pengguna

Kabar Pagi dari Lini Masa: Ketika Warga Menjadi Pewarta

Muhamad Nurviqri

Muhamad Nurviqri

Saya adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pakuan.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Nurviqri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sarapan berita harian. (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Sarapan berita harian. (Foto: Pixabay)

Kabut pagi yang masih tebal dan menyejukkan menyerang raga saya saat pintu rumah terbuka, pagi yang seperti biasanya. Membaca berita harian merupakan rutinitas yang selalu saya lakukan sebelum memulai hari. Tapi, sebelum itu saya sempatkan untuk membuat segelas kopi hangat sebagai senjata untuk meredam garangnya hawa dingin yang diciptakan pagi. Selepas itu saya langsung membaca berita harian. Saya membaca berita harian tidak dalam bentuk cetak atau televisi—seperti yang dilakukan Abah saya—melainkan melalui media sosial yang saya gunakan untuk bisa mendapatkan informasi tentang tawuran, macet yang tak berkesudahan, atau berita digiringnya pengamen jalanan.

Kebiasaan mendapatkan informasi melalui segenggam smartphone merupakan kebiasaan yang rasanya banyak juga dilakukan generasi muda angkatan saya. Format berita harian pun makin berkembang. Yang dulunya tulisan berita hanya bisa diakses melalui website media massa, kini media massa juga turut melakukan penulisan berita melalui media sosial seperti Instagram, Twitter, dan lainnya. Pola baru ini menimbulkan masifnya kehadiran citizen journalist atau jurnalis warga, atau sederhananya seorang individu yang mencari berita.

Siapa Saja Bisa Menjadi Pewarta

Jurnalisme tidak lagi menjadi monopoli para profesional. Seperti yang dikemukakan Lasica (dalam Eddyono et al., 2018), kini siapa pun bisa menjadi jurnalis warga—orang biasa yang melaporkan peristiwa di sekitar mereka, bahkan berkontribusi pada jurnalisme arus utama. Aktivitas ini bisa dilakukan dengan berbagai cara: menulis di blog pribadi, memublikasikan informasi di situs independen, atau menyebarkan kabar lewat media sosial seperti Facebook dan Twitter. Bahkan, saat seorang blogger melakukan wawancara via telepon demi memperdalam tulisannya, itu pun termasuk dalam praktik jurnalisme warga. Di era digital ini, suara publik menjadi bagian penting dari lanskap media.

Hasil survei Reuters Institute menunjukan media online tetap menjadi sumber utama informasi masyarakat Indonesia meski trennya menuru. (Foto: Olahan penulis)

Di tengah banjir informasi di media sosial, kita semakin sering mengetahui peristiwa penting bukan dari media arus utama, tapi dari rekaman ponsel warga. Padahal, menurut Digital News Report 2023 dari Reuters Institute, media online masih menjadi sumber utama berita masyarakat Indonesia—dipilih oleh 84% responden. Meski terjadi penurunan dari 89% pada 2021, media online tetap dominan. Namun kenyataannya, banyak dari kita justru pertama kali tahu suatu peristiwa dari story teman, grup WhatsApp keluarga, atau unggahan individu di Twitter dan Instagram. Saya pun termasuk. Jika ada peristiwa penting, sering kali saya melihatnya lebih dulu lewat media sosial, baru kemudian mengeceknya di media berita daring.

Pengalaman ini mungkin dirasakan banyak orang. Terutama dalam konteks peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar pusat-pusat kota besar atau yang bersifat “tidak viral”. Media sosial menjadi jendela awal—meskipun belum tentu akurat. Dalam pengamatan saya terhadap lini masa Twitter dan Instagram, masih banyak dinamika masyarakat yang tak disorot atau muncul belakangan di media arus utama. Salah satu contohnya adalah demonstrasi penolakan RUU TNI beberapa waktu lalu. Meski cukup ramai dibicarakan warganet dan menyentuh isu penting soal demokrasi sipil, liputan media arus utama tentang hal itu terasa minim atau baru muncul setelah isu tersebut ramai di media sosial. Tentu pengamatan ini bersifat subjektif, bukan data ilmiah, tapi menunjukkan adanya ketimpangan perhatian media.

Dalam banyak kasus, terutama di daerah pinggiran atau dalam konteks peristiwa yang berlangsung cepat dan sporadis, bencana lokal, kekerasan aparat, atau kejadian sehari-hari yang punya nilai berita justru pertama kali muncul dari akun warga. Jurnalisme warga hadir bukan sekadar sebagai pelengkap, melainkan menjadi satu-satunya sumber informasi awal. Hal ini mencerminkan adanya celah yang belum dijangkau media arus utama—baik karena keterbatasan SDM, anggaran, atau keputusan redaksional yang memusat pada isu-isu tertentu.

Studi Kasus: Jurnalisme Warga Bekerja

Akun Instagram @walikonten membagikan informasi aksi May Day dan pembubaran penampilan band The Jansen. (Foto: Olahan penulis)

Pada peringatan May Day 2025 di Jakarta, saya melihat sebuah video pendek di linimasa Instagram yang diunggah oleh akun @walikonten. Dalam video tersebut, band The Jansen tengah tampil di atas panggung sebagai bagian dari agenda aksi solidaritas buruh. Namun, di tengah penampilan itu, semprotan air dari aparat keamanan tiba-tiba menghantam area panggung dan membubarkan massa.

Momen tersebut terekam dalam durasi singkat. Suasana yang semula meriah seketika berubah jadi kacau. Video dari @walikonten menangkap transisi ini secara langsung dan tanpa narasi panjang, namun cukup untuk menyampaikan konteks: aksi buruh, musik perlawanan, dan represi.

Unggahan ini tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga membentuk persepsi publik terhadap situasi di lapangan. Meskipun hanya berdurasi singkat, video itu menjadi salah satu potongan dokumentasi yang memperlihatkan dinamika lapangan yang tidak saya temukan di kanal-kanal berita ketika itu.

Contoh ini menunjukkan bagaimana jurnalisme warga bekerja: cepat, spontan, dan berbasis pengalaman langsung. Dari satu unggahan Instagram, informasi tentang represi terhadap massa aksi bisa tersebar luas dan menimbulkan percakapan lanjutan di ruang digital.

Studi berjudul Citizen Journalism: Global Perspectives (Allan & Thorsen, 2009) menyebutkan bahwa jurnalisme warga sering berkembang di wilayah yang secara sistematis diabaikan oleh media besar. Di sanalah warga mengambil peran sebagai pewarta: merekam, menyebar, dan menyuarakan apa yang mereka lihat langsung.

Keberadaan jurnalisme warga adalah alarm sekaligus peluang. Alarm, karena ia menandakan adanya kekosongan liputan dari media besar. Peluang, karena ia membuktikan publik tak lagi pasif dalam menerima berita. Yang perlu dilakukan bukanlah bersaing, tapi berkolaborasi. Media arus utama bisa merangkul jurnalisme warga dengan membangun kanal verifikasi, pelatihan, dan mekanisme partisipatif. Karena di era digital, kekuatan narasi tak lagi dimonopoli redaksi besar, tapi siapa pun yang peduli dan hadir lebih dulu di lokasi.

Referensi

Digital News Report 2023 – Reuters Institute. Diakses melalui Katadata.co.id.

Allan, Stuart & Thorsen, Einar. (2009). Citizen Journalism: Global Perspectives. Peter Lang Publishing.

Eddyono, Aryo Subarkah, Faruk HT, & Budi Irawanto. (2019). Jurnalisme Warga: Liyan, Timpang dan Diskriminatif. Profetik Jurnal Komunikasi, Vol. 12 No. 1, April 2019.