Bukan Lagi Soal Butuh: Mengapa Anak Muda Makin Sulit Berhenti Belanja?

Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta Program Studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari muhamad risqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Entah sejak kapan, belanja menjadi lebih dari sekadar aktivitas memenuhi kebutuhan. Hari ini, satu klik checkout bisa menjadi bentuk hiburan, pelarian, bahkan cara untuk merasa lebih baik. Dalam sekejap, keranjang belanja penuh, notifikasi pembayaran muncul, dan rasa puas datang sebelum barang benar-benar sampai.
Tapi di balik kemudahan itu, saya sering bertanya-tanya: sebenarnya apa yang sedang kita cari ketika membeli sesuatu?
Sebagian mungkin akan bilang, ini soal menghargai diri sendiri. Setelah lelah bekerja, kuliah, atau menghadapi hari yang berat, membeli barang yang diinginkan terasa seperti hadiah kecil untuk diri sendiri. Namun, apakah kita benar-benar sedang melakukan self reward? Atau hanya mencari alasan agar tidak merasa bersalah saat menghabiskan uang?
Perilaku konsumen anak muda hari ini terasa semakin berubah. Belanja tidak selalu lagi berangkat dari kebutuhan, tetapi dari perasaan. Saat stres, kita membuka aplikasi belanja. Saat bosan, kita melihat rekomendasi produk. Saat melihat orang lain memiliki sesuatu yang baru, tiba-tiba barang yang kita punya terasa kurang menarik.
Media sosial punya peran besar dalam perubahan ini. Konten unboxing, haul, hingga rekomendasi “barang wajib punya” muncul setiap hari. Lucunya, kita sering tertarik pada sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kita pikirkan. Hanya karena terus muncul di beranda, barang tersebut perlahan terasa seperti kebutuhan.
Padahal, belum tentu.
Algoritma tahu apa yang membuat kita berhenti scrolling. Brand tahu cara menciptakan rasa penasaran. Diskon besar, flash sale, stok terbatas, sampai tulisan “tinggal beberapa barang lagi” bukan sekadar promosi. Semua dirancang agar kita mengambil keputusan lebih cepat daripada sempat berpikir.
Belum lagi hadirnya sistem pembayaran seperti paylater yang membuat batas antara mampu membeli dan ingin membeli semakin kabur. Barang bisa langsung dimiliki hari ini, sementara konsekuensi baru terasa ketika tagihan datang. Rasanya seperti mendapatkan kebahagiaan sekarang dan memindahkan masalah ke kemudian hari.
Ironisnya, rasa puas itu sering kali tidak bertahan lama. Barang datang, kemasan dibuka, dipakai beberapa kali, lalu perlahan terlupakan. Yang tersisa bukan lagi rasa senang, melainkan keinginan baru untuk membeli sesuatu yang lain.
Budaya konsumsi hari ini seperti tidak pernah memberikan kesempatan untuk merasa cukup. Selalu ada tren baru, produk baru, dan standar baru yang membuat kita merasa tertinggal. Kita tidak hanya membeli barang, tetapi juga membeli perasaan diterima dan dianggap mengikuti zaman.
Bukan berarti membeli sesuatu yang kita inginkan adalah hal yang salah. Semua orang berhak menikmati hasil kerja kerasnya. Namun, mungkin kita perlu mulai bertanya: apakah barang ini benar-benar membuat hidup lebih baik, atau hanya memberikan kepuasan sesaat?
Karena pada akhirnya, masalah terbesar bukan tentang seberapa banyak yang kita beli. Tetapi apakah kita masih menjadi orang yang memilih apa yang kita butuhkan, atau hanya mengikuti apa yang terus ditawarkan kepada kita.
