Konten dari Pengguna

Festival Musik: Hiburan atau Pelarian dari Realita yang Semakin Bising?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari muhamad risqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pribadi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi Penulis

Entah sejak kapan, festival musik jadi semacam agama baru bagi anak muda urban. Dalam sekejap, tiket ludes, outfit disiapkan jauh-jauh hari, dan euforia di media sosial meledak lebih dulu sebelum panggung dibuka. Akan tetapi, di balik gemerlap lighting dan dentuman beat, saya sering bertanya-tanya: apa yang sebenarnya kita cari dari sebuah festival musik?

Sebagian mungkin akan bilang, ini soal kesenangan, pelarian, healing dari hidup yang makin absurd. Ada juga yang datang untuk eksistensi sekadar terlihat “ada” di keramaian itu. Tapi apakah festival musik hari ini masih tentang musik itu sendiri? Atau sudah berubah jadi panggung ego, tempat manusia berlomba-lomba jadi paling aesthetic di antara ribuan penonton lainnya?

Jujur saja, saya rindu festival yang terasa lebih jujur. Yang datang bukan cuma karena FOMO atau sekadar numpang story Instagram. Musik hari ini terasa seperti latar belakang semata, sementara sorotan utama justru ada di outfit, brand sponsor, dan angle foto paling strategis.

Belum lagi soal harga. Tiket festival musik hari ini tak lagi murah. Bahkan untuk beberapa acara, harga satu tiket bisa sama dengan dua kali UMR. Tapi tetap saja habis. Ini membuat saya sadar bahwa generasi kita rela membayar mahal untuk sesaat merasa “hidup”, meski di hari berikutnya kembali terjebak dalam tekanan sosial yang sama. Festival musik telah menjadi semacam obat bius: memabukkan, sesaat, tetapi tidak menyembuhkan apa-apa.

Bukan berarti saya anti festival. Saya juga pernah menikmati momen saat musisi favorit naik panggung dan semua penonton ikut bernyanyi seperti sedang menyatu dalam satu frekuensi. Tapi saya juga tak bisa menutup mata bahwa industri hiburan sekarang tahu betul cara memeras emosi kita, menjual mimpi atas nama pengalaman, dan mengemas pelarian sebagai bentuk pencapaian.

Mungkin sudah saatnya kita bertanya: apakah kita masih datang ke festival musik untuk mencintai musik? Atau hanya karena takut tak punya cerita saat orang lain membicarakannya?