Konten dari Pengguna

Self Reward atau Self Trap? Ketika Belanja Jadi Cara Bertahan Hidup

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari muhamad risqi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pribadi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi Penulis

Entah sejak kapan, istilah self reward menjadi pembenaran paling ampuh untuk membeli apa pun yang kita inginkan. Capek kerja? Self reward. Nilai ujian bagus? Self reward. Putus cinta? Self reward. Bahkan setelah seharian rebahan tanpa melakukan apa-apa pun, kadang kita masih merasa pantas menghadiahi diri sendiri.

Saya jadi bertanya-tanya, apakah kita benar-benar sedang menghargai diri sendiri, atau hanya mencari alasan agar tidak merasa bersalah saat menghabiskan uang?

Hari ini, perilaku konsumen anak muda rasanya sudah berubah. Belanja bukan lagi soal kebutuhan, melainkan soal suasana hati. Ketika stres, kita membuka aplikasi belanja. Saat bosan, kita scroll rekomendasi produk. Ketika melihat teman mengunggah barang baru, tiba-tiba kita merasa barang yang kita miliki sudah tidak cukup menarik.

Media sosial membuat semuanya terasa normal. Konten unboxing, haul, sampai video "racun TikTok" muncul setiap hari tanpa henti. Lucunya, kita sering membeli barang yang sebelumnya tidak pernah kita cari. Cukup karena muncul berkali-kali di beranda, kita mulai yakin bahwa barang itu memang penting.

Padahal, belum tentu.

Algoritma tahu kapan kita sedang lengah. Brand tahu bagaimana cara menciptakan rasa takut ketinggalan. Diskon, flash sale, stok terbatas, hingga tulisan "10 orang sedang melihat produk ini" bukan sekadar informasi. Itu adalah strategi agar kita berpikir lebih cepat daripada logika kita bekerja.

Belum lagi kemudahan paylater yang membuat semua terasa mungkin. Barang langsung sampai, sementara tagihan datang belakangan. Rasanya seperti menang hari ini, padahal belum tentu dompet kita ikut merayakannya bulan depan.

Ironisnya, setelah barang itu datang, rasa senang sering kali cepat menghilang. Kardus dibuang, plastik dibuka, barang dipakai satu atau dua kali, lalu perlahan terlupakan. Yang tersisa justru notifikasi cicilan yang harus dibayar.

Bukan berarti self reward adalah sesuatu yang salah. Semua orang berhak menikmati hasil kerja kerasnya. Namun, mungkin kita perlu mulai membedakan antara menghargai diri sendiri dan memanjakan diri tanpa batas.

Sebab bisa jadi, hadiah terbaik untuk diri sendiri bukan selalu barang baru, melainkan kemampuan untuk berkata, "Aku sebenarnya tidak membutuhkan ini."

Karena pada akhirnya, konsumen yang paling sulit dipengaruhi bukanlah mereka yang punya uang paling banyak, tetapi mereka yang tahu kapan harus berhenti membeli.