Konten dari Pengguna

Ketika Iran Mengarahkan Pandangannya ke London dan Inggris Bersiaga

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Rizky Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by Dean Moriarty from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Image by Dean Moriarty from Pixabay

Inggris tidak menyatakan perang terhadap Iran. Inggris bahkan secara konsisten menolak terlibat dalam operasi ofensif Amerika Serikat terhadap Teheran. Tapi pada Kamis 23 Juli 2026, Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan sesuatu yang mengubah posisi Inggris secara sepihak: setiap pangkalan militer Inggris yang digunakan AS untuk menyerang Iran adalah target yang sah.

Kalimat itu tidak membutuhkan deklarasi perang untuk menjadi ancaman yang nyata. Dan dalam beberapa jam setelahnya, Inggris merespons dengan mengaktifkan kesiapsiagaan militer 24 jam penuh. Bukan karena London memilih untuk masuk ke dalam konflik ini, melainkan karena konflik itu tampaknya sudah memilih Inggris.

RAF Fairford: Pangkalan yang Tiba-Tiba Jadi Sorotan Dunia.

Di jantung kontroversi ini ada sebuah pangkalan udara di Gloucestershire yang selama ini lebih dikenal sebagai lokasi ajang penerbangan tahunan daripada sebagai titik panas geopolitik. RAF Fairford adalah satu-satunya pangkalan di Eropa yang mampu mengoperasikan pesawat pengebom strategis AS, termasuk B-52 Stratofortress dan B-1B Lancer. Sejarahnya panjang dalam mendukung operasi militer Amerika: dari Irak pada 1990-an, Yugoslavia pada era Clinton, hingga operasi-operasi terakhir di Timur Tengah.

IRGC menuding pesawat pengebom B-1 Lancer AS baru-baru ini lepas landas dari Fairford untuk melancarkan serangan ke wilayah Iran, setelah kapal perang Amerika di Samudra Hindia kehabisan persediaan rudal jelajah. Kementerian Pertahanan Inggris belum mengkonfirmasi atau membantah tudingan tersebut. Tapi ketidakhadiran klarifikasi resmi itu sendiri sudah cukup untuk membuat Teheran merasa yakin dengan klaimnya.

Inggris di Posisi yang Tidak Pernah Dipilihnya.

Perdana Menteri Inggris Andy Burnham sejak awal konflik AS-Iran sudah mengambil posisi yang hati-hati: mengizinkan AS menggunakan pangkalan militer di wilayah Inggris untuk operasi yang dikategorikan defensif, tapi menolak mendukung operasi ofensif. Pembedaan ini mungkin terlihat jelas di atas kertas, tapi di lapangan batas antara defensif dan ofensif dalam konflik bersenjata jarang sekali serapi kategori yang dibuat di meja perundingan.

Duta Besar Iran untuk London, Seyed Ali Mousavi, memilih kata-kata yang lebih terukur tapi sama tajamnya. Ia menyebut izin yang diberikan London kepada pesawat pengebom AS sebagai sesuatu yang sangat penting yang sedang dipertimbangkan Teheran, dan mengingatkan bahwa keputusan Inggris terkait masalah ini akan menentukan langkah selanjutnya. Kementerian Luar Negeri Iran bahkan secara terbuka melabeli Inggris sebagai kaki tangan AS dalam perang, sebuah frasa yang mau tidak mau mempersempit ruang manuver diplomatik London.

Ketika Posisi Netral Tidak Lagi Cukup untuk Tetap Aman.

Ada paradoks yang tidak mudah diselesaikan di sini. Inggris tidak ingin berperang dengan Iran. Inggris tidak menyatakan diri sebagai pihak dalam konflik. Tapi ketika infrastruktur militernya digunakan sebagai batu loncatan serangan terhadap negara lain, negara yang diserang itu tidak perlu membaca perjanjian bilateral antara Washington dan London untuk memutuskan siapa yang dianggap bertanggung jawab.

Konflik AS-Iran sudah menarik semakin banyak pihak ke dalam orbit yang tidak mereka pilih sebelumnya. Qatar, Bahrain, dan Kuwait menanggung serangan karena menampung pangkalan AS. Kini giliran Inggris yang mendapati namanya disebut oleh IRGC. Juru bicara pemerintah Inggris sudah menegaskan bahwa angkatan bersenjata siap menjaga Inggris dari segala jenis serangan, di dalam maupun luar negeri. Tapi kesiapsiagaan militer dan kepastian bahwa ancaman itu tidak akan pernah terwujud adalah dua hal yang berbeda, dan jarak di antara keduanya hari ini terasa lebih sempit dari sebelumnya.