Konten dari Pengguna

Sepuluh Gol dan Satu Perpisahan: Malam Terakhir Deschamps

Muhamad Rizky Saputra

Muhamad Rizky Saputra

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Rizky Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hasil Piala Dunia 2026: Inggris Bungkam Prancis dalam Laga Sengit (Sumber: Kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Hasil Piala Dunia 2026: Inggris Bungkam Prancis dalam Laga Sengit (Sumber: Kumparan)

Thomas Tuchel dan Didier Deschamps sama-sama mengakui sebelum pertandingan bahwa semangat para pemain tidak sedang di titik terbaik. Perebutan tempat ketiga memang selalu terasa seperti hiburan yang tidak diminta, sebuah laga yang hadir sebagai konsekuensi dari kegagalan semifinal yang masih terasa segar. Tapi Hard Rock Stadium Miami, Minggu 19 Juli 2026, menyaksikan sesuatu yang tidak direncanakan oleh siapapun: sepuluh gol, drama yang tidak berhenti, dan sebuah perpisahan yang menyentuh.

Inggris menang 6-4 atas Prancis, mencetak kemenangan terbesar mereka atas Les Bleus sepanjang sejarah pertemuan kedua tim. Laga itu sekaligus menjadi yang paling produktif sepanjang Piala Dunia 2026, melampaui semua pertandingan sebelumnya dalam hal jumlah gol. Dan di balik semua gol itu, ada satu narasi yang tidak kalah besarnya: Didier Deschamps menutup 14 tahun perjalanannya bersama timnas Prancis dengan kekalahan.

Babak Pertama yang Membuat Deschamps Bertanggung Jawab.

Empat gol bersarang di gawang Prancis di babak pertama saja. Deschamps sendiri yang mengakui bahwa babak pertama timnya sangat buruk dan memalukan, sebuah pengakuan yang jarang keluar dari mulut pelatih sekelas dia. Les Bleus memang masih mampu membalas dan memperkecil jarak, membuat laga terus bergerak dalam ritme yang tidak terduga. Tapi kerusakan yang terjadi di 45 menit pertama terlalu besar untuk sepenuhnya diperbaiki.

Yang menambah rasa sakit bagi pendukung Prancis adalah keputusan Deschamps yang memilih tidak memainkan N'Golo Kante sekalipun sepanjang turnamen. Gelandang berusia 35 tahun dari Fenerbahce itu duduk di bangku cadangan dari awal hingga akhir, menyaksikan seluruh perjalanan Les Bleus di Amerika tanpa pernah mendapat satu menit pun. Laga melawan Inggris malam itu adalah kesempatan terakhirnya, dan tetap tidak datang.

Inggris, Tuchel, dan Bronzenya yang Bermakna.

Di sisi seberang lapangan, Thomas Tuchel memilih perspektif yang berbeda. Bagi pelatih asal Jerman yang baru satu tahun menangani Inggris, medali perunggu Piala Dunia tetap merupakan pencapaian nyata, bukan sekadar hiburan. Inggris tampil agresif dan penuh keyakinan sejak menit pertama, memanfaatkan ketidakseimbangan emosional Prancis yang jelas terlihat sejak babak pertama.

Kemenangan ini juga bermakna lebih dari sekadar medali. Inggris berhasil menembus babak semifinal Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1966, setelah puluhan tahun lebih sering mengakhiri turnamen dengan kekecewaan di babak-babak awal. Meski tidak berhasil melangkah ke final, perjalanan mereka di bawah Tuchel memberikan sinyal bahwa generasi baru Three Lions sedang dalam lintasan yang benar.

Perpisahan yang Tidak Sempurna, tapi Tidak Bisa Dihapus Sejarahnya.

Deschamps mengakhiri tugasnya seperti yang dimulainya: dengan cara yang tidak pernah benar-benar mudah ditebak. Empat belas tahun adalah rentang waktu yang luar biasa untuk menangani tim nasional mana pun, dan dalam periode itu ia membawa Prancis meraih Piala Dunia 2018, runner-up Piala Dunia 2022, serta dua gelar Liga Nations. Kekalahan 4-6 dari Inggris di laga perpisahannya bukan akhir yang sempurna, tapi tidak pula bisa menghapus apa yang sudah dibangunnya selama lebih dari satu dekade.

Di luar hasil akhir, ada satu hal yang tidak direncanakan oleh siapapun malam itu: laga yang oleh kedua pelatih disebut tidak diinginkan justru menghadirkan tontonan yang sulit dilupakan. Sepuluh gol, momen dramatis yang terus datang bergantian, dan ribuan penonton di Miami yang tadinya berharap bisa menyaksikan final ternyata mendapat sesuatu yang tidak kalah berkesan. Kadang, pertandingan yang tidak ada yang mau memainkannya justru menjadi yang paling layak dikenang.