Mematahkan Doktrin 'Pria Tak Boleh Menangis' dengan Kesetaraan Gender

Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Abdurrahman Aditama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak kecil, banyak dari kita para laki-laki didoktrin oleh sebuah ungkapan tak tertulis: "Laki-laki itu harus kuat, tidak boleh menangis, dan pantang terlihat lemah."
Tanpa disadari, ungkapan tersebut perlahan menjadi topeng besi yang terpatri kencang di wajah kita sebagai laki-laki. Ketika masalah datang bertubi-tubi, kita dipaksa menelan emosi bulat-bulat karena takut dicap lembek. Parahnya lagi, saat laki-laki mengalami perundungan, kekerasan, atau masalah kesehatan mental, tidak sedikit yang memilih bungkam hanya demi menjaga topeng maskulinitas tersebut agar tidak lepas.
Lalu, apa reaksinya saat mendengar kata kesetaraan gender? Sebagian besar laki-laki mendadak pasang kuda-kuda defensif. Ada anggapan menggelitik bahwa isu ini hanyalah agenda memperjuangkan hak perempuan semata, yang berujung pada kekhawatiran bahwa peran, posisi, atau hak laki-laki akan tergerus.
Padahal, persepsi ini lahir dari informasi yang tidak utuh dan norma sosial yang diwariskan begitu saja. Kesetaraan gender bukanlah permainan ‘benar salah’ di mana jika perempuan berdaya, maka laki-laki harus dirugikan. Sebaliknya, isu ini hadir justru untuk meruntuhkan kurungan stereotip kaku yang selama ini mencekik emosi dan membatasi ruang gerak laki-laki.
Menanggung Beban Tak Kasat Mata
"Mari jujur pada diri sendiri. Kebiasaan terlihat baik-baik saja saat menelan masalah sendirian, tuntutan untuk selalu bisa memecahkan masalah, serta anggapan bahwa laki-laki yang curhat atau galau itu 'lemah' dan 'cengeng' adalah bentuk tekanan psikologis yang sangat melelahkan."
Ketika ekspektasi sosial itu gagal dipenuhi, yang tersisa adalah rasa bersalah dan bayang-bayang kegagalan. Dampaknya tidak main-main:
Kesehatan Mental yang Terabaikan: Risiko stres, kecemasan berlebih, hingga depresi meningkat karena ‘laki-laki tidak bercerita’.
Perilaku Agresif: Emosi yang terus ditahan tanpa pengelolaan yang sehat kerap meledak menjadi konflik hubungan atau tindakan agresif.
Potensi yang Terbatas: Pilihan karier, pendidikan, hingga keterlibatan emosional dalam keluarga menjadi sangat terbatas karena takut menabrak stereotip "pekerjaan atau peran khusus laki-laki".
Mencari bantuan saat melintasi masa sulit bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah rasional untuk menyelamatkan kesehatan mental kita.
Menyoroti Peer Pressure "Sok Rajin Itu Nggak Keren" dalam budaya sekolah
Sudut pandang ini membedah mengapa anak laki-laki kalah teliti/rajin, karena ada tekanan sosial sesama anak laki-laki bahwa belajar dan rajin itu dianggap "tidak maskulin" atau "feminisme/cewek banget".
Stigma 'Keren' dalam Pertemanan di Sekolah
Banyak dari kita menganggap wajar jika murid perempuan lebih teliti dan rajin di kelas. Namun, jika dibedah lebih dalam, ketimpangan ini menyimpan masalah serius: capaian literasi dan numerasi murid laki-laki secara nasional justru berada di bawah murid perempuan.
Ini bukan soal siapa yang lebih pintar, melainkan soal beban stereotip yang salah arah. Di lingkungan sekolah, anak laki-laki sering kali menghadapi tekanan sebaya (peer pressure) di mana terlalu rajin belajar atau tekun membaca dianggap "tidak keren" dan tidak maskulin. Mereka didorong untuk lebih menonjolkan fisik atau sikap dominan. Parahnya lagi, ketika anak laki-laki mengalami kesulitan belajar atau menjadi korban perundungan, mereka enggan meminta bantuan guru karena takut dicap lemah hingga akhirnya kemampuan akademis mereka benar-benar tertinggal.
Capaian Pendidikan yang Tunjukkan Realita
Salah kaprah tentang peran gender ini ternyata berdampak langsung pada ruang kelas dan masa depan generasi muda. Selama ini ada stereotip bahwa anak laki-laki selalu lebih unggul dalam logika atau bidang teknis tertentu. Namun, data Rapor Pendidikan justru menunjukkan fakta sebaliknya yang cukup menampar: capaian nilai literasi dan numerasi murid laki-laki justru berada di bawah murid perempuan.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena stereotip gender yang membebani murid laki-laki seperti tuntutan untuk selalu terlihat kuat, dominan, atau sekadar jagoan sering kali mengalihkan fokus mereka dari pengembangan karakter dan kemampuan akademis. Anak laki-laki dibiarkan terjebak dalam ekspektasi sosial, ketimbang didorong untuk mengekspresikan diri secara positif dan mengejar potensinya.
Mendefinisikan 'Pria Sejati' di Era Modern
Kesetaraan gender tidak pernah menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai dua kubu yang bertolak belakang. Tujuan utamanya adalah menghapus diskriminasi dan menciptakan kesetaraan yang memberi kesempatan semua orang untuk memaksimalkan potensinya.
Di era sekarang, gambaran laki-laki yang ideal telah bergeser. Pria sejati bukan lagi diukur dari seberapa ‘jagoan’ atau ‘tidak cengeng’-nya seseorang, melainkan dari:
Integritas dan Tanggung Jawab: Memperlakukan semua orang secara setara dan adil.
Dewasa secara Emosional: Mampu mengelola emosi, berkomunikasi secara santun, dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.
Butuh Bantuan bukanlah Kelemahan: Tidak ragu meminta bantuan ketika menghadapi kesulitan.
Berawal dari Rumah, Berdampak bagi Semua
Mematahkan miskonsepsi ini tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja, penting untuk diketahui bahwa ada kolaborasi antara keluarga, sekolah, masyarakat, hingga media yang jika dieratkan, dapat membentuk nilai-nilai kesetaraan gender secara tepat. Edukasi adil dan setara dimulai dari rumah melalui pembagian peran keluarga yang saling menghargai. Sekolah memperkuatnya dengan lingkungan yang aman dari stereotip diskriminatif, sementara masyarakat dan media menyajikan teladan positif tanpa terus-menerus mengagungkan stereotip maskulin yang toxic."
Bagi para laki-laki muda, mendukung kesetaraan gender tidak akan membuatmu kehilangan identitas atau peran sebagai pria. Justru dengan memahami kesetaraan, kamu sedang membebaskan dirimu dari standar tidak realistis yang diwariskan masa lalu. Menjadi mitra yang setara bagi perempuan adalah bentuk kekuatan karakter yang sesungguhnya.
