Konten dari Pengguna

Bagaimana Kurikulum Ibadah Ramadan Membentuk Kesadaran Spiritual Gen Z?

Muhammad Affan Yazidur Rahman

Muhammad Affan Yazidur Rahman

Seorang akademisi dan peneliti muda Indonesia yang saat ini menempuh studi pascasarjana di Universitas Gadjah Mada (UGM) setelah sebelumnya menyelesaikan sarjana Pendidikan Agama Islam di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada tahun 2023.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Affan Yazidur Rahman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

AI
zoom-in-whitePerbesar
AI

Dalam situasi tersebut, Bulan Ramadan hadir dengan ritme yang berbeda. Ia tidak bergerak mengikuti algoritma, melainkan mengikuti azan. Ia tidak dibentuk oleh notifikasi, melainkan oleh niat. Di sinilah Kurikulum Ibadah Ramadan menemukan relevansinya sebagai sebuah teknologi pembentukan diri.

Michel Foucault menyebut adanya technology of the self, yakni praktik-praktik sadar dan terstruktur yang memungkinkan manusia mentransformasi dirinya. Istilah teknologi dalam konteks ini bukan dimaknai sekadar mesin, melainkan metode pembentukan batin. Jika dunia digital memiliki teknologinya sendiri untuk membentuk perilaku, maka Bulan Ramadan memiliki teknologinya untuk membentuk kesadaran manusia.

Namun, pembentukan diri tidak terjadi secara instan dan otomatis. Ia lahir dari aktivitas nyata yang dilaksanakan dengan kesungguhan.

Contohnya, satu jam sebelum berbuka, seorang anak muda lebih memilih mematikan notifikasi gawainya. Ia tidak menscroll sosial untuk menunggu waktu magrib. Ia duduk dengan mushaf di tangannya, membaca beberapa ayat secara perlahan, lalu berhenti sejenak pada satu ayat yang menyentuh hatinya. Ia tidak mengejar jumlah, melainkan kedalaman. Di situ, perhatian yang biasanya terpecah mulai terkumpulkan. Kesadaran yang biasanya tercecer mulai dipusatkan.

Atau setelah salat tarawih, alih-alih kembali tenggelam dalam dunia digital, ia membuka buku kecil atau catatan di perangkatnya dan menuliskan dalam bentuk refleksi singkat: emosi apa yang paling sulit ia kendalikan hari ini? Pada momen apa ia hampir terpancing? Apa yang ia pelajari dari puasanya hari itu? Praktik sederhana ini menjadikan Ramadan bukan sekadar pengalaman yang lewat, tetapi proses yang disadari.

Puasa juga dapat melampaui penahanan lapar dan dahaga. Ia bisa menjadi latihan “menunda respons”. Ketika menerima pesan yang memancing emosi, ia tidak langsung membalas. Ia memberi jeda sepuluh menit. Ketika membaca komentar yang menyudutkan, ia memilih diam. Dalam dunia yang mendorong reaksi cepat, kemampuan untuk menahan respons adalah bentuk kedewasaan spiritual. Di sinilah puasa bekerja sebagai teknologi batin yang melatih kendali atas diri sendiri, bukan atas kehendak orang lain.

Kurikulum Ibadah Ramadan juga dapat hadir dalam cara Generasi Z mengelola konsumsi digitalnya. Bukan dengan meninggalkan teknologi sepenuhnya, tetapi dengan menatanya secara sadar. Ia mungkin mulai mengurangi akun-akun yang memicu distraksi, mengganti waktu scroll dengan membaca tafsir singkat lima ayat setiap hari, atau membatasi durasi layar setelah tarawih. Keputusan-keputusan kecil ini membentuk struktur baru dalam keseharian.

(Alm) Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie pernah mengingatkan, keseimbangan iman taqwa (imtaq) dan ilmu pengetahuan teknologi (teknologi). Pernyataan ini menemukan maknanya dalam konteks Ramadan di era digital. Teknologi bukan musuh spiritualitas, tetapi tanpa kesadaran, ia dapat mengaburkan fokus. Sebaliknya, spiritualitas yang menolak realitas zaman juga dapat berisiko kehilangan relevansi. Tantangannya bukan memilih salah satu, melainkan memastikan bahwa teknologi tetap menjadi alat, bukan penguasa.

Ramadan menawarkan ruang untuk merebut kembali kendali atas perhatian. Ketika seseorang memilih bangun sahur dengan kesadaran, berjalan menuju masjid untuk tarawih, atau duduk hening tiga puluh menit sebelum tidur untuk berdzikir tanpa adanya gangguan (distraksi), ia sedang membangun ulang dirinya. Praktik-praktik itu mungkin tampak sederhana, tetapi dalam perspektif technology of the self, pengulangan yang konsisten akan membentuk kebiasaan (habit) yang lebih tenang, teratur, dan sadar.

Kedewasaan spiritual tidak muncul dari semangat membara sesaat. Ia tumbuh dari disiplin kecil yang diulang setiap hari. Jika selama tiga puluh hari seseorang melatih perhatian, menjaga lisan, mengatur waktu, dan menghadirkan diri secara utuh dalam ibadah, maka secara perlahan terbentuk fondasi batin yang lebih stabil. Perubahan mungkin tidak langsung terlihat, tetapi terasa: lebih sabar menghadapi tekanan, lebih jernih dalam mengambil keputusan, lebih tenang di tengah kebisingan.

Di tengah dunia yang dikendalikan algoritma, Kurikulum Ibadah Ramadan mengajarkan bahwa manusia tetap memiliki otoritas atas dirinya. Generasi Z tidak harus menjadi generasi yang kehilangan fokus karena distraksi. Justru di era paling digital inilah kemampuan untuk hening menjadi bentuk kecanggihan yang lebih tinggi.

Bagaimana Kurikulum Ibadah Ramadan membentuk kesadaran spiritual Generasi Z di era digital? Dengan menghadirkan aktivitas yang melatih perhatian, menguatkan pengendalian diri, dan menata ulang relasi dengan teknologi. Bukan dengan menjauh sepenuhnya dari dunia, tetapi dengan mengelolanya secara sadar.

Aktivitas Ibadah Bulan Ramadan pada akhirnya bukan sekadar peristiwa ritual tahunan. Ia adalah momentum untuk pembentukan diri. Dan di sanalah, di tengah kedisiplinan kecil yang dijalani dengan khusyuk, kesadaran spiritual perlahan menemukan akarnya tidak hanya untuk tiga puluh hari, tetapi untuk kehidupan setelahnya.