Konten dari Pengguna

Implikasi Restorasi Meiji terhadap Kemunculan dan Perkembangan Paham Feminisme

Muhammad Afif Maghfur

Muhammad Afif Maghfur

Saya adalah seorang mahasiswa. Saat ini saya masih mengenyam pendidikan di Universitas Negeri Semarang sebagai mahasiswa pendidikan sejarah. Saya memiliki hobi membaca, menulis, dan menonton film.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Afif Maghfur tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi wanita Jepang. Foto: dokumen pribadi penulis
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wanita Jepang. Foto: dokumen pribadi penulis

Feminisme adalah paham yang timbul akibat dari adanya penindasan terhadap hak-hak perempuan. Menurut Mansour Fakih dalam bukunya Analisis Gender dan Transformasi Sosial feminisme adalah sebuah gerakan yang berasal dari kesadaran bahwasannya wanita adalah kaum yang tertindas.

Tujuan dari paham feminisme adalah mengakhiri penindasan dan menuntut kesetaraan gender. Pengertian gender yang dimaksud adalah pembagian peran sosial antara pria dan wanita yang memiliki aturan terstruktur, sedangkan kesetaraan gender adalah persamaan hak, kewajiban, dan kedudukan di antara pria dan wanita dalam kehidupan sehari-hari.

Pada masa lampau kesetaraan gender telah menjadi masalah yang menyebabkan ketimpangan di berbagai belahan dunia. Jepang adalah salah satu contoh negara yang mempunyai masalah tersebut. Wanita tidak memiliki kedudukan yang sama dengan laki-laki.

Pada masa keshogunan wanita selalu menjadi kaum yang dipandang sebelah mata dan diperlakukan dengan tidak adil. Wanita tidak memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki. Hal tersebut menyebabkan terjadinya bias gender, atau sikap yang hanya mengutamakan salah satu jenis kelamin dalam masyarakat.

Bias gender dalam masyarakat Jepang terjadi karena ajaran-ajaran kepercayaan masyarakatnya tidak memberikan ruang bagi wanita untuk berperan dan berkedudukan sama dengan laki-laki. Ajaran kepercayaan masyarakat Jepang dapat diartikan bersifat patriarki.

Dalam ajaran Shinto wanita yang sudah mengalami menstruasi dianggap sebagai objek yang kotor. Ajaran Shinto mengajarkan bahwa darah adalah sesuatu yang kotor dan harus dihindari hal tersebut berdampak kepada wanita. Wanita yang telah mengalami menstruasi tidak diperbolehkan memasuki kuil.

Dalam ajaran Konfusius, wanita tidak diberikan kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Ajaran ini mengajarkan wanita untuk menaati ayahnya ketika kanak-kanak, menaati suaminya ketika sudah menikah, dan menaati anak laki-lakinya ketika sudah menginjak lansia.

Sedangkan ajaran Buddha memberikan penguatan terhadap ajaran kesetiaan Konfusius dengan memberikan pemahaman mengenai reinkarnasi. Jika seseorang setia kepada tuannya maka karma yang diadapat dalam kehidupan reinkarnasi selanjutnya akan lebih baik. Pandangan tersebut menimbulkan paham bahwa seorang istri harus setia kepada suaminya melewati batas kehidupan dan kematian.

Implementasi dari kepercayaan masyarakat adalah dikeluarkannya sistem keluarga tradisional yang patrilineal. Sistem tersebut adalah sistem keluarga ie. Adapun kemudian ruang lingkup sistem ie meluas dan menjadi budaya bagi masyarakat Jepang.

Budaya yang demikian sangat membatasi wanita untuk berkembang. Hal tersebut menimbulkan gejolak dalam masyarakat sehingga paham feminisme dapat berkembang pada era Restorasi Meiji. Berkembangnya feminisme di Jepang menandakan munculnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesetaraan gender.

Paham feminisme di Jepang muncul akibat kebijakan yang dicetuskan oleh Kaisar Meiji. Kaisar mencetuskan sebuah perubahan yang dinamai Restorasi Meiji. Restorasi Meiji adalah gerakan pembaruan dan moderninsasi Jepang dalam bidang sosial, politik, pendidikan, dan ekonomi.

Sebelum pembaruan dicetuskan oleh Kaisar Meiji Jepang sangat tertutup terhadap bangsa lain. Penulis Jerman Engelbert Kampfer menyebut sikap politik Jepang dalam bukunya Amoenitatum Exoticarum sebagai sakoku yang berarti politik isolasi Jepang. Sakoku bertujuan untuk menghindari pengaruh asing masuk ke Jepang. Setelah dicetuskannya Restorasi Meiji sakoku dihapuskan oleh kaisar. Hal tersebut menyebabkan pengaruh barat masuk ke dalam masyarakat Jepang. Adapun salah satu pengaruh barat tersebut adalah paham feminisme.

Paham feminisme muncul dan berkembang di Jepang sebagai dampak dari model pendidikan yang diterapkan pada masa Restorasi Meiji. Pada masa tersebut Jepang mulai meniru model pendidikan yang diterapkan di negara-negara barat. Akibatnya mulai muncul aktivis yang menyebarkan paham feminisme dan menuntut kesetaraan gender.

Penyebaran paham feminisme pada masa Restorasi Meiji

Potret Fukuzawa Yukichi dan Tsuda Umeko. Foto diambil dari https://id.wikipedia.org/wiki/Fukuzawa_Yukichi#/media/Berkas:FukuzawaYukichi.jpg https://en.wikipedia.org/wiki/Tsuda_Umeko#/media/File:Umeko_Tsuda_at_graduation_1890.jpg

Salah satu tokoh penyebar feminisme di Jepang adalah Fukuzawa Yukichi. Fukuzawa Yukichi adalah seorang intelektual dan kritikus sosial terkemuka di Jepang. Dia menentang praktik-praktik patriarki dalam masyarakat Jepang dengan menulis buku yang berjudul Gakumon no Susume. Di dalam bukunya ia menuntut terwujudnya persamaan gender dan menentang patriarki dalam masyarakat Jepang. Fukuzawa berpendapat bahwasannya wanita harus diberikan kebebasan sebagaimana laki-laki.

Tokoh lain yang mendukung paham feminisme adalah Tsuda Umeko. Tsuda Umeko adalah seorang intelektual. Dia mendirikan sekolah khusus bahasa Inggris bagi perempuan atau Joshi Eigaku Juku. Alasan Tsuda Umeko mendirikan Joshi Eigaku Juku berawal dari keprihatinannya bahwa wanita Jepang tidak dapat menduduki posisi yang penting dalam kehidupan sosial.

Fukuzawa Yukichi dan Tsuda Umeko adalah salah satu contoh dari banyaknya tokoh yang menyebarluaskan paham feminisme di masyarakat Jepang. Tokoh-tokoh tersebut memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan wanita. Melalui penyebaran feminisme mereka memberikan inspirasi hingga perubahan bagi masyarakat untuk memperlakukan wanita sebagaimana mestinya.

Pengaruh dari feminisme sebagai akibat dari Restorasi Meiji menyebabkan kehidupan keluarga dalam masyarakat tradisional Jepang mengalami perubahan. Setelah masuknya budaya barat kedudukan wanita lebih dihargai dengan diberikannya waktu luang dan dikeluarkannya undang-undang Meiji 1889 dan 1898 yang berisi tentang penyesuaian kepatuhan istri kepada suami secara legal.

Dalam bidang sosial feminisme memberikan perubahan berupa perubahan sikap dan pemikiran wamita mengenai ketertindasan yang sedang dialaminya. Sikap tersebut menimbulkan sebuah kesadaran yang mendorong wanita untuk berkedudukan sama dengan laki-laki.

Pendidikan pada masa Restorasi Meiji memiliki pengaruh dengan feminisme dan dampak sosialnya. Melalui kesdaran yang terbentuk aktivis feminis mulai mendirikan sekolah swasta khusus wanita. Salah satunya adalah Tsuda Umeko yang mendirikan Joshi Eigaku Juku. Pemerintah juga membuka sekolah-sekolah bagi wanita.

Model pendidikan di sekolah-sekolah tersebut mempunyai kesamaan dengan memakai model pendidikan ala barat. Model pendidikan ini tidak membedakan jenis kelamin siswanya. Perubahan pada bidang pendidikan terjadi sangat signifikan karena sebelum Restorasi Meiji wanita tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan yang sama dengan laki-laki. Mereka hanya memperoleh pendidikan rumahan.

Pada masa Restorasi Meiji paham feminisme juga merambah pada sektor ekonomi. Sebanyak 250.000 wanita bekerja di sektor industri tekstil dan pabrik sutra. Jumlah tersebut jika dipresentasikan mencapai 63% total buruh yang bekerja pada sektor tersebut. Jumlah tersebut mampu menyokong perkembangan ekonomi Jepang. Kemajuan ekonomi Jepang yang tercapai pada masa Restorasi Meiji tidak terlepas dari peran wanita.