Konten dari Pengguna

Membuka Halaman, Mengubah Takdir: Bagaimana Membaca Menyelamatkan Hidup Kita

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari MUHAMMAD IRSYAD ALFATIH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Pribadi Penulis
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Pribadi Penulis

Pernahkah kamu berada di suatu fase hidup di mana kasur terasa memiliki gaya gravitasi sepuluh kali lipat lebih kuat dari biasanya? Sebuah fase kelabu di mana menatap langit-langit kamar terasa jauh lebih produktif daripada menghadapi kenyataan, dan daftar putar lagu-lagu melankolis di gawai mendadak terdengar seperti lagu kebangsaan pribadi yang meratapi nasib. Kita semua (tanpa terkecuali) pasti pernah singgah di sana: sebuah wilayah yang bernama fase terpuruk.

Saat berada di titik nadir tersebut, dunia seolah menutup pintu. Harapan mendadak menjadi barang langka yang harganya tak terjangkau. Namun, bagi kita yang memelihara kebiasaan membaca, ada sebuah keuntungan spiritual sekaligus "kutukan" emosional yang unik. Sebagai seorang pembaca, kita seperti memiliki alarm gaib yang dipasang oleh semesta. Kita tidak pernah diizinkan untuk mendekam terlalu lama dalam gua keterpurukan tersebut.

Mengapa? Karena tanpa pernah kita sadari, buku, artikel, atau bahkan selembar halaman bab berikutnya yang kita buka secara acak seringkali bertindak seperti tamparan sayang dari kehidupan. Mereka datang tanpa mengetuk pintu, membawa solusi, atau paling tidak menyemprotkan sebotol bensin baru ke dalam tangki semangat kita yang sudah kering kerontang.

Misteri terbesar dari aktivitas membaca bukan terletak pada seberapa cepat kita menghabiskan sebuah buku, melainkan pada bagaimana hidayah literasi itu sering kali datang dari arah yang sama sekali tidak masuk akal. Semesta suka bercanda, dan sering kali, cara-Nya menyelamatkan kita adalah dengan mengirimkan sejoli mentor yang barangkali tidak akan pernah bisa duduk bersama di satu meja kopi.

Bayangkan skenarionya seperti ini: kita sedang didera krisis eksistensial tingkat dewa. kita merasa tidak berguna, gagal memenuhi ekspektasi lingkungan, dan merasa posisi Anda di dunia ini bisa digantikan oleh siapa saja dalam kedipan mata. Dalam upaya terakhir untuk bertahan hidup, kita membuka sebuah bacaan ringan atau artikel motivasi di internet, berharap menemukan kutipan bergizi dari tokoh-tokoh besar dunia.

Kita barangkali sudah berekspektasi akan disambut oleh petuah bijak bin megah dari Aristoteles, untaian puisi sufistik Jalaluddin Rumi, atau minimal wejangan pragmatis dari para motivator nomor satu di televisi. Namun, algoritma semesta tampaknya sedang dalam suasana hati yang jenaka. Kalimat penuh gizi yang menghantam kesadaran kita justru meluncur dari bibir seorang Snoop Dogg.

Rapper Amerika Serikat Snoop Dogg. Foto: Frederic J. BROWN / AFP

Ya, kamu tidak sedang salah baca, dan mata kamu pun tidak sedang buram. Kita sedang membicarakan Snoop Dogg yang itu (sang ikon kultur pop dan musisi hip-hop legendaris). Dalam sebuah rekaman pidato inspiratif di sebuah universitas terkemuka (sumber), di balik kacamata hitamnya yang legendaris sambil mengenakan toga yang megah, Snoop Dogg meninggalkan sebuah kebenaran mutlak yang sering kali absen dari kepala kita saat kita sedang galau setengah mati. Dengan gaya bicaranya yang santai dan berirama, dia mengingatkan:

"Setiap dari kita adalah unik, dan kita tidak bisa digantikan oleh orang lain. Jangan pernah mencoba menjadi orang lain, jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri."

Membaca kalimat itu di tengah suasana hati yang mendung seketika membuat kita seperti tersedak kopi pahit. Ada efek kejut yang luar biasa di sana. Di saat kita sedang mengasihani diri sendiri dan merasa seperti remah-remah rengginang di dasar kaleng biskuit lebaran, seorang rapper yang hidupnya penuh dengan stereotip hura-hura justru mengingatkan kita tentang konsep authenticity, yaitu sebuah keaslian diri yang mahal.

Snoop Dogg, dengan segala ke-eksentrik-annya, berhasil menyentuh esensi dari teori konstruksi sosial: bahwa realitas diri kita ditentukan oleh bagaimana kita memandang keunikan kita sendiri, bukan dari cetakan instan orang lain. Jika seorang Snoop Dogg saja bisa melihat potensi orisinalitas yang sakral dalam diri setiap manusia, rasanya keterlaluan sekali kalau kita yang baru gagal sekali langsung memilih untuk mogok berjuang.

Jika wejangan dari Snoop Dogg dirasa terlalu modern, terlalu santai, atau kurang menancap di dalam sanubari Anda yang sedang terluka, mesin waktu literasi biasanya memiliki cara lain yang lebih bertenaga untuk memicu adrenalin kita. Semesta tinggal membalikkan halaman bab berikutnya, lalu melemparkan kita ke masa lalu untuk menengok sebuah kisah sejarah yang sayup-sayup terdengar, namun memiliki daya pukul yang sanggup membuat pipi kita memerah karena malu. Itulah kisah Nyi Ageng Serang.

Kolase patung Nyi Ageng Serang. Foto: adn.

Mari kita lakukan refleksi kecil-kecilan. Sering kali, alasan kita untuk mogok kerja atau mengeluh sepanjang hari sangatlah sepele. "Aduh, hari ini mendung, mager ke kantor," atau "Duh, revisi dari atasan banyak banget, rasanya mau resign saja," atau yang paling sering, "Dia tidak membalas pesanku, duniaku runtuh sudah."

Sekarang, mari kita letakkan keluhan-keluhan manja tersebut di samping catatan harian perjuangan Nyi Ageng Serang (sumber). Beliau adalah seorang perempuan bangsawan yang hidup di era Perang Diponegoro. Ketika kita membaca sejarahnya lebih dalam, kita akan mendapati bahwa hidup beliau adalah rentetan dari kehilangan yang bertubi-tubi ditelan pusaran perang melawan penjajah kolonialis.

Secara logika manusia modern, Nyi Ageng Serang memiliki sejuta alasan yang sangat valid untuk menyerah. Beliau punya hak penuh untuk mengajukan pensiun dini dari kehidupan, duduk manis di kursi goyang sambil meminum teh hangat, lalu meratapi nasib buruknya hingga akhir hayat. Tidak akan ada orang yang menyalahkannya jika beliau memilih jalan itu.

Namun, sejarah mencatat hal yang sebaliknya. Dalam kondisi fisik yang sudah renta, digerogoti usia, dan didera rasa sakit yang luar biasa, api di dalam dadanya tidak padam sedikit pun. Ketika tubuhnya tidak lagi mampu menopang berat badannya untuk berdiri di garis depan, beliau menolak untuk diam. Beliau meminta para prajuritnya untuk menaikkan dirinya ke atas tandu. Dari atas tandu itulah, dengan tubuh yang rapuh namun tatapan mata yang setajam elang, beliau memimpin taktik perang gerilya dan membakar semangat para prajuritnya.

Membaca kisah beliau adalah sebuah pengalaman katarsis yang luar biasa. Buku sejarah tidak lagi menjadi sekadar tumpukan kertas usang berisi angka tahun, melainkan menjelma menjadi cermin besar yang merefleksikan mentalitas kita. Kita yang hari ini hidup di era merdeka, makan tiga kali sehari, tidur di kasur empuk, dan memiliki akses internet super cepat, mendadak merasa sangat kerdil. Menangisi masalah-masalah kecil di hadapan tandu Nyi Ageng Serang rasanya seperti sebuah penghinaan terhadap daya juang manusia. Kisah beliau memaksa kita untuk tegak berdiri, mengusap air mata, dan merasa malu untuk menjadi manusia yang cepat menyerah.

Dunia membaca pada akhirnya adalah sebuah kotak cokelat misterius, meminjam istilah dari film Forrest Gump. Kita tidak pernah tahu rasa apa yang akan kita dapatkan ketika membuka halaman selanjutnya. Membaca memberikan kita kesempatan untuk melompati ruang dan waktu, meminjam otak-otak paling cerdas dan jiwa-jiwa paling berani yang pernah berjalan di atas muka bumi ini, lalu memasukkannya ke dalam kepala kita sebagai amunisi untuk menghadapi hari esok.

Bisa jadi hari ini kita diselamatkan dari jurang keterperukan oleh petuah bijak dari seorang rapper yang eksentrik, dan keesokan harinya dibakar semangatnya oleh heroisme seorang nenek pejuang dari tanah Jawa. Tidak ada batasan, tidak ada sekat. Semua informasi dan inspirasi itu saling terhubung, mengantre dengan sabar di dalam lembaran-lembaran buku, menunggu saat yang tepat untuk menyergap kita yang sedang kesepian dalam keterpurukan.

Membaca bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang atau menumpuk pengetahuan di menara gading akademik. Membaca adalah sebuah tindakan heroik untuk menyelamatkan diri sendiri. Ia adalah jembatan yang menghubungkan rasa sakit kita hari ini dengan solusi yang telah ditemukan oleh orang lain ratusan tahun yang lalu, atau ribuan kilometer jauhnya di seberang samudra.

Oleh karena itu, untuk kamu yang hari ini kebetulan sedang didera kelelahan mental, sedang merasa dunia tidak adil, atau sedang bersiap-siap untuk mengibarkan bendera putih tanda menyerah pada keadaan, beristirahatlah sejenak. Berjalanlah ke rak buku, atau bukalah aplikasi bacaan digital Anda. Cari sebuah buku atau pilih satu artikel, lalu bacalah dengan penuh rasa ingin tahu.

Izinkan kata-kata di dalamnya menyusup ke sela-sela pikiranmu yang sedang kusut. Izinkan tokoh-tokoh di dalamnya mengambil alih kemudi emosimu. Siapa tahu, solusi dari masalah rumit yang sedang kamu hadapi hari ini tidak tersimpan di dalam ruang rapat yang tegang atau jurnal ilmiah yang berat, melainkan sedang bersembunyi di balik senyuman santai Snoop Dogg atau di balik lambaian tangan Nyi Ageng Serang dari atas tandunya.

Halaman berikutnya sudah menunggu kita. Masuklah, baca, dan bersiaplah untuk bangkit kembali dengan senyuman baru di wajah. Selamat membaca, dan selamat menemukan kembali diri yang hilang!