Mari Menertawakan Diri Sendiri

An Employee at PLN, Social media activist, Passionate Green Energy & Green Economy
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhammad Areev tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dani Aditya adalah seorang komika yang dalam materi stand up komedinya sering membawakan humor tentang fisiknya yang cacat. Ada perasaan yang campur aduk yang saya rasakan ketika menyimak materi stand up Dani tentang humor fisiknya. Apakah lucu? Sangat, karena Dani memang sedang ingin membuat para penonton tertawa.
Selain itu, ada perasaan yang sulit dijelaskan antara sedih melihat kondisi Dani saat menceritakan perjalanan hidupnya yang cacat, kagum dengan bagaimana Dani tabah dalam menjalani hidup, sekaligus seperti sebuah nasihat yang dilemparkan oleh Dani untuk para penontonnya semua.
Kalian dengan bentuk fisik yang sempurna masih saja mengeluh. Lihat bagaimana kondisi fisik aku dan aku bisa menertawakan diri sendiri dengan segala kekuranganku," begitu seakan Dani mengatakan.
Makanya ketika menonton stand up Dani, saya merasakan campuran perasaan yang sulit dijelaskan antara tertawa tapi mata berkaca-kaca terharu.
Bagi saya, apa yang dilakukan oleh Dani itu adalah puncak dari komedi. Puncak dari komedi itu ketika seseorang bisa menertawakan diri sendiri, berdamai dengan segala kekurangannya, itulah puncak dari suatu komedi.
Dengan menertawakan diri sendiri tentu ciri dari seorang yang ikhlas dengan segala ketentuan Tuhan, tidak berontak dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang menyalahkan Tuhan, tidak ada lagi yang namanya insecure, karena sudah menerima diri sendiri secara utuh. Tertawa itu identik dengan ridha dengan ketentuan Tuhan.
Makanya ada hadis nabi yang dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya' Ulumuddin ketika nabi berkata:
Diantara Umatku yang pilihan itu kalo tertawa dengan besar karena begitu yakin akan luasnya Rahmat Allah.
Karena dengan tertawa seseorang akan lupa caranya mengeluh dan berburuk sangka dan itu bentuk dari penerimaan seorang hamba akan pemberian Tuhan dan akan luasnya Rahmat Allah di muka bumi ini lalu bagaimana seseorang dapat mengeluh dengan keadaan dirinya yang sangat nyaman dengan Tuhannya.
Gus Baha yang dalam kajiannya selalu dengan pembawaan ceria, humor alasannya beliau ingin siapapun rileks dengan agama, tidak sumpek dengan agama. Beliau pernah menjelaskan bagaimana ketika dalam keseharian merasa bosan, sumpek, namun ketika teringat akan keadaan seperti demikian dengan segera langsung istigfar.
Karena sumpek, bosan, itu awal dari tidak merasa nyaman dengan ketentuan Tuhan. Hingga nantinya mengkhayal membayangkan Tuhan tidak adil, berekspektasi macam-macam yang semua itu dapat menjebak seseorang kepada tidak merasa nyaman dengan ketentuan Tuhan. Dan itu sangat beliau takuti dan hindari.
Dengan menertawakan diri sendiri seseorang merasa nyaman dengan Tuhan. Mungkin jika ada tambahan skill yang perlu diajarkan kepada para pemuda, maka skill menertawakan diri sendirilah yang akan saya rekomendasikan.
Kenapa? Karena sangat banyak pemuda yang kita jumpai merasa tidak percaya diri, rendah diri, merasa Tuhan tidak adil terutama mereka yang yang memasuki masa quarter life crisis, masa-masa yang memang rentan sekali merasa insecure, tidak berdaya.
Masa-masa mencari status sosial yang tinggi, mencari pasangan dan lain sebagainya, namun lupa bagaimana bersyukur, lupa bagaimana menikmati yang ada, lupa bagaimana menertawakan diri sendiri. Padahal ada banyak komedi yang dapat ditertawakan tentang diri sendiri.
Tuhan aku tau mengapa Engkau tidak menginginkan aku kaya. Karena jika aku kaya nantinya aku akan sombong. Miskin saja aku sudah setengah sombong sekarang hahaha...
Tuhan aku tau mengapa aku masih jomblo, karena mungkin jodohku masih belum lahir hahaha...
Dan banyak hal lainnya yang bisa ditertawakan untuk diri sendiri. Carilah 1001 alasan untuk menertawakan diri sendiri, dengan begitu akan terhindar dari yang namanya mengeluh, ketika tidak mengeluh akan ikhlas saja terhadap semua pemberian Tuhan.
Ikhlas terhadap pemberian Tuhan berarti nyaman dengan Tuhan, berprasangka baik dengan Tuhan. Bukankah sebelum meninggal harus dipastikan betul kita membawa Qalbun salim (hati yang selamat). Dan Qalbun salim cirinya berprasangka baik dengan Tuhan dan itu dapat dimulai dengan menertawakan diri sendiri.
Mengeluh awal dari tidak nyaman Tuhan, tidak nyaman dengan Tuhan maka memasuki jurang kufur nikmat. Apalagi tujuan hidup selain ingin merasa nyaman dengan Tuhan, berbaik sangka terhadap Tuhan dan ridha dengan segala ketentuan-Nya dan itu semua dapat dimulai dengan menertawakan diri sendiri.
