Konten dari Pengguna
Satu Peristiwa, Banyak Perubahan: Butterfly Effect dalam Hidupku
8 Juni 2025 15:21 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Satu Peristiwa, Banyak Perubahan: Butterfly Effect dalam Hidupku
Pandemi COVID-19 memicu perubahan hidup saya. Dari krisis fisik dan mental, saya bangkit lewat pola hidup sehat dan olahraga, membuktikan bahwa perubahan kecil bisa berdampak besar.Muhammad Arifin
Tulisan dari Muhammad Arifin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Teori Butterfly Effect menyatakan bahwa perubahan kecil bisa berdampak besar di masa depan. Kisah ini berawal dari masa pandemi, ketika kebiasaan sederhana yang terbentuk saat lockdown akhirnya membawa dampak besar bagi fisik dan mental saya. Namun, dari titik terendah itu, saya memulai langkah kecil yang perlahan mengubah arah hidup saya secara menyeluruh; sebuah bukti nyata bahwa perubahan besar bisa berawal dari keputusan kecil. Kalau begitu, saya ceritakan dari awal bagaimana satu hal kecil bisa berdampak besar dalam hidup saya.
ADVERTISEMENT
Lockdown Titik Awal Semua Perubahan
Tahun 2020, saat kasus COVID-19 pertama kali muncul di Indonesia, hidup saya benar-benar berubah. Waktu itu saya masih duduk di bangku SMP, tepatnya kelas 8. Pada pertengahan Maret, saya melihat berita di televisi tentang kasus pertama COVID-19 di Indonesia. Tidak lama setelah itu, pihak sekolah mengumumkan bahwa kegiatan belajar akan dihentikan selama satu minggu. Namun, pada akhirnya, pembelajaran berubah menjadi daging dari semester 2 kelas 8 hingga saya masuk SMK kelas 10.
Selama masa lockdown, banyak perubahan yang saya alami, baik secara fisik maupun mental. Karena adanya aturan dari pemerintah, hampir semua kegiatan saya dilakukan di rumah. Ruang gerak saya menjadi sangat terbatas, dan saya hanya bisa fokus pada pembelajaran daging. Saya tidak terlalu memikirkan kesehatan tubuh, perubahan fisik, maupun kondisi mental saya. Pola hidup saya jadi berantakan; pola makan tidak teratur dan berlebihan, jam tidur berantakan serta kegiatan sehari-hari jadi kacau.
ADVERTISEMENT
Dampak Tak Terduga: Perubahan fisik dan Mental
Kebiasaan buruk ini terus berulang sampai akhirnya saya mengalami kenaikan berat badan yang cukup drastis. Selain itu, karena sering mengkonsumsi makanan instan dan sering begadang, kulit wajah saya juga mengalami jerawat parah.
Pada tahun 2022, ketika pemerintah mulai melontarkan aturan terkait COVID-19, akhirnya saya bisa kembali bersekolah, meskipun hanya seminggu sekali dengan jam belajar yang lebih singkat. Saat memasuki jenjang sekolah yang lebih tinggi, saya merasa kurang percaya diri dengan kondisi fisik saya, meskipun saya sadar bahwa itu adalah konsekuensi dari kebiasaan buruk yang saya jalani selama masa pandemi.
selain itu, saya juga sering mendengar komentar kurang menyenangkan dari orang-orang di sekitar. Misalnya, ada yang bilang, "Sekarang badan lo gendut an ya selama covid...." atau "Udah lama nggak ketemu, tapi kok lo sekarang jerawat banget?" Ada juga yang menyendiri cara halus, seperti, "Sumpah, lo beda banget sekarang...."
ADVERTISEMENT
Komentar seperti itu sering saya dengar dari orang-orang yang udah lama tidak bertemu dengan saya sejak lockdown. Saat mendengarnya, saya hanya bisa diam dan menerima, karena saya sadar ini adalah akibat dari pola hidup saya sendiri. Setelah lebih dari enam bulan merenung, saya merasa harus melakukan perubahan dan menjadi lebih baik. Tapi, saya bingung harus mulai dari mana.
Setelah kegiatan sekolah kembali normal selama seminggu penuh, pihak sekolah membuat kebijakan baru dengan mengurangi jam belajar menjadi pukul 07.00-11.30 WIB. Hal ini membuat saya berpikir berlebihan atau overthingking karena saya akan bertemu lebih banyak orang di lingkungan sekolah. Dalam pikiran saya, hanya ada satu kekhawatiran; apakah teman-teman nanti akan membahas soal fisik saya? Saya merasa semua orang akan memberikan komentar stereotip negatif saat pertama kali bertemu lagi di sekolah.
ADVERTISEMENT
Keraguan dan Harapan: Menghadapi Krisis Diri
Tapi ternyata, kekhawatiran saya tidak terbukti. Dari sekian banyak orang, saya bersyukur karena Tuhan telah mempertemukan saya dengan teman-teman yang baik selama di sekolah. Mereka selalu mendukung, memberi nasihat, dan menjadi tempat berbagi cerita. Dari situ, saya akhirnya menyadari bahwa saya harus tetap teguh pada pendirian saya; bahwa saya bisa mengubah pola hidup menjadi lebih baik.
Hasil yang Membuka Mata: Dari Medical Check-Up ke Langkah Nyata
Setelah memutuskan untuk berubah, saya akhirnya melakukan Medical check-up (MCU) dan hasilnya menunjukkan bahwa saya mengalami kelebihan berat badan, hampir masuk ke kategori obesitas tingkat 1. Dokter menjelaskan bahwa berat badan saya tidak seimbang dengan tinggi badan, dan jika saya tidak mulai menjalani pola hidup sehat, berat badan saya bisa terus bertambah hingga berisiko mengalami obesitas yang lebih parah. Bahkan, kondisi ini bisa memicu berbagai masalah kesehatan serius di masa depan. Dokter menyarankan agar saya memulai dari hal-hal kecil, seperti mengubah pola pikir dan tetap konsisten jika kamu mau perubahan yang nyata.
ADVERTISEMENT
Konsistensi yang Membawa Perubahan
Saya pun mulai menjalani diet dengan metode Intermittent Fasting (IF) 16:8, di mana saya berpuasa makan selama 16 jam dan hanya makan salam jendela waktu 8 jam. Pada dua bulan pertama, saya hanya fokus pada diet tanpa olahraga. Namun, suatu hari saya melihat sebuah postingan di instagram tentang olahraga, yang akhirnya membuat saya tertarik untuk mencobanya. Saya pun mulai menambahkan aktivitas fisik ke dalam rutinitas saya, seperti lari, skipping, dan dumbbel. Saya memikirkan olahraga ini agar lemak di tubuh bisa berkurang dan berganti menjadi massa otot.
Konsistensi saya akhirnya membuahkan hasil. Perubahan yang saya alami, baik dari segi pola pikir maupun fisik, benar-benar seperti yang saya impian dulu. Setelah hampir satu tahun menjalani pola hidup sehat secara konsisten, banyak pencapaian yang saya raih. Pengetahuan dan mental saya juga semakin berkembang karena olahraga membantu meningkatkan produksi hormon endorfin. Selain itu, saya menemukan hobi baru; lari. Saya tidak pernah menyangka bahwa olahraga ini akan menjadi bagian penting dalam perjalanan saya untuk tetap konsisten dan menjalani hidup lebih sehat.
ADVERTISEMENT
Dari perjalanan yang saya lalui, ada banyak hal yang awalnya tidak ketahui, tetapi sekarang saya mengerti.
ADVERTISEMENT
Refleksi: Pelajaran dari Butterfly Effect
Saya mengaitkan Salah satu perjalanan hidup ini dengan Butterfly Effect di kehidupan saya, yaitu konsep bahwa perubahan kecil di awal dapat menghasilkan dampak besar di masa depan. Jika lockdown tidak ada dan perkataan negatif kepada orang-orang mengenai saya tidak terjadi, mungkin saya tidak akan sampai pada titik menyadari pentingnya pola hidup sehat dan olahraga. Namun, keputusan sederhana ini menjadi bukti perubahan nantinya. Dalam jangka panjang, perubahan ini tidak hanya mencapai impian yang saya pikirkan dulu, tetapi saya Membuka peluang baru, seperti menemukan hobi baru yang sebelumnya tidak disadari, misalnya running. Ini merupakan contoh nyata dalam hidup saya, bagaimana satu kejadian kecil dapat memicu rangkaian perubahan dalam hidup, sesuai dengan judul yang saya berikan.
ADVERTISEMENT

