Konten dari Pengguna

Energi Dunia di Persimpangan Perang dan Kekuasaan

Muhammad Azzam Fawwaz

Muhammad Azzam Fawwaz

Writer and researcher, Director of Communication and Information koeksistensi indonesia, Geopolitical and environmental studies.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Azzam Fawwaz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Industri Energi Sumber: https://www.gettyimages.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Industri Energi Sumber: https://www.gettyimages.com

Krisis energi global kembali menjadi sorotan. Sejak perang Rusia–Ukraina meletus pada tahun 2022, diikuti meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, harga minyak dan gas dunia terus bergejolak. Energi kini bukan hanya urusan ekonomi, tetapi juga alat politik dan diplomasi antarnegara.

Rusia, sebagai salah satu pemasok gas terbesar di dunia, memainkan peran penting dalam ketidakstabilan ini. Sebelum perang, 40 persen pasokan gas Eropa berasal dari Rusia . Ketika jalur pipa gas melalui Ukraina ditutup, Eropa harus mencari sumber baru. Uni Eropa Negara-negara beralih ke LNG dari Amerika Serikat, Qatar, dan Norwegia. Namun, upaya diversifikasi ini menimbulkan konsekuensi lain: biaya energi melonjak dan ketergantungan baru terbentuk.

Timur Tengah dan Ancaman Selat Hormuz

Sementara Eropa berusaha menyesuaikan pasokan, Timur Tengah kembali menjadi titik panas geopolitik. Konflik antara Iran dan Israel, serta serangan terhadap fasilitas minyak di kawasan Teluk, membuat harga minyak dunia berfluktuasi tajam. Selat Hormuz jalur yang melintasi sekitar 30 persen perdagangan minyak global kembali menjadi pusat perhatian.

Setiap ancaman terhadap jalur vital memicu ketakutan pasar. Pada pertengahan tahun 2025, harga minyak Brent sempat mendekati angka 100 dolar per barel. Pengimpor negara-negara, termasuk Indonesia, merasakan dampaknya secara langsung. Harga bahan bakar dan listrik naik, sementara beban subsidi energi meningkat. Ketika harga energi naik, harga pangan dan transportasi ikut terdorong. Akibatnya, inflasi menjadi tidak terhindarkan.

Dampak Ekonomi: Dari Rumah Tangga hingga Negara

Krisis energi global tidak hanya berdampak pada industri besar, tetapi juga kehidupan sehari-hari masyarakat. Bank Dunia mencatat inflasi energi global mencapai 6,8 persen pada tahun 2024 , sebagian besar dirasakan di negara berkembang. Di Indonesia, kenaikan harga BBM dan LPG membuat daya beli masyarakat melemah. Pemerintah menghadapi dilema: menjaga harga agar tetap stabil, atau mengurangi subsidi demi menyeimbangkan anggaran negara.

Krisis ini menampilkan bahwa energi bukan hanya soal pasokan, tetapi juga soal keadilan sosial. Ketika harga bahan bakar naik, kelompok miskin menjadi pihak paling terdampak. Biaya transportasi, pangan, dan listrik menekan pengeluaran rumah tangga. Sementara itu, sektor industri menanggung beban produksi yang lebih tinggi, sehingga menurunkan daya saing di pasar global.

Energi Sebagai Kendaraan Kekuasaan

Dalam pandangan ekonom energi Daniel Yergin, energi selalu memiliki dimensi kekuasaan. Negara yang menguasai sumber daya dan jalur distribusi memiliki posisi tawar yang besar. Rusia menggunakan gas sebagai senjata diplomasi terhadap Eropa, sementara negara-negara Teluk memanfaatkan cadangan minyak mereka untuk menjaga pengaruh politik di panggung dunia.

Namun, situasi ini juga membuka kesadaran baru. Ketergantungan terhadap bahan bakar fosil membuat banyak negara rentan. Gangguan di satu kawasan bisa berdampak global. Oleh karena itu, banyak negara mulai mempercepat transisi menuju energi terbarukan. Eropa, misalnya, memperluas pembangunan pembangkit listrik tenaga angin dan surya. Di Asia, Jepang dan Indonesia mulai serius mengembangkan panas bumi dan biodiesel.

Peluang di Tengah Krisis Energi

Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), Fatih Birol, menyebut krisis ini sebagai “titik balik sistem energi dunia.” Pandangan itu tidak berlebihan. Ketika harga minyak dan gas melonjak, negara-negara terdorong mencari alternatif yang lebih stabil dan ramah lingkungan.

Transisi energi menjadi kebutuhan, bukan pilihan. Namun, perubahan ini tidak mudah. Investasi besar, teknologi baru, dan kebijakan jangka panjang diperlukan agar peralihan menuju energi bersih berjalan adil dan terencana. Indonesia, dengan potensi besar di musim panas bumi dan energi surya, memiliki peluang strategi untuk memperkuat kemandirian energi di masa depan.

Menatap Masa Depan Energi

Krisis energi global menunjukkan bahwa dunia masih bergantung pada bahan bakar fosil dan pasokan jalur yang rentan konflik. Perang di Eropa Timur dan ketegangan di Timur Tengah membuktikan bahwa energi dapat menjadi senjata politik yang berbahaya.

Namun di balik ancaman itu, ada peluang untuk berubah. Dunia sedang bergerak menuju sistem energi yang lebih beragam dan berkelanjutan. Krisis ini seharusnya menjadi momentum bagi setiap negara, termasuk Indonesia, untuk memperkuat kemandirian energi, mempercepat inovasi, dan memastikan transisi energi berjalan tanpa meninggalkan kelompok rentan. Energi seharusnya bukan sumber ketakutan, melainkan jembatan masa depan yang lebih adil, menuju bersih, dan aman.