Sentuhan Menenangkan: Mengenal Havening Touch Sebagai Penguatan Mental dan Emosi
Tulisan dari MUHAMMAD BAGAS RIYANTO tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Penguatan mental dan emosional melalui havening touch bagi murid tunagrahita di SLB N Salatiga
Pendampingan pembelajaran bagi murid tunagrahita bukan hanya sekadar pengawasan di dalam kelas saja. Namun, pemberian perhatian serta penguatan mental dan emosional perlu dilakukan untuk menumbuhkan kepercayaan diri, pembelajaran yang konkret, dan pemahaman yang optimal. Bagi murid tunagrahita, keberhasilan belajar sangat dipengaruhi oleh kondisi mental dan emosional yang stabil. Rasa tidak nyaman, cemas, takut, sulit mengendalikan emosi, sulit berkonsentrasi, hingga takut berinteraksi dengan teman menjadi masalah dalam proses pembelajaran bagi murid tunagrahita.

Kamis, 18 Juni 2026, Tim Pengabdian Masyarakat ASMARA melakukan sosialisasi dan penguatan mental melalui havening touch sebagai sarana pendampingan pembelajaran bagi murid tunagrahita di SLB N Salatiga. Murid tunagrahita diajak untuk mempraktikkan havening touch disertai afirmasi positif berupa “aku bisa, aku kuat, aku hebat”. Afirmasi ini menjadi langkah awal untuk membangun rasa percaya diri dan keberanian mereka dalam belajar. Sosialisasi program dilaksanakan dengan penjelasan mengenai keberlanjutan program serta agenda yang akan dilaksanakan selama program pengabdian berlangsung.
Lalu, apa sih Havening Touch itu?
Jadi, havening touch adalah teknik terapi psikosensori yang memanfaatkan sentuhan berirama untuk menenangkan sistem saraf dan mengubah cara otak memproses trauma serta kecemasan. Teknik ini telah dibuktikan diberbagai penelitian mampu memicu gelombang delta yang ada di otak serta merangsang pelepasan hormon Bahagia seperti oksitosin dan serotosin. Salah satu penelitian yang dipublikasikan dalam Psychology & Neuroscience oleh Sumich et al. (2022) di University of Bristol menunjukkan bahwa sentuhan yang dilakukan dengan teknik havening touch tidak sekadar memberikan rasa nyaman. Dalam sebuah studi, peserta yang menerima havening touch mengalami penurunan rasa tertekan (distress) yang lebih cepat dibandingkan dengan mereka yang menjalani sesi tanpa sentuhan. Selain itu, peneliti juga mengamati perubahan aktivitas otak dan peningkatan kesejahteraan psikologis setelah terapi. Dalam praktiknya, havening touch terdiri dari empat gerakan utama yang menenangkan, antara lain: palm havening (menggosokkan kedua telapak tangan dengan lembut), havening hug (menyilangkan lengan di dada dengan ujung jari di bahu, lalu mengusap ke bawah hingga siku, layaknya sebuah pelukan hangat), brow havening (mengusap ujung jari dengan lembut di sepanjang dahi atau alis), dan face havening (mengusap ujung jari di bawah mata ke arah pipi seolah menghapus air mata).
Manfaat utama dari Teknik ini adalah:
- Meredakan kecemasan, stress, dan trauma
- Menurunkan tekanan darah dan meningkatkan variabilitas detak jantung
- Mengalihkan perhatian dari pikiran berlebih (overthinking) ke sensasi fisik yang aman.
Lalu, bagaimana penerapannya bagi murid tunagrahita?
Pengabdian maysrakat tim ASMARA tertuju pada murid tunagrahita di jenjang SMA di SLB N Salatiga. Program ini menyasar 12 murid tunagrahita dengan kriteria: (1) tunagrahita ringan kelas 10 dan 11 di jenjang SMA, (2) lambat dalam menguasai kemampuan dasar, (3) sulit memecahkan persoalan sederhana. Program ini merupakan pendampingan pembelajaran matematika bagi murid tunagrahita yang bertujuan untuk penguatan mental dan emosional melalui havening touch, kontekstualisasi budaya sehari-hari bagi murid tunagrahita melalui integrasi Gedung Papak sebagai bangunan bersejarah di Kota Salatiga yang dikaitkan dengan materi geometri dasar bagi murid tunagrahita serta penguatan pemahaman praktik matematika. Penguatan mental dan emosional menjadi salah satu tahapan paling awal yang dilakukan untuk mengetahui karakteristik dan kondisi psikologis murid tunagrahita dalam proses pembelajaran. Berdasarkan keterangan guru pendamping kelas, murid tunagrahita memiliki beberapa kriteria, antara lain ringan, sedang, dan berat. Setiap kriteria mendapat pola penguatan yang disesuaikan dengan karakteristik murid tunagrahita. Dalam pengabdian ini, teknik havening touch digunakan dengan dasar teknik yang mudah diterapkan bagi seluruh murid tunagrahita tanpa menggunakan alat bantu, namun dapat digunakan setiap saat oleh murid tunagrahita. Pendekatan ini bukan hanya sekadar memberikan sentuhan, tetapi juga membangun rasa percaya diri dan rasa aman. Murid tunagrahita merasa lebih diterima, dihargai, dan didampingi. Mereka cenderung lebih siap mengikuti pembelajaran. Bagi murid tunagrahita sering mengalami kesulitas dalam mengelola emosional, suasana belajar yang zaman merupakan fondasi utama untuk meningkatkan kepercayaan diri bagi murid tunagrahita.
Dalam pelaksanaannya, aspek etika menjadi prioritas utama. Sentuhan harus dilakukan secara tepat, aman, sesuai dengan prosedur sekolah, serta di bawah pengawasan guru pendamping kelas. Penguatan mental dan emosional sesungguhnya merupakan investasi jangka panjang. Ketika murid mampu mengenali dan mengelola emosinya, mereka tidak hanya menjadi lebih siap belajar, tetapi juga lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Apa yang dirasakan murid tunagrahita?
Setelah sosialisasi dan penguatan mental, salah satu murid tunagrahita menyatakan senang dan merasa tenang setelah melakukan havening touch. Selain itu, dia juga mempraktikkannya di depan kelas dan diikuti oleh teman sebayanya untuk menenangkan kondisi mental serta menciptakan suasana belajar yang nyaman bagi murid tunagrahita. Praktik yang dilakukan didampingi oleh tim pengabdian ASMARA. Tim pengabdian memastikan kondisi lingkungan belajar kondusif sehingga murid tunagrahita mampu mempraktikkan bersama-sama dengan teman sebayanya untuk menciptakan suasana yang aman, nyaman, tenang, dan membuat mereka bahagia.
Bukan Pengganti Terapi
Penting untuk dipahami bahwa havening touch bukanlah pengganti layanan psikolog, psikiater, maupun terapi perilaku yang telah terbukti efektif. Teknik ini juga tidak dimaksudkan untuk menyembuhkan gangguan mental ataupun menghilangkan trauma secara instan.
Sebaliknya, havening dapat dipandang sebagai salah satu strategi pendukung yang berpotensi membantu menciptakan kondisi emosional yang lebih tenang sebelum proses pembelajaran dimulai. Efektivitasnya pada anak berkebutuhan khusus, termasuk murid tunagrahita, masih memerlukan penelitian yang lebih komprehensif.
Pendidikan terbaik bukan hanya mengisi kepala anak dengan pengetahuan, tetapi juga menguatkan hati mereka untuk menghadapi kehidupan. Di tengah semakin besarnya perhatian terhadap kesehatan mental, sekolah memiliki peluang untuk menjadi ruang pertama yang mengajarkan anak-anak cara mengenali emosi, mengelola kecemasan, dan menemukan rasa aman dalam diri. Bagi murid tunagrahita di SLB Negeri Salatiga, ketenangan adalah awal dari pembelajaran. Ketika hati merasa aman, keberanian untuk mencoba tumbuh. Ketika emosi lebih stabil, kesempatan untuk belajar menjadi lebih besar. Program ASMARA sejalan dengan tema PKM 2026 ke-6 yaitu Penguatan Pendidikan, Sains, dan Teknologi serta ke-7 yaitu Penguatan Kesetaraan Gender dan Perlindungan Hak-Hak Perempuan, Anak, dan Penyandang Disabilitas. Selain itu, program ini selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 yaitu Pendidikan Berkualitas yang menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif dan berkeadilan. Program ini juga memiliki relevansi yang kuat dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya Asta Cita ke-4 yang menitikberatkan pada penguatan pembangunan sumber daya manusia (SDM) melalui pengembangan sains, teknologi, dan pendidikan yang berorientasi pada kemajuan.

