Konten dari Pengguna

Pelanggaran Prinsip Kesopanan Dalam Naskah Drama Petang di Taman

Muhamad Daniel Akbar

Muhamad Daniel Akbar

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Daniel Akbar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi pertunjukan drama sumber : pixabay
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi pertunjukan drama sumber : pixabay

Penulis tertarik untuk menganalisis pelanggaran prinsip kesopanan yang ada pada Naskah Drama Petang di Taman karya Iwan Simatupang. Seperti yang kita ketahui, ada dua konsep prinsip percakapan dalam kajian pragmatik yang harus diketahui oleh peserta tutur, yaitu: (1) prinsip kerjasama dan (2) prinsip kesopanan.

Penelitian naskah drama ini akan menggunakan teori prinsip kesopanan yang diajukan oleh Leech yang telah menjabarkan prinsip kesopanan ke dalam 6 maksim, yaitu: 1) maksim kebijaksanaan (tact), 2) penerimaan (generosity), 3) kemurahan (approbation), 4) kerendahan hati (modesty), 5) kesetujuan (agreement), dan 6) kesimpatian (sympathy).

Pertama Maksim kebijaksanaan merupakan maksim yang menuntut setiap penutur untuk meminimalkan kerugian orang lain, dan memaksimalkan keuntungan bagi orang lain.

Kedua Maksim Penerimaan (generosity) merupakan maksim yang menuntut bahwa setiap pembicara harus meningkatkan kerugiannya dan mengurangi keuntungannya.

Ketiga Maksim Kemurahan (Approbation) merupakan maksim yang menuntut setiap penutur untuk menjunjung rasa hormat kepada orang lain dan mengurangi rasa tidak hormat kepada orang lain. Dengan kata lain, kita harus saling menghormati satu sama lain.

Keempat yaitu Maksim Kerendahan Hati (Modesty) merupakan maksim yang menuntut setiap pembicara harus dapat memaksimalkan harga diri dan membatasi harga diri sesuai dengan prinsip kerendahan hati. Menurut Leech, aturan kerendahan hati adalah memuji diri sendiri sesedikit mungkin sambil mengkritik diri sendiri sebanyak mungkin.

Kelima yaitu Maksim Kesetujuan (agreement) merupakan maksim yang mengharuskan setiap penutur dan mitra tutur untuk meningkatkan kecocokan atau kesetujuan, dan mengurangi ketidakcocokan. Dalam maksim kesetujuan dapat disimpulkan semakin banyak kecocokan antara peserta tutur maka semakin sopan tuturan tersebut.

Keenam yaitu Maksim Kesimpatian (Sympathy) merupakan maksim yang mengharuskan penutur untuk menunjukan rasa simpati, dan meninggalkan rasa antipati kepada mitra tuturnya. Apabila mitra tutur sedang mendapatkan musibah maka penutur harus membantu.

Dalam naskah drama Petang di Taman karya Iwan Simatupang peneliti berfokus pada tuturan tokoh dalam naskah drama Petang di Taman yang melanggar prinsip kesopanan berdasarkan 6 maksim yang dikemukakan oleh Leech (1993).

Pelanggaran prinsip kesopanan yang terdapat pada naskah drama Petang di Taman hanya ada satu yaitu Pelanggaran Maksim Kemurahan.

Seorang penutur dianggap patuh pada maksim kemurahan ketika dalam berkomunikasi mereka meningkatkan rasa hormat kepada orang lain dan mengurangi rasa tidak hormat kepada orang lain. Leech (1993) mengatakan bahwa skala maksim kemurahan adalah pujian dan celaan. Maka ketika seorang penutur melakukan sebaliknya, yaitu meningkatkan rasa tidak hormat kepada orang lain dalam tuturannya maka tuturan tersebut dikategorikan sebagai tuturan yang tidak sopan. Contoh pelanggaran maksim kemurahan terdapat pada dialog di bawah ini:

Orang Tua : (Kepada pecinta balon) Silahkan duduk.

Pecinta Balon : (bimbang, masih saja berdiri)

Orang Tua : Ayo. Silahkan duduk (Menepi ke bangku)

Lelaki Separuh Baya : Tentu saja bapak telah membuat dia menjadi ragu-ragu.

Orang Tua : Kenapa?

Lelaki Separuh Baya : Pakai dipersilahkan segala. Ini kan taman. (Tiba-tiba marah) Dia duduk kalau dia mau duduk. Dan dia tidak duduk, kalau dia memang tak mau duduk. Habis perkara. Bah! (Melihat geram kepada pecinta balon)

Tuturan di atas menggambarkan pelanggaran maksim kemurahan karena tokoh lelaki separuh baya tidak menghormati keputusan tokoh orang tua yang mempersilahkan tokoh pecinta balon untuk duduk. Tokoh Lelaki separuh baya menunjukan sikap tidak peduli pada orang-orang di sekitarnya.

Lelaki Separuh baya : Kenapa bapak pecahkan? (Sangat marah)

Orang Tua : Karena saya memang mau memecahkannya. Jelas? (Tertawa)

Lelaki Separuh Baya : Jahanam. Orang tua keparat. (Menerkam orang tua)

Pada tuturan di atas tentunya melanggar maksim kemurahan sebab tuturan di atas sangat tidak mencerminkan sikap hormat terhadap orang tua, di mana tokoh lelaki separuh baya menghina orang tua dengan sebutan jahanam dan keparat. Hal tersebut bukan suatu bentuk kesopanan.

Tokoh lelaki separuh baya mengatakan hal tersebut dalam keadaan emosi karena orang tua memecahkan balon yang telah diberikan kepadanya. Pada kutipan dialog di atas menggambarkan keadaan seperti yang ada sekarang ini. Kurangnya nilai kesopanan anak muda terhadap orang yang lebih tua. Baik itu berupa prilaku atau perkataan.

Dalam penelitian ini hanya ada dua kasus pelanggaran prinsip kesopanan pada naskah drama Petang di Taman karya Iwan Simatupang. Menurut penulis naskah drama Petang di Taman ini lebih dominan kesesuaian prinsip kesopanan yang dikemukakan oleh Leech. Banyak tuturan yang sesuai dengan apa yang telah dijabarkan oleh Leech tetapi ada beberapa kata juga yang melanggar prinsip kesopanan.

Prinsip kesopanan merupakan hal penting dalam kehidupan, sebab kita manusia adalah makhluk sosial yang perlu menghargai manusia lain. dengan cara bersikap sopanlah hubungan antar manusia bisa terjalin dengan baik.

Setiap manusia sebaiknya memiliki prinsip kesopanan pada dirinya. mengingat jaman sekarang sudah kurangnya kesopanan antara anak muda dengan orang tua. prinsip kesopanan harus diterapkan pada diri sendiri mulai dari sekarang.