Kumparan Logo

Bahlil Sebut Campuran 50 Persen Etanol ke Bensin Dilakukan Bertahap

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan program campuran bahan bakar nabati etanol dengan bensin atau bioetanol 50 persen (E50) akan dilakukan bertahap mulai tahun depan.

Bahlil mengatakan, saat Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional (DEN), Presiden Prabowo Subianto meminta agar ada solusi alternatif pemenuhan pasokan energi di saat kondisi global yang tidak menentu.

Selain itu, kebijakan E50 juga berangkat dari keberhasilan dalam mandatori biodiesel yang sudah mencapai kadar 50 persen alias B50, yang merupakan campuran dari Crude Palm Oil (CPO) dengan metanol menjadi Fatty Acid Methyl Ester (FAME).

"Berangkat dari keberhasilan kita yang pertama kali di dunia tersebut, lalu dalam rapat DEN dicari alternatif apakah bisa kita kembangkan untuk menjadi E50? Kenapa? Karena di Brazil sudah E100, di Amerika sebagian negara bagian sudah E100," ungkapnya saat ditemui di Balai Sudirman Jakarta, Senin (21/9).

Bahlil menjelaskan, produk etanol untuk campuran E50 bahan bakunya berasal dari tebu, singkong, atau jagung yang diproses. Dia mengeklaim kebijakan ini juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru dan membangun pertumbuhan di daerah.

"Kalau ini mampu kita lakukan ke E50, Insyaallah target kita adalah tidak lagi melakukan impor bensin produk jadi. Ketahanan energi kita tidak lagi menggantungkan ke luar secara besar," tutur Bahlil.

Sementara untuk target waktunya, dia menuturkan bahwa sudah ada peta jalan dalam implementasi mandatori bioetanol tersebut. Untuk tahun depan, kadar bioetanolnya baru 10 persen, baru kemudian naik menjadi 20 persen pada tahun 2028.

"Tugas kami sekarang adalah merancang bersama Ditjen Migas untuk membuat roadmap-nya. Contoh 2027 kita akan menerapkan E10, 2028 kita akan bangun E20, dan seterusnya ke depan. Tetapi kita harus menyesuaikan dengan industri kita. Kita tidak mau menerapkan E10, E20, atau E50 tapi etanolnya diimpor dari luar," tandasnya.

Sebelumnya, Bahlil mengungkapkan Presiden Prabowo telah memerintahkan penyusunan langkah pengembangan E50. Arahan ini disampaikan dalam Sidang Paripurna Dewan Energi Nasional (DEN) pertama pada 2026.

"Bapak Presiden tadi memerintahkan untuk segera menyusun langkah-langkah yang sama untuk kita membangun E50," kata Bahlil di Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis (17/9).

Menurutnya, konsumsi BBM solar nasional saat ini mencapai sekitar 39 juta kiloliter per tahun, sementara konsumsi bensin berada di kisaran 39-40 juta kiloliter per tahun.

Sejalan dengan arahan tersebut, Kementerian ESDM sebenarnya telah lebih dulu memulai kajian program campuran bioetanol 20 persen (E20) untuk mengonsolidasikan investor dan pengembang penyedia bahan baku (feedstock).

instagram embed

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi mencatat kebutuhan bensin nonsubsidi pada 2026 mencapai 6,65 juta kiloliter (KL), dan diperkirakan naik menjadi 7,35 juta KL pada 2030.

Dengan proyeksi ini, kebutuhan bioetanol pada 2026 diperkirakan mencapai 333.000 KL untuk campuran 5 persen, lalu naik menjadi 681.000 KL bioetanol murni pada 2027 untuk campuran 10 persen.

Pada 2028, kebutuhan bioetanol diproyeksikan mencapai 1,39 juta KL dengan kadar 20 persen, dan terus bertambah hingga 1,47 juta KL pada tahun-tahun berikutnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah membutuhkan tambahan 15 pabrik pengolahan bioetanol.