Kumparan Logo

El Nino 2026 Lebih Kuat dari 2023, Produksi Beras Diproyeksi Turun 4,57 Persen

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
FAO produksi beras Indonesia naik saat produksi dunia turun di Tahun 2026. Foto: Kementan RI
zoom-in-whitePerbesar
FAO produksi beras Indonesia naik saat produksi dunia turun di Tahun 2026. Foto: Kementan RI

Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan produksi beras Indonesia sepanjang 2026 mencapai 33,11 juta ton. Angka tersebut turun 4,57 persen dibandingkan produksi pada 2025 yang mencapai sekitar 34,70 juta ton.

Penurunan produksi ini terjadi di tengah fenomena El Nino 2026 yang disebut lebih kuat dibandingkan El Nino pada 2023. Dampaknya mulai terlihat dari berkurangnya luas pertanaman padi atau standing crop pada September 2026.

Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi El Nino pada 2026 secara umum lebih kuat dibandingkan tiga tahun sebelumnya.

“Catatan kami dari BMKG kondisi El Nino di tahun 2026 secara umum lebih kuat ya dibandingkan dengan El Nino di tahun 2023 yang lalu,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor BPS, Senin (2/11).

Menurut Ateng, kondisi tersebut berdampak terhadap pertanaman padi yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Kekeringan akibat El Nino membuat sejumlah wilayah mengalami kesulitan pasokan air untuk kegiatan budidaya.

“El Nino identik dengan kekeringan dan pada beberapa wilayah suplai airnya itu cukup kesulitan,” ujarnya.

Berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA), proporsi lahan yang sedang ditanami padi atau standing crop pada September 2026 hanya sebesar 20 persen. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan September 2023 yang mencapai 23,10 persen.

Ateng menyebut, penurunan proporsi standing crop pada September 2026 dibandingkan September 2023 mencapai 3,1 poin persentase.

“Hal ini ya tercermin dari penurunan tadi. Penurunan yang untuk standing crop-nya atau luas pertanaman padi ya atau tegakan tanaman padi turunnya itu 3,1 poin persentase pada September 2026 dibandingkan dengan September 2023,” jelasnya.

Sementara itu, pada September 2021, 2022, 2024, dan 2025, proporsi standing crop berada di kisaran 24,67 persen hingga 26,46 persen.

Pada September 2026, mayoritas lahan pertanian justru berada dalam fase ditanami selain padi, yakni sebesar 34,81 persen. Kemudian, lahan yang diberakan atau dibiarkan mencapai 25,74 persen, lahan yang telah dipanen sebesar 11,74 persen, dan lahan dalam tahap persiapan mencapai 6,94 persen.

Ateng mengatakan, penurunan proporsi standing crop mengindikasikan lebih rendahnya luas pertanaman padi yang berada dalam fase menjelang panen. Kondisi tersebut berpotensi diikuti penurunan luas panen dalam tiga bulan berikutnya.

“Penurunan luas standing crop mengidentifikasikan lebih rendahnya luas pertanaman padi yang berada pada fase panen yaitu fase vegetatif awal, vegetatif akhir, dan juga generatif. Kondisi tersebut berpotensi diikuti oleh penurunan potensi luas panen padi dalam 3 bulan berikutnya,” kata Ateng.

Dia menjelaskan, tanaman padi pada fase generatif umumnya akan dipanen satu bulan ke depan. Sementara itu, tanaman pada fase vegetatif akhir diperkirakan dipanen dua bulan ke depan dan fase vegetatif awal sekitar tiga bulan ke depan.

instagram embed

Dari sisi luas panen, BPS mencatat luas panen padi sepanjang Januari-September 2026 mencapai 9,24 juta hektare. Angka tersebut turun 2,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, luas panen pada Oktober-Desember 2026 diperkirakan mencapai 1,54 juta hektare atau turun 17,75 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Dengan demikian, total luas panen padi sepanjang 2026 diproyeksikan sebesar 10,78 juta hektare, turun 4,80 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan luas panen tersebut sejalan dengan proyeksi produksi padi. BPS memperkirakan produksi padi sepanjang Januari-September 2026 mencapai 48,77 juta ton gabah kering giling (GKG), turun 2,13 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Adapun produksi padi pada Oktober-Desember 2026 diperkirakan mencapai 8,69 juta ton GKG atau turun 16,30 persen secara tahunan. Dengan begitu, total produksi padi sepanjang 2026 diproyeksikan mencapai 57,45 juta ton GKG, turun 4,57 persen atau sekitar 2,75 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras pada Januari-September 2026 diperkirakan mencapai 28,10 juta ton. Jumlah tersebut turun 2,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Untuk periode Oktober-Desember 2026, produksi beras diproyeksikan sebesar 5,01 juta ton atau turun 16,32 persen secara tahunan. Secara keseluruhan, produksi beras sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 33,11 juta ton, turun 1,59 juta ton atau 4,57 persen dibandingkan 2025.

Ateng mengingatkan, angka potensi produksi pada Oktober-Desember 2026 masih dapat berubah. Perkembangan tersebut bergantung pada kondisi pertanaman, termasuk serangan hama atau organisme pengganggu tanaman (OPT), banjir, kekeringan, hingga perubahan waktu panen oleh petani.

“Angka potensi masih dapat berubah. Ini bergantung pada kondisi pertanaman padi sepanjang nanti pada bulan Oktober sampai Desember tahun 2026, seperti pada saat adanya serangan hama atau organisme pengganggu tanaman ya OPT, pada saat banjir, pada kekeringan, waktu pelaksanaan panen oleh petani mengalami perubahan dan juga kondisi yang lainnya,” tuturnya.

Harga Beras di Eceran Tembus Rp 15.765 per Kg

Pekerja mengangkut beras di kawasan Pasar Dargo, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/4/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Di tengah proyeksi penurunan produksi, rata-rata harga beras di Indonesia juga tercatat meningkat sepanjang 2026. Pada Oktober 2026, harga beras di tingkat penggilingan mencapai Rp 14.365 per kg, di tingkat grosir Rp 14.994 per kg, dan di tingkat eceran Rp 15.765 per kg.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Januari 2026. Saat itu, rata-rata harga beras di tingkat penggilingan tercatat Rp 13.588 per kg, di tingkat grosir Rp 14.218 per kg, dan di tingkat eceran Rp 15.013 per kg.

Ateng mengatakan, rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada Oktober 2026 naik 0,26 persen secara bulanan dan 6,89 persen secara tahunan.

"Rata-rata harga beras di penggilingan pada bulan Oktober tahun 2026 secara total naik 0,26 persen secara month to month dan naik sebesar 6,89 persen secara year on year," ujar Ateng dalam konferensi pers BPS, Senin (2/11).

Sementara itu, rata-rata harga beras di tingkat grosir tercatat naik 0,01 persen secara bulanan dan 5,13 persen secara tahunan. Adapun di tingkat eceran, harga beras meningkat 0,08 persen secara bulanan dan 4,10 persen secara tahunan.

Jika dirinci berdasarkan kualitasnya, harga beras premium di tingkat penggilingan naik 0,01 persen secara bulanan dan 11,32 persen secara tahunan. Sementara itu, harga beras medium mengalami kenaikan 0,35 persen secara bulanan dan 5,57 persen secara tahunan.

Ateng menjelaskan, data harga beras yang dirilis BPS merupakan rata-rata harga dari berbagai jenis kualitas beras di seluruh wilayah Indonesia.

"Harga beras yang kami sampaikan merupakan harga rata-rata beras yang mencakup berbagai jenis kualitas dan juga mencakup seluruh wilayah di Indonesia," kata dia.