Konstruksi Smelter HPAL Pomalaa Rampung, Siap Beroperasi Tahun Ini

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengatakan smelter High Pressure Acid Leaching (HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, hampir merampungkan tahapan mechanical completion.
Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale Indonesia, Budiawansyah, mengatakan perusahaan akan merampungkan seluruh Proyek Strategis Nasional (PSN) Indonesia Growth Project (IGP) secara bertahap.
Pertama dimulai dengan IGP Pomalaa. Pertambangan nikel pada proyek ini sudah beroperasi sejak kuartal I 2026, dengan produksi tahunan 7 juta saprolit dan 21 juta limonit. Pertambangan ini terintegrasi dengan smelter HPAL yang kapasitasnya 120.000 ton nikel dalam MHP. Total investasi proyek HPALA mencapai USD 3,4 miliar.
"Berdasarkan tenggat waktu yang ada juga di dalam IUPK kita akan deliver dalam beberapa sekuensial tahun ini, lebih advance Pomalaa dulu akan beroperasi, habis itu diikuti oleh di Bahodopi itu akhir tahun ini di kuartal IV. Habis itu diikuti oleh Sorowako," kata Budi saat berbicang bersama media, Kamis (13/8).
Budi menuturkan, konstruksi teknis smelter HPAL Pomalaa sudah rampung alias mencapai tahap mechanical completion pada satu line-nya. Tahapan selanjutnya adalah uji coba atau commissioning test.
Kendati begitu, dia belum bisa membeberkan kapan proses commissioing tersebut dilakukan. Hanya saja, dia menekankan bahwa smelter tersebut secara fisik sudah siap beroperasi.
"Satu line sudah mechanical completion, sudah 100 persen. Mechanical completion di situ adalah sudah selesai secara mekanik proses konstruksinya. Tinggal testing commissioning," ungkapnya.
Selanjutnya yakni IGP Morowali-Bahodopi. Adapun pertambangan nikelnya sudah beroperasi pada kuartal III 2025 dengan kapasitas produksi 5,5 juta saprolit dan 10,4 juta limonit per tahun.
Sementara smelter HPAL pada proyek ini ditargetkan dapat mencapai mechanical completion secara penuh pada kuartal IV 2026. Smelter ini memiliki kapasitas 66.000 nikel dalam MHP dengan total investasi USD 1,4 miliar.
Terakhir yakni IGP Sorowako yang tambangnya memproduksi 11,5 juta limonit. Smelter HPAL pada proyek ini berkapasitas 60.000 ton nikel dalam MHP dan diestimasi dapat beroperasi pada tahun 2027.
"Sekarang progresnya konstruksi berjalan, proses pembangunan pipa-pipa dan juga fasilitas konstruksi dari feed preparation plant tetap berlanjut, dan begitu juga di dalam kawasan industrinya sudah mulai ada penyiapan lahan dan lain-lain," ungkap Budi.
