Kumparan Logo

Lonjakan AI dan Harga Energi Jadi Penentu Ekonomi Asia

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi menggunakan layanan kecerdasan buatan (AI). Foto: Summit Art Creations/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menggunakan layanan kecerdasan buatan (AI). Foto: Summit Art Creations/Shutterstock

Bank Dunia atau World Bank menilai perekonomian Asia Timur dan Pasifik tengah dipengaruhi dua tren besar global, yakni lonjakan aktivitas kecerdasan buatan (AI) dan tingginya harga energi. Dampaknya berbeda-beda bagi setiap negara, bergantung pada keterlibatan mereka dalam rantai pasok AI serta ketergantungan terhadap energi.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia, Franziska Ohnsorge, mengatakan lonjakan aktivitas AI global telah mendorong pertumbuhan di negara-negara yang terintegrasi dalam rantai pasok produk terkait AI. Di sisi lain, harga energi yang tinggi masih menjadi tekanan bagi sejumlah negara di kawasan.

“Perekonomian global secara lebih luas sedang dibentuk oleh dua tren besar ini. Salah satunya adalah lonjakan aktivitas terkait AI secara global, dan yang lainnya adalah energi yang mahal,” kata Franziska dalam pemaparan Bank Dunia, Selasa (6/10).

Sektor elektronik Asia Timur menjadi salah satu bagian penting dalam rantai pasok produk terkait AI. Kondisi tersebut membuat negara yang memiliki keterkaitan kuat dengan rantai pasok tersebut mendapatkan dorongan terhadap ekspor dan pertumbuhan ekonomi.

Produk terkait AI bahkan menyumbang lebih dari setengah pertumbuhan ekspor di sejumlah negara Asia Timur. Di Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, produk terkait AI menyumbang lebih dari 70 persen pertumbuhan ekspor.

Bank Dunia melihat semakin terintegrasinya suatu negara dalam rantai pasok global produk terkait AI, semakin besar pula kenaikan proyeksi pertumbuhan ekspornya. Kondisi ini turut mendorong pertumbuhan kawasan yang diperkirakan mencapai 4,5 persen pada 2026 dan 2027.

Namun, manfaat dari boom AI tersebut tidak dirasakan secara merata. Negara yang tidak banyak terintegrasi dalam rantai pasok AI justru menghadapi tekanan dari tingginya harga energi.

Franziska mengatakan harga energi menjadi salah satu faktor yang membentuk perbedaan prospek pertumbuhan antarnegara di kawasan.

“Negara-negara yang tidak terlalu terintegrasi dalam rantai pasok ini sedang menghadapi kesulitan. Kondisi ini terutama terjadi di negara-negara kepulauan Pasifik. Negara-negara tersebut benar-benar terdampak oleh tren besar lainnya yang membentuk perekonomian global, yaitu tingginya harga energi,” ungkapnya.

instagram embed

Tekanan harga energi juga terlihat pada inflasi. Meskipun dampaknya terhadap pertumbuhan kawasan tidak sebesar perkiraan Bank Dunia sebelumnya, inflasi meningkat dengan cepat di Asia Timur dan Pasifik pada 2026 dan diperkirakan masih berada di level tinggi hingga 2027.

Filipina menjadi salah satu negara yang paling terdampak oleh kenaikan harga energi. Bank Dunia menyebut negara tersebut memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi sehingga lebih rentan ketika harga energi global meningkat.

“Filipina merupakan negara yang berbeda di Asia Timur. Negara tersebut lebih kesulitan dibandingkan negara lain menghadapi tingginya harga energi,” ujar Franziska.

Menurut dia, kondisi Filipina semakin berat karena negara tersebut juga tidak terlalu terintegrasi dalam rantai pasok global terkait AI. Akibatnya, Filipina tidak memperoleh manfaat yang sama dari lonjakan aktivitas AI sekaligus lebih terkena dampak dari kenaikan harga energi.

“Filipina memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap impor energi. Negara tersebut lebih terdampak oleh kenaikan harga energi global. Selain itu, Filipina juga lebih sedikit terintegrasi dalam rantai nilai global terkait AI dibandingkan negara seperti Vietnam dan Malaysia,” kata dia.

Sementara itu, Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda. Indonesia belum memperoleh manfaat sebesar negara lain dari integrasi dalam rantai pasok global terkait AI. Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih ditopang oleh kuatnya permintaan domestik.

“Indonesia menarik. Indonesia sebenarnya lebih sedikit terpapar dibandingkan negara lain terhadap lonjakan aktivitas terkait AI secara global. Hal yang benar-benar kuat di Indonesia adalah permintaan domestik,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuat Indonesia memiliki sumber pertumbuhan yang berbeda dibandingkan Vietnam dan Malaysia yang lebih banyak mendapatkan dorongan dari aktivitas AI global dan ekspor produk terkait.

Bank Dunia juga mengingatkan, tingginya harga energi masih menjadi salah satu risiko terhadap prospek pertumbuhan kawasan. Jika harga energi bertahan lebih tinggi dari perkiraan, tekanan terhadap pertumbuhan dapat kembali meningkat, terutama bagi negara yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi.

Di sisi lain, lonjakan aktivitas AI yang saat ini menjadi sumber pertumbuhan bagi sejumlah negara juga dapat berubah menjadi risiko apabila terjadi perlambatan atau koreksi pada aktivitas AI global.