Soedirman, Jenderal Besar yang 'Menyeberang' bersama Tan

Asisten Redaktur kumparanBisnis. Menulis dan editing konten isu ekonomi dan bisnis. Membuat konten Multichannel.
Tulisan dari Muhammad Darisman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lebih baik dibom atom daripada tidak merdeka 100%!
(Jenderal Besar Soedirman)
Setali tiga uang dengan gagasan Tan Malaka, Kata-kata di atas memang pertama kali diucapkan Jenderal Besar Raden Soedirman ketika bertemu Tan Malaka pada bulan Januari 1946 di Purwokerto. Pada waktu itu sejumlah organisasi mengadakan pertemuan, Tan Malaka hadir membicarakan gagasan Minimum Program (yang di dalamnya memuat konsep kemerdekaan 100%), sementara Soedirman hadir sebagai Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Kalimat itu bukan sekedar omongan belaka, lewat Persatuan Perjuangan (PP) ia bersama Tan Malaka menolak jalan diplomasi yang dipilih Soekarno-Hatta. Bagi mereka, diplomasi antara pemerintah dengan kolonial sama saja dengan tidak menghormati proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Berbagai kesepakatan antara Indonesia dengan Belanda, seperti Linggarjati dan Renville dinilai berat sebelah dan merugikan negara kita. Baik Tan, maupun Soedirman, sama-sama bersikukuh agar tidak ada lagi kesempatan Belanda dengan segala akal bulusnya untuk menduduki kembali Indonesia.
Ketakutan mereka itu akhirnya terbukti, Belanda melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan melakukan Agresi Militer Belanda I (13 Juli 1947) dan II (18 Desember 1948). Akibat agresi militer tersebut, sang jenderal bersama pasukan terpaksa harus berpindah-pindah tempat. Dari pelarian ke pelarian, Jenderal Soedirman bahkan memimpin gerilya selama berbulan-bulan dengan ditandu karena tuberkulosis yang dideritanya. Paru-paru kanan sang jenderal terpaksa dikempeskan, hingga akhirnya ia dikalahkan oleh penyakit itu pada 29 Januari 1950.
Sementara, Tan mengalami nasib yang lebih buruk, ditangkap dan akhirnya dieksekusi 21 Februari 1949. Tuduhan sebagai dalang atas peristiwa kudeta terhadap pemerintah adalah alasan Tan patut dieksekusi masa itu.
***
Peristiwa-peristiwa tersebut telah lebih setengah abad kita tinggalkan di belakang. Tan Malaka, Soedirman, serta semua tokoh yang disebut, telah bersemayam dengan tenang dan dikenang sebagai pahlawan. Ada banyak museum, patung, serta jalanan yang diberi namanya.
Hari ini bertepatan dengan kematian Jenderal Soedirman 68 tahun lalu. Sekadar mengenang perjuangan hidup dan matinya lewat tulisan adalah sedikit daya yang bisa penulis lakukan. Mengenangnya, penulis rasa akan sedikit kurang mesra tanpa menyebut nama Tan Malaka.
Keduanya memiliki banyak banyak kesamaan, selain sama memiliki latar belakang sebagai pengajar, keras kepala demi kemerdekaan 100% yang diinginkan Tan adalah juga yang diimpikan Soedirman. Sejak Kongres pertama yang menjadi cikal bakal PP di Purwokerto, berlanjut pada pertemuan-pertemuan selanjutnya (Jenderal Soedirman sempat naik podium di Kongres PP setelahnya).
Dwitunggal menurut Adam Malik, bukan hanya Soekarno-Hatta, tetapi ada Tan-Soedirman, dan Sjahrir-Sjarifuddin. Dwitunggal ini, sangat menyayangkan keputusan pemerintah, khususnya Kabinet Sjahrir yang selalu mengupayakan diplomasi dengan Belanda. Kedua kubu itu menjadi lawan satu sama lawan, Tan-Soedirman menganggap Kabinet Sjahrir terlalu lemah dan mesti dibubarkan; Sjahrir-Sjarifuddin menganggap Soedirman yang latar belakangnya sebagai jebolan PETA tidak seharusnya memimpin Tentara Nasional Indonesia-- naasnya, Tan ditempatkan sebagai pemikir yang terlalu radikal dan mengancam jalannya pemerintahan.
Pada akhirnya kemesraan mereka hanya untuk hitungan bulan saja. Meskipun sama-sama berseberangan dengan keputusan pemerintah, Pada akhirnya mereka mesti bersimpang jalan jua. Tan Malaka dijadikan pesakitan negara, sementara Soedirman harus selalu menjunjung sumpah setia seorang prajurit negara.
Setelah Tan ditahan, Jenderal Soedirman sebenarnya masih mengupayakan agar koleganya itu dibebaskan negara lewat upaya perundingan dengan Soekarno. Sang jenderal juga pernah memerintahkan Mayjen Sudarsono membebaskan Tan (bersama PP) dan Barisan Banteng yang ditangkap atas perintah Sjahrir (Maret dan Mei 1946).
Seperti sudah ditakdirkan penjara untuk Tan, atas insiden 3 Juli 1946, ia ditangkap 3 tahun kemudian hingga kehilangan nyawa meski tidak terbukti bersalah. Jenderal Soedirman tetap melanjutkan perjuangan sebagai seorang tentara, kendati pernah digantikan, ia tetap kembali menjadi pimpinan utama prajurit negara.

Walaupun sering berseberangan dengan pemerintah, tetapi sebagai seorang prajurit, Soekarno-Hatta tetaplah yang patut ia hormati, yang barangkali menjadi alasan ia tak bersaksi untuk sidang Tan Malaka. Sialnya, penangkapan Tan Malaka malah dianggap atas perintah Darurat Perang dari Jenderal Soedirman. Ia membantah mati-matian tuduhan itu.
Sang Jenderal Besar tetaplah memiliki kebebasannya, saat pemerintah memilih perundingan, ia melakukan Perang Gerilya bersama pasukannya. Buah dari taktik sang jenderal adalah berhasil dipukul mundurnya Belanda. Pemerintahan Negara dikembalikan ke Jakarta.
Di negara baru bernama Republik Indonesia Serikat, satu bulan sebelum kematiannya, Jenderal Sudirman diangkat menjadi Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia. Sang Jenderal gagah perkasa akhirnya dikalahkan tuberkulosis dan menutup mata pada usia 34 tahun. Ia disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.
Bagi penulis pribadi, apa yang bisa dipetik hari ini dari mereka adalah bagaimana kegigihan mereka yang pada waktu itu meskipun harus berbeda dan kehilangan kemerdekaannya sendiri. Sejalan dengan perkataan Tan “Barang siapa yang menghendaki kemerdekaan umum, maka ia harus sedia dan ikhlas kehilangan kemerdekaannya sendiri.”
Sebab, dari sanalah negara sekarang ini dapat kita nikmati kemerdekaannya. Dari tetesan keringat, darah, serta nyawa pejuang seperti mereka. Sementara kita hari ini tanpa tetesan darah, sudahkah menjaga 100% kemerdekaan kita semua? Entahlah.
(Mengenang 68 tahun kepergian Jenderal Soedirman)
