Mempersiapkan Diri Menghadapi Resesi Tahun 2023

Saya adalah seorang mahasiswa Universitas Negeri Surabaya
Tulisan dari Muhammad Faris Fadli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mendekati akhir dari tahun 2022, topik ‘tahun 2023 akan menjadi tahun yang gelap’ ramai diperbincangkan masyarakat di media sosial. Bapak presiden kita, Ir. H. Joko Widodo mengingatkan warga Indonesia untuk berhati-hati terhadap kondisi ekonomi saat ini dan seterusnya.
"Hati-hati ketidakpastian ini, mengenai ketidakpastian ini, dan tiap hari kita selalu diingatkan dan kalau kita baca baik di media sosial, di media cetak, di media online semuanya mengenai resesi global, tahun ini sulit dan tahun depan sekali lagi saya sampaikan akan gelap, dan kita tidak tahu badai besarnya seperti apa sekuat apa tidak bisa dikalkulasi," kata Jokowi saat Pengarahan Presiden kepada seluruh Menteri/Kepala Lembaga, Kepala Daerah, Pangdam dan Kapolda di JCC, Jakarta, dikutip Jumat (30/9/2022).
Penyebab dari kondisi krisis ini salah satunya ialah ‘Resesi global’ yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2023. Tapi sebenarnya apa sih ‘resesi’ itu? Apa penyebabnya? Seberapa berbahayanya jika terjadi? Dan bagaimana cara kita sebagai penduduk biasa menghadapinya?.
Secara sederhana resesi ekonomi ialah ketika Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara yang negatif dan pertumbuhan ekonomi riil selama dua kuartal (6 bulan) menurun.
Penyebabnya pertama ialah kenaikan suku bunga yang cukup ekstrim. The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) menaikkan suku bunga mereka sebagai tanggapan atas melonjaknya inflasi di negara mereka. Kedua ialah inflasi. Pada tahun 2020 kemarin, perekonomian global sempat hancur dikarenakan aktivitas masyarakat yang terbatas dan dihentikan karena covid-19. Hal tersebut membuat banyak negara berlomba-lomba mencari solusi agar roda ekonomi dapat berputar kembali. Contohnya Amerika Serikat, mereka memberikan sejumlah ‘uang gratis’ pada warganya supaya mereka tetap dapat berbelanja disaat pandemi, yang mana dampaknya terasa sekarang yaitu peredaran uang terlalu banyak dan harga-harga naik. Selanjutnya ialah perang Rusia-Ukraina. Rusia merupakan negara ekspor minyak terbesar di dunia terutama Eropa dan semenjak dimulainya perang ini, negara-negara barat (Amerika dan Eropa) melakukan embargo kepada Rusia sebagai sanksi atas invasi mereka terhadap Ukraina. Sebagai balasannya, Rusia menghentikan aliran pasokan gas mereka kepada Eropa yang menyebabkan krisis energi dan kenaikan harga minyak yang tentunya berpengaruh ke sektor lainnya.
Kondisi ekonomi pada negara-negara maju yang memburuk pastinya berpengaruh kepada negara-negara berkembang. Banyak negara-negara yang terancam krisis seperti, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang, China, Mongolia, dan masih banyak lagi. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Beruntungnya Indonesia termasuk negara yang berpotensi kecil terdampak resesi tahun 2023 dikarenakan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih dapat tumbuh 5,2% di tahun 2022 ini. Ahli ekonomi Bapak Chatib Bastri bahkan meyakini ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh setidaknya 4% pada tahun 2023.
Namun walaupun Indonesia berpotensi kecil mengalami resesi/krisis ekonomi pada tahun 2023, ada baiknya kita tetap mempersiapkan diri untuk kondisi terburuk yang bisa terjadi. Pertama kita bisa mulai dari mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, kita cukup mengeluarkan uang hanya untuk kebutuhan-kebutuhan pokok. Kedua ialah memindahkan sebagian besar aset yang dimiliki ke aset yang mudah diambil ketika dibutuhkan seperti, cash, reksadana pasar uang, dan aset-aset yang tidak terlalu fluktuatif, low risk, bisa ditarik kapan saja. Selanjutnya, lunasi utang dan cicilan sebisa mungkin, jangan menambah utang yang tidak perlu. Setelah itu, siapkan dana darurat setidaknya 6 hingga 12 kali pengeluaran bulanan dan siapkan asuransi utamanya kesehatan dan penyakit kritis. Dan terakhir, cari pendapatan sampingan karena disaat krisis tidak semua industri mati atau merugi. Pasti ada industri yang tetap stabil atau bahkan diuntungkan.
Indonesia memang dinilai negara yang 'resilient' terhadap resesi tahun 2023, tetapi tidak ada ruginya kita mempersiapkan diri untuk kondisi terburuk. Ada pepatah dalam bahasa inggris mengatakan “It’s better to be a warrior in a garden, than to be a gardener in a war”.
