Fenomena Sound Horeg: Ketidaksempurnaan yang Jadi Hiburan Rakyat

Seorang lulusan baru dari program studi Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang dan seorang penulis junior di suatu lembaga kajian bernama "Lingkar Kajian Kolaboratif".
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Muhammad Gumilar Mulyana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena Sound Horeg, beberapa bulan terakhir marak melintas di linimasa media sosial kita. Mulai dari potongan-potongan video di hajatan sederhana, pesta rakyat kecil-kecilan, hingga panggung tujuh belasan. Pada acara-acara tersebut, dentuman musik keras tersaji dengan lantang dan nyaring. Menariknya, suara yang dihasilkan, bukan berasal dari sound system mahal kelas atas seperti yang sering ditampilkan di panggung-panggung konser musisi kelas dunia, melainkan suara yang dihasilkan ini berasal dari kumpulan perangkat rakitan yang menghasilkan suara “pecah”. Inilah yang kemudian dikenal sebagai Sound Horeg.
Fenomena ini nampak seperti lelucon. Nada vokal yang dihasilkan dari perangkat rakitan Sound Horeg, sering terdengar lirih, tertelan oleh dentuman bass yang menggebu, kadang dentuman yang dihasilkan pun tidak beraturan, dan kualitas dari audionya jauh dari kata sempurna. Namun, dari situlah daya tarik tercipta. Video-video Sound Horeg ramai dibagikan, dijadikan backsound di video-video TikTok, bahkan hingga menciptakan komunitas sendiri yang mana berisi orang-orang yang menikmati dentuman musik dari Sound Horeg ini.
Tanpa kita sadari, fenomena Sound Horeg ini justru menimbulkan sebuah pertanyaan: mengapa sesuatu yang “tidak sempurna” malah begitu digemari oleh sebagian rakyat Indonesia?
Dari Hajatan ke Media Sosial
Guna memahami fenomena Sound Horeg, kita perlu melihat akar sosialnya. Tradisi pesta rakyat di Indonesia, selalu diidentikan dengan musik. Mulai dari organ tunggal di pedesaan, dangdut koplo di pinggiran kota, hingga orkes di sebuah hajatan. Semua selalu identik dengan musik. Musik selalu dijadikan instrumen pengikat suasana. Namun, biaya yang dikeluarkan untuk menyewa sebuah band ataupun sound system profesional tidak selalu dapat dijangkau oleh masyarakat.
Dari sinilah kreativitas anak muda menampakkan tajinya. Dengan modal yang terbatas, anak muda merakit perangkat-perangkat speaker dari bahan seadanya, melakukan modifikasi amplifier, hingga tercipta sebuah gaya audio yang khas. Suara yang dikeluarkan memang terkesan “berantakan”, tapi suara itu terbilang cukup untuk menjadi penghidup suasana.
Dahulu, hiburan Sound Horeg hanya dapat dinikmati oleh sebagian warga saja. Berkat adanya kemajuan teknologi digital, membuat fenomena Sound Horeg ini menjadi cepat tersebar. Saat ini, melalui unggahan di aplikasi TikTok dan Instagram, dentuman bass yang lantang dari Sound Horeg, dapat dinikmati oleh jutaan warga. Fenomena yang bermula dari acara-acara di kampung, kini telah meluas menjadi fenomena budaya populer di Indonesia.
Ketidaksempurnaan yang Jadi Karakter
Ketika industri musik modern berlomba-lomba menciptakan sound system dengan suara yang jernih, kualitas audio 3D, hingga efek surround yang hampir menyentuh kata sempurna, Sound Horeg hadir dengan menciptakan fenomena sebaliknya. Sound Horeg hadir dengan ciri khasnya tersendiri: saura yang penuh noise, terdengar timpang, hingga sering dianggap berpotensi besar merusak gendang telinga.
Namun, justru ketidaksempurnaan inilah yang menjadi identitas dari Sound Horeg. Anak-anak muda memandangnya sebagai sesuatu yang otentik, langka, dan membumi. Suaranya yang pecah dan berantakan, menjadi ciri khas yang menjadikannya mudah untuk dikenali. Bahkan, ada sebagian masyarakat yang dengan bangga mengatakan: “Kalau nggak pecah, bukan Horeg namanya”.
Fenomena ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada standarisasi dalam dunia musik. Tidak ada kategori “bagus” dan “jelek” pada dunia musik. Bagi sebagian kalangan masyarakat, kualitas suara yang terkesan “pecah” dan “berantakan” merupakan sesuatu yang terbilang “kurang enak didengar”. Namun, bagi komunitas pecinta Sound Horeg, hal ini jutru menjadi daya jual dan daya tawarnya.
Kreativitas dalam Keterbatasan
Selain itu, fenomena Sound Horeg menjadi bukti bahwa kreativitas tidak selalu tercipta dari sebuah kemewahan. Banyak anak muda yang ikut serta dalam tren ini bukan berasal dari golongan keluarga yang “berpunya”. Mereka mencoba-coba dan memodifikasi sendiri perangkat elektronik bekas hingga menciptakan sesuatu yang baru dan unik.
Di balik sebuah dentuman bass yang keras, pecah, dan berantakan, terdapat kerja keras dalam merakit kabel, menyambungkan ampli, hingga pengujian speaker. Proses ini bisa dibilang jauh dari kata sempurna, namun di balik ketidaksempurnaan itu terdapat sebuah proses pembuatan yang penuh dengan eksperimen. Dari sinilah, fenomena Sound Horeg dapat dikategorikan sebagai simbol perlawanan halus terhadap standarisasi industri musik yang identik dengan sesuatu yang mahal dan elitis.
Kreativitas dalam merakit Sound Horeg, telah mununjukkan kepada kita bahwa masyarakat kita mempunyai semangat khas: mereka mampu menciptakan kesenangan meski berbekal sumber daya yang terbatas. Pepatah lama pernah berpesan “ada gula ada semut”. Di mana ada Sound Horeg, di situlah ada orang-orang berkumpul menikmati hiburan yang murah meriah.
Ruang Kebersamaan dan Sosialisasi
Perlu diketahui, Sound Horeg bukanlah sekadar musik semata. Ia mampu menciptakan ruang sosial yang mempertemukan banyak orang. Misalnya, di acara hajatan, dentuman menggelegar dari Sound Horeg dapat menjadi pencair suasana, mengajak anak-anak kecil hingga para orang tua bergoyang, sehingga dapat tercipta sebuah kebersamaan lintas generasi. Tak peduli itu anak-anak, remaja, maupun orang tua, mereka sama-sama terhanyut oleh goyangan akibat dentuman khas dari Sound Horeg.
Fenomena Sound Horeg ini menyiratkan pesan bahwa musik tidak hanya soal mendengarkan, namun juga soal cara menciptakan kebersamaan. Sound Horeg dapat mengembalikan makna hiburan rakyat yang sebenarnya: di mana hiburan itu dapat dinikmati oleh siapa saja, tanpa adanya tiket yang mahal, dan tanpa adanya eksklusivitas.
Bagi kalangan anak muda, Sound Horeg dapat menjadi pertunjukkan alternatif. Ada yang mencoba menunjukkan kemampuan DJ amatirnya, ada yang mencoba menunjukkan kemampuan menyanyi dadakannya, hingga ada yang mencoba menjadi operator sound yang dengan bangga memperdengarkan sound hasil rakitannya.
Antara Hiburan dan Gangguan
Fenomena Sound Horeg, tak dapat terlepas dari adanya pro dan kontra di masyarakat. Ada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa Sound Horeg hanya menciptakan gangguang berupa kebisingan. Bahkan, ada juga yang sampai mengeluh dengan adanya Sound Horeg, karena Sound Horeg ini terus menerus dinyalakan hingga larut malam. Pendapat kontra seperti ini wajar saja terjadi, karena kebebasan berekspresi selalu bersinggungan dengan batas ruang publik.
Namun, apabila kita melihat konteks tersebut dengan lebih jernih, fenomena Sound Horeg ini justru menciptakan ruang diskusi yang menarik: bagaimana menciptakan keseimbangan antara hiburan dan ketertiban? Melalui Sound Horeg, kita dapat melihat bahwa hiburan rakyat dapat diciptakan dengan sumber daya yang seadanya dan biaya yang dikeluarkan pun murah, asalkan ada kesepahaman bersama dalam menjaga kenyamanan dan ketertiban di lingkungan masyarakat.
Cermin Budaya Pop Lokal
Apabila dicermati lebih dalam, Sound Horeg dapat dikategorikan sebagai bagian dari budaya pop lokal. Ia muncul dari bawah, menyebar melalui bantuan media sosial, hingga merambah menjadi tren nasional. Fenomena seperti ini, mirip dengan berkembangnya musik dangdut koplo dan tarian khas daerah yang juga memanfaatkan sebuah keviralan.
Perbedaanya, Sound Horeg tidak lahir dari seorang seniman profesional. Ia lahir dari kalangan masyarakat biasa. Namun, di situlah letak keistimewaannya. Sound Horeg telah mengaburkan sekat antara “penonton” dan “kreator”. Siapa saja dapat ikut terlibat. Entah sebagai perakit dan pencipta soundnya, sebagai penari yang mengiringi Sound Horegnya, ataupun sebagai pengguna media sosial yang berperan mengunggah video Sound Horeg di linimasa media sosial.
Fenomena ini menjadi bukti bahwa budaya tidak selalu tercipta dari pusat ataupun industri besar. Kadang, budaya juga dapat lahir dari gang sempit, dari sebuah hajatan sederhana, dari acara tujuh belasan, hingga pada akhirnya merambah menjadi tren yang tak pernah diduga.
Merayakan Ketidaksempurnaan
Pada akhirnya, Sound Horeg bukan hanya persoalan suara atau musik yang terdengar “pecah” dan “berantakan”. Sound Horeg merupakan refleksi bagaimana masyarakat merayakan kehidupannya. Di balik ketidaksempurnaan, tetap ada sebuah kegembiraan. Di balik sebuah keterbatasan, tetap timbul sebuah kreativitas.
Fenomena Sound Horeg ini memberikan sebuah pelajaran kepada kita, bahwa hiburan tidak melulu soal kemewahan. Kadang, dengan kebersamaan, canda tawa, dan iringan dentuman musik sederhana, sudahlah cukup untuk menciptakan kenangan yang menggembirakan.
Mungkin, beberapa tahun kemudian, tren Sound Horeg ini akan meredup. Namun, kisah-kisah dari fenomena Sound Horeg ini akan tetap menjadi bagian dari sejarah budaya pop di nusantara: suara bising dari gang sempit pun bisa menarik perhatian jagat maya.
