Dirut KAI: Kebutuhan KRL di 2026 105 Trainset, Baru Ada 102

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyebut pihaknya membutuhkan 105 rangkaian atau trainset untuk melayani operasional KRL Jabodetabek sepanjang 2026. Namun, jumlah sarana yang tersedia pada awal tahun ini baru mencapai 102 trainset.
“Kesiapan kebutuhan siap operasi dari trainset itu kami hitung 89 untuk melakukan perjalanan tadi yang jumlahnya 1.065 itu, ditambah dengan ada cadangan. Cadangan itu kita biasa asumsikan itu 3 persen, kemudian perawatan itu 16 persen,” kata Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (23/9).
“Jadi total kebutuhan trainset kami untuk melayani 2026 dengan angka yang sangat konservatif 1 juta penumpang per hari, itu adalah 105. Jumlah sarana awal tahun kami itu baru 102,” sambungnya.
Bobby menjelaskan peningkatan kebutuhan armada terjadi seiring pertumbuhan jumlah pengguna kereta komuter. Jumlah penumpang KRL Jabodetabek pada semester I 2026 tumbuh 11,3% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
“Yang tadinya rata-rata penumpang harian itu di bawah 1 juta, sekarang itu sudah 1,1 juta,” ujarnya.
Selain KRL Jabodetabek, jumlah pengguna LRT Jabodebek juga meningkat. Bobby menyebut jumlah penumpang LRT yang sebelumnya di bawah 90 ribu per hari kini mencapai 138 ribu penumpang.
Sementara itu, jumlah penumpang yang naik dan turun di Stasiun Bogor meningkat dari sebelumnya kurang dari 100 ribu menjadi sekitar 160 ribu orang per hari.
Menurut Bobby, peningkatan tersebut menunjukkan transportasi berbasis kereta semakin banyak digunakan masyarakat untuk perjalanan komuter.
“Artinya memang untuk transportasi komuter, kereta lebih menjadi pilihan utama pada saat ini,” katanya.
Armada KRL Berusia Lebih dari 41 Tahun
Bobby mengatakan kebutuhan penambahan trainset juga harus memperhitungkan kondisi armada yang sudah berusia tua. Saat ini, rata-rata usia kereta KAI telah lebih dari 41 tahun.
KAI juga berencana melakukan konservasi atau memensiunkan 13 trainset pada tahun ini.
“Kita ketahui berkali-kali kami sampaikan juga bahwa rata-rata usia dari kereta-kereta kita ini sudah lebih dari 41 tahun,” kata Bobby.
Bobby sebelumnya menjelaskan pengadaan sarana pada 2023 juga dilakukan untuk mengantisipasi kondisi tersebut. Saat itu KAI memproyeksikan 35 sarana baru, terdiri dari 11 unit impor dari CRRC China, 16 unit produksi PT INKA, serta 8 unit yang belum dipesan.
Dari rencana tersebut, 11 unit CRRC China telah beroperasi sejak tahun lalu. Sementara dari 16 unit produksi INKA, baru 7 unit yang beroperasi dan 9 unit lainnya belum diterima KAI.
Bobby menyebut keterlambatan 9 unit tersebut telah berlangsung lebih dari satu tahun. Menurutnya, persoalan tersebut berkaitan dengan kapasitas produksi INKA.
“PT INKA untuk 16 unit ini memproyeksikan kapasitas produksinya mereka itu 8 unit per tahunnya. Kenyataannya cuma 2. Hanya 2 sampai 3 unit yang bisa mereka produksi 1 tahunnya,” ujarnya.
200 Trainset KRL pada 2040
Untuk jangka panjang, KAI memproyeksikan kebutuhan armada KRL Jabodetabek akan meningkat seiring pertumbuhan jumlah penumpang.
Bobby mengatakan hingga 2040, jumlah penumpang KRL Jabodetabek diproyeksikan mencapai 2,5 juta hingga 3 juta orang per hari. Untuk melayani kebutuhan tersebut, KAI memperkirakan membutuhkan sekitar 200 trainset.
“Jadi sampai dengan tahun 2040 ini dengan proyeksi 2,5 sampai 3 juta penumpang harian, kita itu sebenarnya untuk KRL Jabodetabek ini kita butuh sekitar 200 trainset untuk penambahan kapasitas,” kata Bobby.
