Filosofi Desain Bundar Pedestrian Deck Dukuh Atas: Selaras Sejak Masa Sukarno

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
TOD Planning Department Head MRT Jakarta, Sagita Devi, pada acara penjelasan terkait filosofi Desain Bundar Pedestrian Deck Dukuh Atas di Jakarta, Jumat (31/7). Foto: Sifa Maulida/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
TOD Planning Department Head MRT Jakarta, Sagita Devi, pada acara penjelasan terkait filosofi Desain Bundar Pedestrian Deck Dukuh Atas di Jakarta, Jumat (31/7). Foto: Sifa Maulida/kumparan

Pedestrian Deck Dukuh Atas dicanangkan jadi ikon baru Kota Jakarta. Proyek yang diresmikan pada Juni 2026 lalu kini memasuki masa tender kontraktor dan akan mulai proses konstruksi dalam waktu dekat.

Advisor Program Management Office Division PT MRT Jakarta, Agus Trihan, menyebut titik-titik tertentu Pedestrian Deck Dukuh atas akan memiliki lebar 7 meter. Sementara tingginya akan berkisar antara 4-6 meter.

“Agak variatif dia, dengan struktur baja. Biar dia lebih ringan sehingga kolomnya tidak terlalu besar, mudah-mudahan,” kata Agus di Jakarta, Jumat (31/7).

Desain Pedestrian Deck Dukuh Atas yang mencolok, bundar atau bulat menyerupai donat diakui Agus memiliki maksud dan filosofi sendiri. Katanya, desain ini selaras dengan ikon-ikon Jakarta sejak masa pemerintahan Sukarno yang juga banyak berbentuk lingkaran.

“Dia menggunakan simbolik ini sebagai pusat-pusat atau point gitu, lho. Jadi memang kita juga membuat deck ini bulat, untuk menghargai keselarasan desain yang sudah dibuat dari masa pendiri bangsa kita” jelas Agus.

Rancangan Pedestrian Deck Dukuh Atas. Foto: Dok. MRT Jakarta
Rancangan Pedestrian Deck Dukuh Atas. Foto: Dok. MRT Jakarta
Desain Bundar Pedestrian Deck Dukuh Atas Desain sisi barat. Foto: Dok. MRT

Pakar Tata Kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, mengamini hal tersebut. Dia merinci sudah ada beberapa ikon Jakarta yang membentuk lingkaran. Misalnya Patung Pemuda Bundaran Senayan, Simpang Susun Semanggi, Bundaran HI, dan juga Bundaran Patung Kuda dekat Monas.

Menurut Nirwono, desain melingkar Pedestrian Deck Dukuh Atas harus diartikan lebih dari sebuah kesinambungan desain. Pedestrian deck itu harus benar-benar berfungsi menyatukan berbagai moda transportasi dan ruang publik di sekitarnya.

“Tidak hanya sekadar mengulang bundaran secara kontinu, tapi dia juga harus mempertegas, dia mempersatukan integrasi dari seluruh transportasi publik yang ketemunya di Dukuh Atas,” jelas Nirwono.

Nirwono juga membahas efektivitas dari desain bundar yang disajikan MRT Jakarta. Katanya, Pedestrian Deck Dukuh Atas ini baru bisa dibilang efektif jika penumpang satu moda transportasi tidak harus keluar stasiun untuk berpindah ke moda lainnya.

“Begitu dia turun, maka penumpang tidak perlu keluar dari stasiun, tetapi dengan adanya jembatan dia berpindah ke stasiun berikutnya,” katanya.

Advisor Program Management Office Division PT MRT Jakarta, Agus Trihan dan TOD Planning Department Head PT MRT Jakarta, Sagita Devi, di Transport Hub Dukuh Atas, Kamis (30/7/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Pedestrian Deck Dukuh Atas ini merupakan proyek transit-oriented development (TOD) lainnya dari MRT. TOD Planning Department Head MRT Jakarta, Sagita Devi mengakui perlu adanya koordinasi dan kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan kawasan TOD yang efektif.

“Dalam pengelolaan kawasan TOD ini kita memang gak bisa bergerak sendiri, kita butuh kolaborasi dari semua stakeholders, dari pemprov, pemerintah pusat, juga dari operator transportasi publik lainnya sampai pemilik lahan dan privat,” tutup Sagita.