Kisah Sulistyowati Warga Surabaya Desil 6-10: Sakit dan Terimpit Biaya Hidup

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sulistyowati (48) warga Kedung Turi Gang 4, Kota Surabaya, yang masuk kategori desil 6-10, Rabu (7/10/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Sulistyowati (48) warga Kedung Turi Gang 4, Kota Surabaya, yang masuk kategori desil 6-10, Rabu (7/10/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Sulistyowati (48) kini hanya bisa duduk di kasurnya dengan kaki lurus. Kondisi kesehatannya yang membuat dirinya tidak bisa bekerja lagi dalam dua minggu terakhir.

Warga asli Blauran, Surabaya, ini kini tinggal di sebuah rumah kos berukuran 3x3 meter di kawasan Kedung Turi Gang 4, Surabaya, bersama kedua anak laki-lakinya.

Kehidupan yang serba pas-pasan membuat keluarga ini harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan biaya sewa tempat tinggal.

Selama lebih dari 10 tahun, Sulistyowati mengandalkan penghasilan sebagai pekerja di sebuah toko benang.

Dari pekerjaan tersebut, ia membiayai hidupnya sebagai orang tua tunggal, membayar sewa kos, hingga membiayai pendidikan kedua anaknya. Ia sendiri telah bercerai dengan suaminya sejak 2006.

"Mulai awal masuk kerja cuma dapat gaji Rp 1 juta per bulan. Tapi waktu itu harus membiayai dua anak sekolah, satu SMP dan satu lagi SMA swasta," ujar Sulistyowati saat ditemui di rumah kosnya, Rabu (7/10).

Masuk kategori desil 6-10

Sulistyowati (48) warga Kedung Turi Gang 4, Kota Surabaya, yang masuk kategori desil 6-10, Rabu (7/10/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Selama ini, Sulistyowati mengaku tidak pernah terdaftar sebagai penerima bantuan sosial (bansos) pemerintah secara rutin.

Dalam pendataan terbaru, namanya justru masuk dalam kategori desil 6 hingga 10. Desil 6-10 adalah kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan menengah hingga atas berdasarkan pemeringkatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN)

"Gak pernah dapat bantuan aku. Mulai anakku bayi sampai besar tidak pernah dapat. Pernah dulu dapat Rp 300 ribu sama Rp 600 ribu, tapi ya cuma berapa kali saja pas zaman BLT dulu," ungkapnya.

Faktor status tempat tinggal yang masih menyewa diduga menjadi salah satu kendala tidak tersentuhnya pendataan dari pihak RT maupun RW setempat.

"Gak pernah didata karena saya kos, tidak punya rumah sendiri. Padahal saya warga asli Surabaya. Dulu punya rumah warisan di Blauran, tapi setelah orang tua meninggal empat tahun lalu, saya memilih ngekos daripada bertengkar dengan saudara," ucapnya.

Kondisi ekonomi keluarga Sulistyowati kian berat setelah ia tidak lagi bisa bekerja sejak 22 September lalu akibat masalah kesehatan. Ia menderita hipertensi serta asam urat yang membuatnya sulit berjalan dan sering merasa pusing.

Sulistyowati (48) warga Kedung Turi Gang 4, Kota Surabaya, yang masuk kategori desil 6-10, Rabu (7/10/2026). Foto: Farusma Okta Verdian/kumparan

Kini, untuk memenuhi kebutuhan makan dan sewa kos, ia sepenuhnya bergantung pada pemberian sang anak yang bekerja di sebuah resto dan servis elektronik.

"Harapan saya cuma satu, pengin cepat sembuh biar bisa kerja lagi. Gak enak kalau cuma diam dan gak kerja," tutur Sulistyowati.

Sementara itu, kumparan berusaha menghubungi Kepala Dinas Sosial Surabaya, Antiek Sugiharti terkait status desil Sulistyowati, namun belum mendapatkan respons.