MBG Tetap Dibagikan di Hari Pertama Sekolah Libur karena Karhutla, Ini Alasannya

kumparanNEWSverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kepala BGN Sudaryono memberikan keterangan pers saat meresmikan Pusat Pelayanan Terpadu Badan Gizi Nasional (BGN) dan Media Center di kantor BGN Jakarta, Rabu (29/7/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Kepala BGN Sudaryono memberikan keterangan pers saat meresmikan Pusat Pelayanan Terpadu Badan Gizi Nasional (BGN) dan Media Center di kantor BGN Jakarta, Rabu (29/7/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan mekanisme penyaluran Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah yang sekolahnya diliburkan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Makanan MBG yang sudah telanjur dimasak tetap dibagikan pada hari pertama sekolah diliburkan, sedangkan penyaluran dihentikan pada hari berikutnya.

Kepala BGN, Sudaryono mengatakan, program MBG pada dasarnya disalurkan ke sekolah mengikuti jam operasional sekolah. Namun, dalam sejumlah kasus karhutla, dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sudah memasak makanan sebelum mendapat pemberitahuan bahwa sekolah diliburkan akibat kondisi kabut asap.

"Nah, saya tanggapi dulu yang Karhutla. Kan ada kulihat di berita, bahwa Karhutla terus kemudian ada orang SPPG begini. Karhutla itu kan, jadi MBG melayani mengirimkan MBG ke sekolah-sekolah di jam operasional sekolah. Nah, kasus Karhutla di beberapa daerah itu adalah dia sudah masak, baru kemudian diberi tahu bahwa karena Karhutla itu kemudian sekolahnya diliburkan," kata Sudaryono usai menghadiri rapat perbaikan tata kelola MBG di Gedung Kemenko Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Rabu (26/8).

Sudaryono menjelaskan makanan yang sudah telanjur dimasak tetap dibagikan melalui mekanisme yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Penyaluran tersebut dilakukan dengan berkoordinasi bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepala daerah, dan kepala sekolah.

"Oleh karenanya yang sudah dimasak itu kemudian tetap kita bagikan dengan mekanisme yang kemudian berkoordinasi dengan BPBD, apa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dengan kepala daerah, dengan kepala sekolah gitu. Kemudian diambil tindakan ya orang tuanya yang ngambil sendiri," ungkapnya.

Foto udara asap membumbung saat terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut Desa Rawasari, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Rabu (26/8/2026). Foto: Wahdi Septiawan/ANTARA FOTO

Dia bilang, makanan yang sudah terlanjur diproses sebelumnya memang tidak bisa begitu saja dihentikan karena bahan makanan telah dibeli dan sebagian sudah diolah. Ia mencontohkan bahan makanan sudah dicuci, dipotong, hingga sebagian telah dimasak sebelum informasi sekolah diliburkan diterima.

"Sehingga kami perjelas lagi bahwa yang dibagi itu adalah yang, kan dia sudah beli bahan makanannya kan di hari sebelumnya. Jadi sudah kemudian sudah dicuci, kolnya sudah dicacah, kemudian gulainya sudah dipotong, sebagian sudah dimasak. Karena sudah telanjur dibeli bahan makanannya atau diolah sebagian, dan kemudian berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, kepala daerah, dan pihak orang tua di lingkungan itu bagaimana mekanismenya. Maka kemudian diambil, ada yang di Kalteng, ada yang di Kalsel, ada yang di Kalimantan Barat termasuk ada yang di Sumatera," jelas Sudaryono.

Sudaryono menegaskan penyaluran MBG tidak dilanjutkan selama sekolah masih diliburkan. Hal itu juga berlaku ketika kegiatan belajar mengajar dialihkan menjadi pembelajaran secara daring.

"Jadi ini kita sudah memberikan edaran seperti itu di dapur-dapur. Sehingga pada saat dia libur sekolah, ya tidak dikasih, cuma hari pertama karena sudah telanjur masak," tutup Sudaryono.