Pesan Megawati saat Bertemu Ramos-Horta dan Para Peraih Nobel

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta berfoto bersama peraih Nobel usai pertemuan di Megawati Institute, Jakarta, Jumat (28/8/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta berfoto bersama peraih Nobel usai pertemuan di Megawati Institute, Jakarta, Jumat (28/8/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri menyambut kedatangan Presiden Timor-Leste Jose Ramos-Horta di Megawati Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/8).

Terlihat Puan Maharani dan Prananda Prabowo, serta Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, ikut mendampingi Mega menyambut kedatangan rombongan Ramos-Horta.

Saat memasuki area acara, Megawati dan Ramos-Horta terlihat bergandengan tangan. Keduanya kemudian berjalan bersama menuju lokasi pertemuan.

Megawati tampak mengenakan busana bernuansa cokelat bermotif batik, dilengkapi selendang merah yang dikalungkan di leher.

Sementara Ramos-Horta mengenakan kemeja batik bernuansa biru-putih dengan celana panjang berwarna gelap.

Kedatangan Ramos-Horta ke Indonesia dalam rangka agenda Luncheon and Discussion with Science for Development Summit Delegation.

Acara ini turut dihadiri sejumlah delegasi Science for Development Summit, termasuk 10 peraih Nobel dan empat penerima Turing Award.

Apa saja yang dibahas dalam pertemuan itu?

Singgung Ancaman Pemanasan Global di RI

Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (kiri) berbincang dengan Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta (kanan) usai pertemuan di Megawati Institute, Jakarta, Jumat (28/8/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Dalam pertemuan itu, Megawati menyoroti ancaman perubahan iklim dan pemanasan global. Megawati menilai dampak perubahan iklim semakin nyata sehingga perlu menjadi perhatian serius.

Ia mengatakan persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga berdampak terhadap kehidupan masyarakat.

“Perubahan iklim semakin nyata dampaknya. Sekarang ini kita betul-betul harus memfokuskan diri mengenai global warming,” kata Megawati.

Megawati turut menyinggung sejumlah fenomena yang terjadi di Indonesia, mulai dari gempa dan banjir hingga fenomena turunnya salju di wilayah Papua yang disebutnya sebagai anomali.

“Indonesia pada saat ini sedang berada di dalam sebuah kesedihan karena kami mengalami ada gempa, ada banjir, dan juga yang aneh di suatu tempat di Papua, turun salju,” ujarnya.

Menurut Megawati, perubahan iklim dan kerusakan ekologi telah memberikan dampak langsung terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat Indonesia.

“Bagi Indonesia, ini bukan persoalan yang abstrak. Perubahan iklim dan kerusakan ekologi berpengaruh langsung terhadap hutan, laut, pertanian, ketersediaan pangan, kesehatan, dan kehidupan jutaan rakyat,” katanya.

Megawati kemudian mencontohkan kondisi lapisan es di kawasan Grasberg, Papua. Dia menyebut kawasan yang sebelumnya dipenuhi salju tersebut kini mengalami pencairan.

“Di Indonesia ini ada sebuah keunikan. Kami punya gunung namanya Grasberg, itu tadinya penuh dengan salju. Tetapi sekarang makin meleleh,” ujar Megawati.

Soroti PBB Tak Bisa Selesaikan Perang

Presiden Timor Leste Jose Ramos-Horta dan Presiden RI ke-5 sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bersama sejumlah tamu undangan di Megawati Institute, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (28/8/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Megawati juga mempertanyakan peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam menyelesaikan berbagai konflik dan perang yang masih terjadi di dunia. Hal itu disampaikan saat berdiskusi dengan Ramos-Horta dan sejumlah penerima Nobel.

“Saya merasa sebuah kesedihan dengan adanya yang namanya perang karena akhirnya manusia lupa diri,” kata Megawati.

“Menurut saya perang itu mengapa tidak bisa diselesaikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa itu sebuah big question for me,” ujarnya.

Megawati mengatakan gagasan untuk memperbarui PBB telah lama disuarakan oleh ayahnya, Presiden pertama RI Sukarno. Menurutnya, struktur PBB saat ini dibentuk dalam konteks pasca-Perang Dunia II sehingga perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan dunia.

“Ayah saya ini tadi mungkin sudah menerima adalah orang yang selalu meminta untuk yang namanya PBB itu Perserikatan Bangsa-Bangsa itu harus mengubah diri karena itu dibuat ketika setelah Perang Dunia Kedua,” tutur Megawati.

Dia juga secara khusus menyoroti struktur Dewan Keamanan PBB yang menurutnya perlu diubah agar lebih merepresentasikan kondisi dunia saat ini.

“Saya juga sudah berulang kali meminta bahwa yang namanya Dewan Keamanan itu strukturnya sudah tidak boleh seperti apa yang ada sekarang ini,” katanya.

Kemajuan Iptek Jangan Jadi Alat Hegemoni Negara

Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta (kanan) mencium tangan Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (kedua kiri) usai pertemuan di Megawati Institute, Jakarta, Jumat (28/8/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Megawati juga menilai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) seharusnya diarahkan untuk kepentingan manusia, bukan menjadi alat hegemoni suatu negara.

Megawati menekankan pentingnya mempertemukan kemajuan ilmu pengetahuan dengan tanggung jawab politik dan kemanusiaan.

“Apakah kita masih kekurangan pengetahuan dan teknologi? Menurut saya sebenarnya sudah begitu banyak segala pengetahuan,” kata Megawati.

Menurutnya, tantangan saat ini bukan semata-mata soal keterbatasan pengetahuan dan teknologi, melainkan bagaimana kemajuan tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan manusia.

“Nah, makanya seperti tadi saya mengatakan mengenai AI, Artificial Intelligence, dan macam-macam yang sebetulnya harusnya dipergunakan untuk kepentingan manusia,” ujarnya.

Megawati kemudian mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan penguasaan data juga dapat digunakan sebagai instrumen kekuasaan antarnegara. Karena itu, dia meminta masyarakat bersikap kritis terhadap pemanfaatan teknologi.

“Kita harus bersikap kritis ketika teknologi dan data dijadikan alat hegemoni baru,” tutur Megawati.

Ramos-Horta Puji Megawati

Ramos-Horta memuji peran Megawati dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Dia mengatakan, Megawati dan keluarganya merupakan bagian dari pihak yang turut memperjuangkan demokrasi di Indonesia.

Ramos-Horta juga menyoroti posisi Megawati sebagai perempuan pertama yang terpilih menjadi presiden Indonesia.

“Presiden Megawati dan keluarganya mengalami berbagai kesulitan. Mereka adalah bagian dari orang-orang yang memperjuangkan demokrasi di negara ini,” kata Ramos-Horta.

“Beliau adalah perempuan pertama yang terpilih menjadi presiden di Indonesia,” lanjutnya.

Menurut Ramos-Horta, Megawati juga memiliki peran dalam mendukung reformasi demokrasi dan reformasi angkatan bersenjata di Indonesia.

“Secara pribadi beliau sangat bertanggung jawab dalam mendukung reformasi demokrasi. Reformasi angkatan bersenjata dan gerakan untuk demokrasi,” ujarnya.