Layla Majnun dan Bumi Manusia: Konstruksi Sosial dalam Pengalaman Cinta

Saya seorang Mahasiswa di Universitas Pamulang Dengan Program Studi Sastra Indonesia
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Ridwan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Layla Majnun dan Bumi Manusia adalah gambaran Konstruksi Sosial dalam Pengalaman Cinta .Cinta yang selalu dianggap sebagai sesuatu kekuatan besar dalam melawan segala hal, namun pada kenyataannya cinta selalu kalah dari sistem sosial. Kekalahan cinta tergambar cantik dari dua buku novel sastra yaitu Layla Majnun karya Nizami Ganjavi dan Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Dua
ini memotret bagaimana cinta tidak selalu menang, cinta kerap kali kalah meski individu dari masing masing memiliki cinta yang besar.
Meski keduanya dari ruang waktu dan budaya yang berbeda, namun keduanya memiliki hubungan kontekstual, kesamaan dalam melihat cinta yang kalah oleh sistem sosial. Layla Majnun dari Tradisi Timur Tengah, lalu Bumi Manusia lahir dari peristiwa panjang pada masa Kolonial di Indonesia. Kisah kisah yang ada didalamnya membuka mata dalam melihat aturan dimasyarakat melihat struktur kekuasaan.
Dalam novel Layla Majnun, Qays digambarkan sebagai pemuda yang tergila-gila oleh Layla, namun ia dikalahkan oleh aturan adat dan penolakan keluarga Layla. Lalu Qays dianggap Majnun, karena penderitaan kesepian yang dirasakannya, cinta tidak menyatukan keduanya, namun ia menjadi simbol bagaimana cinta tidak dibatasi rasionalitas, meski sistem adat menekannya.
Lalu dalam novel Bumi Manusia, kisah cinta dua manusia dengan latar kehidupan yang berbeda, Minke seorang pribumi Jawa yang kaku, dan Annelies seorang peranakan Indo-Belanda. Berbeda dengan Layla Majnun, yang dihadapi dengan sistem adat, Minke dihadapi dengan sistem hukum kolonial yang tidak memihak pada pribumi. Sistem politik yang hanya berpihak pada bangsa Eropa saat itu. Simbol cinta yang kuat, serta perlawanan yang sebaik-baiknya, dan sehormat-hormatnya.
Kedua tokoh memiliki kesamaan penderitaan dan kalah oleh sistem sosial, namun perbedaan sikap antara kedua tokoh menjadi menarik. Majnun yang mengasingkan diri, dan tetap mencoba untuk terus bertemu dengan Layla, baginya perlawanan adalah ketika tidak membatasi cinta itu sendiri. Lalu pada Minke, seorang muda yang memahami konstruksi sosial tanah airnya. Cinta adalah pengalaman politik juga baginya, melihat ketidak adilan yang terjadi pada sistem yang menindas. Kedua nya sama sama melawan, dengan pola dan cara pandang yang berbeda, kedua nya sama sama atas nama cinta, namun dengan arti yang berbeda beda.
Pada masa kini, masih dapat dirasakan dari potret kedua karya sastra tersebut, sistem yang dirasa masih sama. Meski kedua karya sastra itu terbilang cukup lama, kedua karya itu masih sangat relevan, karena sistem sosial belum benar benar baik. Hambatan tentang perbedaan ekonomi, budaya, dan lainnya, masyarakat masih memandang cara yang sama. Oleh karenanya, penulis berharap, memperkenalkan kedua karya sastra ini, agar masyarakat dapat melihat cara pandang baru dalam menyikapi perbedaan sistem sosial.
Pada akhirnya, Layla Majnun dan Bumi Manusia menciptakan cara pandang baru tentang bagaimana cinta akan menyikapi hambatan dan rintangan yang dihadapi. Cinta tidak pernah kalah, bagi pecinta hambatan itu menyuburkan, membakar, membesarkan perasaan cintanya.
https://kumparan.com/sejarah-dan-sosial/pengertian-dan-contoh-konstruksi-sosial-yang-mudah-dipahami-20KJVcYb36R
https://kumparan.com/melinda-nurhikmah/pentingnya-sastra-banding-bagi-studi-sastra-indonesia-25D4kaLQNFS
https://teewanjournal.com/index.php/juragan/article/view/2787
