Konten dari Pengguna

Perdebatan Semu antara Teori Mimesis Plato dan Kreasi Aristoteles

Muhammad Ridwan Tri Wibowo

Muhammad Ridwan Tri Wibowo

Mengelola penerbitan buku Untitled.Press. Aktif di komunitas musik The State of Sounds sebagai jurnalis dan content writer.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Ridwan Tri Wibowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Diskusi mahasiswa Foto: Dok. ITS
zoom-in-whitePerbesar
Diskusi mahasiswa Foto: Dok. ITS

Di awal semester dua, saya dan beberapa teman-teman sibuk mendebatkan karya sastra yang baik itu harus menganut teori mimesis Plato atau teori kreasi Aristoteles.

Perdebatan ini dimulai ketika dosen mata kuliah "Teori Sastra" kami menyampaikan materi kuliah di semester kedua. Ia sengaja memantik perdebatan dengan menanyakan, "Di antara kedua teori tersebut, menurut kalian mana yang akan menghasilkan karya sastra yang baik?" tanyanya.

Ketika beberapa teman saya sudah memilih, dosen tersebut menyuruh kami mengeluarkan argumen untuk mempertahankan pilihan kami masing-masing. Dan, akibatnya selesai kelas perdebatan ini tidak juga selesai hingga beberapa bulan kemudian. Entah berdebat di kedai kopi, di tempat wisata, atau di atas sepeda motor saat berbonceng dalam perjalanan menuju rumah.

Ilustrasi kedai kopi tempat kami berdebat via Pixabay (https://pixabay.com/id/photos/valentia-island-irlandia-toko-96757/)

Sebelum lanjut alangkah baik kalau kita menjabarkan pengertian teori mimesis dan teori kreasi terlebih dahulu. Mimesis adalah teori yang menganggap semua karya seni sebagai tiruan alam atau kehidupan. Kata ’mimesis’ dalam bahasa Yunani secara tersirat bermakna ’tiruan’.

Sedangkan menurut Aristoteles dalam teori kreasinya, menyebutkan bahwa seniman melakukan mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan sebuah proses yang kreatif. Sambil bertitik pangkal pada kenyataan, seniman menciptakan kembali kenyataan.

Menurut A. Teeuw dalam buku Sastra dan Ilmu Sastra, pertentangan antara mimesis dan kreasi adalah pertentangan semu. Hubungan seni dan kenyataan bukanlah hubungan searah, sebelah, ataupun sederhana.

Hubungan itu merupakan interaksi yang kompleks dan tidak langsung. Hubungan itu ditentukan oleh tiga macam kelir atau warna; kelir konvensi bahasa, kelir konvensi sosio-budaya, dan kelir konvensi sastra yang menyaring dan menentukan kesan kita dan mengarahkan pengamatan dan penafsiran kita terhadap kenyataan

Mengutip dari buku Realisme Sosialis Georg Lukacs karya Ibe Karyanto, Georg Lukacs mengatakan, ”Seni bagi Lukacs memang mimesis, tapi bukan sekadar meniru. Seni pada dasarnya merupakan refleksi dari makna suatu realitas objektif. Karena itu, menurut Lukacs keberhasilan seorang realis bergantung pada bagaimana ia sebagai penulis kreatif menangkap kebenaran makna dari fenomena yang ia gambarkan.”

Aristoteles Merumuskan Kembali Teori Mimesis Plato

Plato via Pixabay (https://pixabay.com/id/illustrations/ai-dihasilkan-plato-patung-8102406/)

Plato sendiri menuliskan peran sastra dalam masyarakat di bukunya yang berjudul Republik di bab II dan X. Sebenarnya buku ini ditulis bukan untuk mempermasalahkan sastra, tapi untuk menggambarkan masyarakat yang diidam-idamkan olehnya. Dalam buku ini, ia menggunakan kata penyair karena pada zaman itu semua bentuk sastra masih ditulis dalam puisi.

Ia mengatakan segala sesuatu yang ada di dunia ini sebenarnya hanyalah tiruan dari dari kenyataan tertinggi yang berada dalam dunia ide—atau yang biasa dikenal dengan sebutan mimesis. Contohya; meja yang ada di dunia ini adalah tiruan dari meja yang berada dalam dunia gagasan.

Menurutnya, seorang tukang tukang malahan dapat dinilai tinggi daripada penyair. Sebab tukang yang baik pada prinsipnya lebih efesien meniru ide yang mutlak dalam benda-benda yang diciptakannya daripada penyair.

Penyair yang menggambarkan meja tidak dapat langsung membuat tiruan meja yang berada dalam dunia gagasan; ia hanya bisa meniru meja yang ada di dunia nyata ini. Dengan kata lain, ia mengatakan bahwa puisi membawa manusia semakin jauh dari kenyataan tertinggi.

Menurutnya sastra menyuburkan perasaan dan mengeringkan akal sehat. Oleh karena itu, sastra tidak cocok bagi masyarakat berpikir sehat yang menghuni negeri idamannya. Berdasarkan logika ini, sastra harus dijauhkan dari masyarakat. Sastrawan juga harus dijauhkan masyarakat sebab tidak memberikan manfaat apa pun kepada masyarakat.

Namun, di bagian lain Plato mengatakan pentingnya sastra bagi pendidikan anak. Pada zaman itu, puisi memang mempunyai peranan penting dalam pendidikan. Plato beranggapan bahwa cerita-cerita yang beredar di masyarakat harus di sensor terlebih dahulu sebelum disampaikan kepada anak-anak. Anak sebaiknya hanya menerima cerita yang tidak mengandung hal-hal yang mungkin bisa menyesatkan. Kisah pertempuran atau pertengkran antardewa, misalnya, sebaiknya disimpan saja untuk orang tua.

Meskipun cerita tersebut bersifat alegoris. Ia beranggapan bahwa anak belum bisa membedakan yang alegoris atau bukan. Plato berkesimpulan karya kisah klasik, termasuk Homerus harus ditarik dalam peredaran.

Dari penjelasannya, terlihat jelas kalau Plato memandang peran sastra dalam masyarakat didasarkan pada kegunaan praktis saja. Anehnya pandangan ini justru diungkapkan oleh seorang filsuf yang mencetuskan filsafat idealisme; bahwa kenyataan tertinggi tidak berada di dunia ini, tetapi di dunia ide. Menurut Rene Wellek dan Austin Waren dalam buku Teori Kesusastraan yang membedakan sastra dengan bukan sastra, salah satunya adalah tujuan tidak praktis.

Mengutip A, Teeuw dalam buku Sastra dan Ilmu Sastra, mimesis sebagai sarana artistik tidak mungkin mengacu langsung pada nilai-nilai yang ideal, karena seni terpisah dari tataran Ada yang sungguh-sungguh oleh derajat dunia kenyataan yang fenomenal. Seni hanya dapat meniru dan membayangkan hal-hal yang ada dalam kenyataan yang tampak, berdiri di bawah kenyataan itu sendiri yang hierarki.

Aristoteles via Pixabay (https://pixabay.com/id/vectors/filsuf-klasik-aristoteles-6801770/)

Kemudian dalam buku Puitika, Aristoteles menjelaskan penciptaan puisi oleh dua hal, yaitu:

Pertama, Insting untuk merepresentasikan sesuatu sesuatu yang sudah melekat pada diri manusia sejak kecil. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya, memiliki kecenderungan representasi yang paling tinggi dan dia mendapatkan pelajaran-pelajaran pertamanya melalui representasi.

Kedua, setiap orang senang terhadap karya-karya representasi. Apa yang terjadi dalam pengalaman aktual adalah buktinya: kita senang melihat gambar-gambar detail sesuatu sedangkan kita sendiri merasa tidak senang melihat sesuatu itu dalam bentuk aslinya, misalnya bentuk-bentuk hewan liar yang paling hina bahkan saat di sudah mati.

Contoh; meskipun kita mengambil obyek dari dunia nyata, kita juga bisa merepresentasikan karya seni/sastra ke dunia baru karena karya seni/sastra mengadung fiksionalitas atau rekaan via Pixabay (https://pixabay.com/id/photos/sosok-miniatur-figur-kereta-model-1745718/)

Kalau kita melihat lagi jauh ke belakang, sudah banyak penyair yang merepresentasikan tindakan manusia dalam puisi 1) lebih baik dari kita, 2) Lebih buruk dari kita, dan 3) sama dengan kita.

Penyair epik abad ke-8 SM, Homer merepresentasikan jenis-jenis manusia yang lebih baik. Lalu penyair abad ke-5 SM yang parodi-parodinya memenangkan beberapa perlombaan di Athena, Hegemon yang merepresentasikan manusia dengan lebih buruk. Kemudian penyair tragis abad ke-4 SM di Athena, Cleophon yang menggambarkan jenis-jenis manusia sama adanya seperti kita.

Aristoteles juga bilang puisi lebih filosofis dari sejarah, karena sejarah berkaitan dengan hal-hal yang terjadi, sedangkan puisi berkaitan dengan hal-hal yang bisa terjadi.

Barulah dalam Tractatus Coislinianus (Uraian Ringkas Puitika II Aristoteles), dibakukan jenis-jenis puisi yang tidak representatif dan puisi yang representatif.

Puisi tidak representatif dibagi menjadi (a) historis dan (b) edukatif—yang dibagi lagi menjadi (i) instruktif dan (ii) teoritis. Sedangkan jenis-jenis puisi representatif adalah (a) naratif; puisi dan prosa dan (b) dramatik, yaitu dimainkan. Lalu dibagi lagi menjadi (i) komedi, dan (ii) tragedi, (iii) mime, dan (iv) drama-drama satir.

-----------------------------------------------------------------

Co-Writer: Muhammad Fariz Akbar, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.