Konten dari Pengguna

Keteguhan Hamidah: Suara Perempuan dalam Kehilangan Mestika

Muhammad Yusran Andika

Muhammad Yusran Andika

Saya mahasiswa yang berkuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Yusran Andika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Orang dengan Kemeja Lengan Panjang Hitam. Sumber gambar: https://www.pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Orang dengan Kemeja Lengan Panjang Hitam. Sumber gambar: https://www.pexels.com

Sebagai pembaca, saya merasa Kehilangan Mestika karya Fatimah Hasan Delais adalah sebuah karya yang menyentuh, karena menghadirkan sosok perempuan yang kuat, cerdas, dan berani berpikir kritis—Hamidah. Di tengah keterbatasan peran perempuan saat itu, Hamidah muncul sebagai tokoh yang tak hanya patuh, tapi juga berani mempertanyakan dan menentang arus. Kisahnya memberikan kesan mendalam bahwa novel ini tidak sekadar menjadi bacaan, tetapi juga bentuk perlawanan halus terhadap ketidaksetaraan yang masih membelenggu banyak perempuan.

Hamidah sangat menginspirasi saya karena perjuangannya terasa begitu nyata. Ia tidak digambarkan sebagai tokoh yang sempurna, dan justru di situlah letak kekuatannya. Pergolakan batinnya, rasa ragu, kesedihan, dan harapan yang ia rasakan seolah mewakili banyak perempuan yang diam-diam juga mengalami hal serupa. Membaca kisahnya membuat saya merasa ditemani dan dipahami, karena ternyata suara hati seorang gadis muda bisa begitu dalam dan bermakna.

Hal yang paling menyentuh bagi saya adalah keteguhan Hamidah. Ia sering kali tidak dianggap serius hanya karena ia perempuan atau masih muda, tapi ia tidak menyerah. Ia tetap percaya pada pikirannya sendiri, pada nilai yang ia pegang. Sikap seperti itu tidak mudah dimiliki, bahkan oleh orang dewasa sekalipun. Saya jadi merenung bahwa keberanian bukan selalu tentang hal besar, tapi kadang cukup dengan bertahan pada pendirian sendiri di tengah keraguan orang lain.

Gaya bercerita Fatimah Hasan Delais menurut saya sederhana tapi mengena. Ceritanya tidak berputar-putar, tapi tetap penuh makna. Saya merasa seperti diajak menyusuri hidup Hamidah secara perlahan, menyelami perasaan dan pemikiran-pemikirannya. Latar cerita yang ditampilkan juga terasa akrab dan nyata, seperti gambaran kehidupan yang pernah saya dengar dari cerita nenek saya dulu.

Simbol “mestika” dalam cerita ini juga meninggalkan kesan tersendiri. Benda itu seolah bukan sekadar barang, tapi semacam harapan atau kebahagiaan yang direnggut. Kehilangan mestika bagi saya adalah simbol kehilangan arah atau makna hidup. Tapi lewat perjalanan Hamidah, saya belajar bahwa kehilangan bukan akhir, justru bisa jadi awal dari pencarian yang lebih bermakna.

Saya juga menyukai bagaimana tokoh-tokoh lain hadir dalam cerita ini. Mereka bukan hanya pelengkap, tapi ikut membentuk siapa Hamidah menjadi. Ada yang mendukung, ada yang menentang, dan semua itu terasa alami. Hubungan antar tokohnya tidak dibuat-buat, dan justru dari sanalah konflik dan pertumbuhan karakter Hamidah terasa begitu kuat dan jujur.

Dari novel ini, saya kembali diingatkan betapa pentingnya pendidikan dan kebebasan berpikir, terutama untuk perempuan. Hamidah adalah gambaran bahwa ketika perempuan diberi ruang untuk berpikir dan belajar, mereka bisa menjadi pribadi yang luar biasa. Rasanya saya ingin setiap anak perempuan bisa membaca kisah ini dan percaya bahwa suara mereka juga berarti.

Secara keseluruhan, *Kehilangan Mestika* bukan hanya sekadar novel lama yang layak dibaca, tapi sebuah warisan pemikiran yang masih relevan sampai sekarang. Hamidah mengajarkan saya untuk berani menjadi diri sendiri, untuk tidak mudah tunduk pada tekanan, dan untuk selalu percaya bahwa perjuangan diri kita pun punya makna. Ini adalah salah satu karya sastra Indonesia yang patut dipelihara dan dibagikan dari generasi ke generasi.