Kumparan Logo

Kenapa Masyarakat Pilih Belanja Kebutuhan secara Eceran? Ekonom Ungkap Alasannya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak belanja di warung. Foto: Bastian AS/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak belanja di warung. Foto: Bastian AS/Shutterstock

Fenomena masyarakat yang memilih belanja barang kebutuhan sehari-hari dalam kemasan sachet atau secara eceran tidak selalu berkaitan dengan rendahnya pendapatan.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan rumah tangga dengan pendapatan tidak rutin atau bergantung pada upah harian cenderung mempertimbangkan jumlah uang yang harus dikeluarkan saat itu dibandingkan harga barang per satuan.

“Bagi rumah tangga yang pendapatannya tidak rutin atau bergantung pada upah harian, mengeluarkan Rp 50 ribu sekaligus untuk sampo atau membeli minyak goreng dalam ukuran besar bisa terasa berat karena uang tersebut mungkin masih dibutuhkan untuk makan, transportasi, atau kebutuhan mendadak,” kata Yusuf kepada kumparan, Minggu (13/9).

Menurut Yusuf, pola pembelian itu memang bisa menjadi salah satu gambaran tekanan terhadap daya beli masyarakat. Namun, fenomena beli barang sachetan/eceran tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya indikator untuk mengukur kondisi daya beli.

“Kalau masyarakat yang sebelumnya terbiasa membeli kemasan besar mulai beralih ke sachet atau ketengan, itu bisa menunjukkan bahwa tekanan keuangan mulai dirasakan lebih luas,” ujar dia.

Yusuf melanjutkan, membeli barang secara eceran juga tak selalu menunjukkan seseorang memiliki pendapatan sangat rendah. Rumah tangga dengan pendapatan bulanan yang cukup tetap bisa memilih kemasan kecil apabila pemasukan yang diterima tidak rutin.

Ilustrasi warung sembako Foto: Dok. Istimewa

Meski membantu mengurangi pengeluaran dalam jangka pendek, pembelian dalam kemasan kecil memiliki konsekuensi terhadap pengeluaran rumah tangga dalam jangka panjang. Secara agregat, harga per unit barang dalam kemasan kecil umumnya lebih mahal dibandingkan kemasan besar.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti mengatakan masyarakat memilih kemasan kecil karena harus membagi pendapatan untuk berbagai kebutuhan.

“Mereka membeli kemasan kecil (meski in total harganya lebih mahal) karena mereka harus membagi pendapatannya untuk dialokasikan ke berbagai kebutuhannya,” ucap Esther.

Menurut Esther, sekitar 50-70 persen pendapatan masyarakat RI dialokasikan untuk kebutuhan makanan, minuman, dan transportasi.

Dia menjelaskan, dalam teori ekonomi ada Hukum Engel yang menggambarkan hubungan antara tingkat pendapatan dan porsi pengeluaran untuk makanan.

“Semakin kecil pendapatan seseorang atau sebuah rumah tangga, maka semakin besar persentase yang dipakai untuk membeli makanan. Sebaliknya, jika pendapatan naik, porsi untuk makanan akan turun,” tutur Esther.

instagram embed