Melampaui Nostalgia: Apakah Lagu Sheila On 7 Masih Relevan bagi Generasi Z?
Tulisan dari Mohamad Hilman Rachman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sheila on 7 adalah grup musik pop asal Yogyakarta yang terbentuk pada tahun 1996. Formasi awalnya terdiri dari Duta (vokal), Eross Candra (gitar), Adam (bass), Anton (gitar), dan Brian (drum). Nama “Sheila” diambil dari nama seorang pelanggan toko kaset tempat mereka kerap berlatih, sementara angka “7” merujuk pada tanggal lahir salah satu personelnya. Mereka mulai dikenal luas lewat album debut self-titled pada 1999 yang melahirkan lagu-lagu hits seperti “Dan”, “Kisah Klasik untuk Masa Depan”, dan “Seberapa Pantas”. Album tersebut terjual jutaan kopi dan menjadi salah satu penjualan terbaik dalam sejarah industri musik Indonesia.
Ciri khas Sheila on 7 terletak pada lirik yang sederhana namun menyentuh, melodi yang mudah diingat, serta aransemen pop yang hangat dan akrab di telinga. Lagu-lagu mereka kerap menggambarkan cinta, persahabatan, dan perjalanan hidup anak muda, sehingga terasa dekat dengan berbagai generasi. Hingga kini, Sheila on 7 tetap eksis di industri musik tanah air dengan basis penggemar setia yang dikenal sebagai Sheila Gank, serta terus mengisi panggung konser dan merilis karya baru yang membuktikan konsistensi mereka selama lebih dari dua dekade.
Generasi Z saat ini mendominasi pengunjung konser Sheila On 7, baik itu festival musik, pentas seni SMA, dan bahkan konser tunggal yang diadakan langsung oleh Sheila On 7. Generasi Z yang akrab disebut GenZ semakin terbuka untuk mendengarkan musik Indonesia era 2000-an yang terbukti dengan munculnya kembali berbagai musik yang sempat booming pada tahun 2000 - 2010 kini muncul di berbagai platform seperti Tiktok, Instagram, dll. Algoritma inilah yang semakin membuat banyak GenZ untuk kepo terhadap genre musik Indonesia era 2000's yang dapat dibilang berbeda dengan mereka yang hidup di era musik saat ini.
Rasa penasaran itu pun membuat banyak anak muda saat ini untuk mengulik ribuan lagu Indonesia era 2000-an, salah satunya lagu dari Sheila On 7. Band tersebut menjadi semakin terkenal di anak muda saat ini, karena algoritma media sosial yang membuat band tersebut semakin sering masuk halaman beranda mereka saat mereka membuka media sosial. Selain itu, pada saat mereka kecil orang tua merekapun sering kali mendengarkan musik Sheila On 7 sehingga sang anak menjadi flashback ketika mendengarkan Sheila On 7.
Lagu dari Sheila On 7 juga masuk ke dalam berbagai situasi yang terjadi pada saat umur seseorang difase remaja menuju dewasa bahkan tak jarang lagu inipun semakin relevan di umur dewasa hingga masa tua. Situasi yang dapat digambarkan dari lagu Sheila On 7 seperti tentang persahabatan, menggambarkan cinta, dan perjalanan hidup anak muda. Seperti lagu pada judul " Memori Baik " yang merupakan salah satu lagu terbaru Sheila On 7 yang berkolaborasi dengan anak perempuannya yaitu Aishameglio Duta Chiara.
Melangkah dengan pilihan yang kau punya, Kami disini kirim rindu yang sama, Tak mudah, Karena tak mudah jalannya
Dari sepenggal lirik diatas banyak GenZ merasa relevan dengan situasi pada lirik lagu tersebut, difase lulus kuliah, merantau, mengejar karier, atau terpaksa pisah jalan sama orang-orang yang dulu sempat dekat. Lirik di lagu tersebut pun pas karena tidak menjual drama berlebihan, tetapi jujur soal rasa yang paling sering dialami di usia tersebut yaitu sadar kalau hidup harus tetap maju tetapi hati masih ketinggalan di belakang.
Selain dari lagu "Memori Baik" masih banyak lagi lagu yang dipersembahkan oleh Sheila On 7 untuk pendengar setianya, seperti "Film Favorit", "Tunggu Aku Di Jakarta", "Anugerah Terindah Yang Pernah Kumiliki", "Itu Aku", "Terlalu Singkat", "Bila Kau Tak Disampingku", "Pemuja Rahasia", "J.A.P" dan lain-nya yang menggambarkan rasa cinta anak muda. Sehingga anak muda saat ini merasakan bahwa lagu yang diciptakan oleh Sheila On 7 meskipun sudah beda generasi tetap merasa bahwa lagu tersebut masih sangat relevan di saat ini, meskipun pada saat lagu tersebut rilis masih ada GenZ yang belum lahir tetapi sudah relevan dengan lirik yang ada di setiap lagu Sheila On 7 saat ini.
Pada akhirnya, relevansi sebuah lagu tidak diukur dari seberapa lama ia dirilis, melainkan dari seberapa jujur ia berbicara tentang perasaan manusia. Generasi Z mungkin tumbuh dengan algoritma, playlist instan, dan tren musik yang berganti dalam hitungan hari, tetapi persoalan yang mereka hadapi tidak benar-benar baru yaitu kehilangan, kerinduan, keraguan, dan keberanian untuk melangkah meski jalannya tidak mudah. Di titik itulah lagu-lagu Sheila on 7 menemukan tempatnya. Ia tidak lagi sekadar pengantar nostalgia bagi generasi yang pernah mendengarnya lewat kaset dan radio, melainkan menjadi bahasa yang tetap bisa dipinjam siapa pun untuk menamai perasaannya sendiri. Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah Sheila on 7 masih relevan, tetapi apakah kita masih mau mendengarkan dengan jujur. Selama rindu, perpisahan, dan keberanian untuk melangkah masih menjadi bagian dari hidup anak muda, selama itu pula lagu-lagu mereka akan terus punya rumah di telinga generasi mana pun.

